Sebuah pertanyaan besar menggantung di benak siapa pun yang peduli pada masa depan pendidikan Islam di Indonesia: sudahkah Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) kita benar-benar siap menjadi tujuan, bukan sekadar persinggahan, bagi generasi terbaik bangsa?
Pertanyaan itu semakin tajam setelah saya kembali dari Tiongkok. Dalam rangkaian Program Pendidikan Singkat Luar Negeri (SSLN) Program Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXVI Tahun 2025 Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI), saya dan rombongan berkesempatan menyaksikan langsung bagaimana sebuah negara dengan populasi 1,4 miliar jiwa berhasil mengubah sistem pendidikannya menjadi mesin penghasil SDM unggul kelas dunia — bukan dengan cara instan, melainkan dengan cara yang paling sederhana namun paling sulit dilakukan: konsistensi.
Tulisan ini merupakan kelanjutan dari opini saya sebelumnya yang berjudul “PTKI Unggulan dan Ikhtiar Melanjutkan Estafet Keunggulan dari Sekolah”. Jika tulisan terdahulu menyoroti urgensi PTKI untuk menjadi penerus estafet keunggulan dari sekolah-sekolah unggulan yang kini tengah dibangun pemerintah, maka tulisan ini ingin menjawab pertanyaan berikutnya: dari mana kita harus belajar, dan apa yang konkret harus dilakukan? Jawabannya, setidaknya sebagian besarnya, ada di Tiongkok.
Kunjungan ke SenseTime (perusahaan kecerdasan buatan yang kini menjadi salah satu yang terbesar di dunia) adalah momen yang paling membekas. Di sana, saya menyaksikan bagaimana hasil riset tidak dibiarkan mengendap di jurnal akademik. Ia ditransformasi menjadi produk, layanan, dan solusi nyata yang kembali masuk ke dalam sistem pendidikan sebagai bahan ajar, platform pembelajaran, hingga alat asesmen berbasis AI. Universitas dan industri tidak berjalan di jalur yang berbeda, mereka bergerak dalam satu ekosistem yang sengaja dirancang untuk saling mengisi.
Di Huawei, saya melihat wajah lain dari hal yang sama. Raksasa teknologi ini tidak hanya memproduksi perangkat, namun juga aktif terlibat dalam pengembangan kurikulum, pelatihan tenaga pengajar, dan pembangunan laboratorium di berbagai universitas mitra. Ini bukan sekadar program CSR. Ini adalah strategi jangka panjang sebuah korporasi yang sadar bahwa kualitas SDM adalah satu-satunya jaminan keberlanjutan inovasinya.
Sementara di Beifang Automotive Education, saya mendapati sesuatu yang bahkan lebih mengejutkan. Sebuah institusi pendidikan vokasi yang mampu menghasilkan lulusan yang langsung diserap industri otomotif terkemuka. Bukan karena kurikulumnya sekadar mengikuti kebutuhan pasar, tetapi karena industri itu sendiri ikut merancang kurikulumnya. Link and match bukan jargon di sini. Ia adalah cara kerja sehari-hari.
Semua yang saya saksikan itu bermuara pada satu kerangka kebijakan: “Education Modernization 2035”. Dokumen ini bukan sekadar rencana pembangunan pendidikan biasa, namun ini adalah kontrak sosial antara negara dan rakyatnya, bahwa investasi pada manusia adalah investasi paling strategis yang tidak boleh ditawar. Hasilnya sudah terlihat: pada 2023, Tiongkok memimpin dunia dalam publikasi artikel AI dengan kontribusi 23,2 persen dari seluruh publikasi AI global. Pada 2022, universitas-universitas Tiongkok menghasilkan lebih dari 50.970 doktor STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), melampaui Amerika Serikat yang hanya menghasilkan sekitar 33.820 doktor STEM di tahun yang sama.
Yang lebih penting dari angka-angka itu adalah cara Tiongkok memperlakukan guru dan dosen. Tunjangan pendidik dinaikkan hingga 70 persen. Guru tidak dipandang sekadar pelaksana kurikulum, melainkan sebagai aktor inovasi yang menentukan kualitas generasi berikutnya. Ini adalah pergeseran paradigma yang sangat mendasar, dan sangat relevan bagi PTKI yang hingga kini masih bergulat dengan persoalan kesejahteraan dan pengembangan profesional tenaga pengajarnya.
Perlakuan tiongkok terhadap guru dan dosen ini merupakan hal yang krusial. Berdasarkan bonus demografi Indonesia sedang berjalan, data menunjukkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia Indonesia tahun 2024 mencapai 75,02, meningkat dari tahun sebelumnya. Namun angka ini belum cukup untuk bicara tentang keunggulan global. Rata-rata lama sekolah masih berada di kisaran 9 tahun. Kesenjangan kualitas SDM antarwilayah masih sangat lebar. Dan yang paling kritis: integrasi STEM dan AI dalam sistem pendidikan kita (termasuk di PTKI) masih bersifat parsial, sporadis, dan belum memiliki peta jalan nasional yang mengikat.
Di sinilah PTKI memiliki peluang sekaligus tanggung jawab yang luar biasa besar. Dengan jaringan yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, dengan basis komunitas yang mengakar kuat di masyarakat, dan dengan tradisi keilmuan yang kaya, PTKI sesungguhnya memiliki infrastruktur sosial yang tidak dimiliki oleh jenis perguruan tinggi mana pun.
Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengisi infrastruktur sosial itu dengan konten yang relevan dengan tantangan zaman, termasuk STEM, literasi digital, kecerdasan buatan, dan kompetensi abad ke-21, tanpa harus menanggalkan kedalaman nilai-nilai keislaman yang menjadi jiwanya.
Tiongkok mengajarkan bahwa modernisasi pendidikan dan penguatan karakter bangsa bukan dua hal yang saling bertentangan. Prinsip ”fostering virtue through education”, artinya yakni “membangun kebajikan melalui pendidikan”, hal ini justru menjadi fondasi dari seluruh agenda modernisasi mereka. Bagi PTKI, prinsip yang setara sudah ada sejak lama dalam tradisi Islam: “tafaqquh fi al-din” yang tidak pernah memisahkan antara penguasaan ilmu dan pembentukan akhlak.
Transformasi PTKI menuju Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri Berbadan Hukum (PTKN-BH) yang sesungguhnya bukan hanya soal perubahan status kelembagaan. Ia adalah soal apakah kita berani merancang peta jalan yang mengikat, yang mengintegrasikan riset dengan industri, yang menjadikan dosen sebagai aktor inovasi, yang membangun ekosistem talenta dari hulu ke hilir, dan yang memastikan setiap lulusan PTKI membawa bekal yang benar-benar dibutuhkan oleh Indonesia Emas 2045.
Tiongkok tidak menunggu kondisi sempurna untuk memulai. Mereka memulai dengan visi yang jelas, lalu membangun konsistensi di atasnya selama puluhan tahun. Kita pun tidak perlu menunggu. Yang kita butuhkan bukan kondisi yang sempurna, yang kita butuhkan adalah keputusan untuk mulai, dan komitmen untuk tidak berhenti. (*)
