Penjaga Dua Masjid Suci, Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud, kembali menunjukkan komitmen spiritualnya dengan mengundang 1.000 jemaah dari berbagai penjuru dunia. Mereka akan difasilitasi penuh dalam program tahunan “Haji dan Umrah Tamu Raja Salman” untuk tahun 1448 Hijriah (2026 Masehi).
Dilansir dari kantor berita resmi Arab Saudi, Saudi Press Agency (SPA), seluruh biaya akomodasi, transportasi, dan perjalanan ibadah para tamu undangan akan ditanggung langsung oleh sang raja. Program ini merupakan bentuk nyata perhatian Kerajaan Arab Saudi dalam memberikan kemudahan bagi umat Islam global untuk beribadah di Tanah Suci.
Program yang diinisiasi oleh Kementerian Urusan Islam, Dakwah, dan Bimbingan Arab Saudi ini akan dilaksanakan dalam empat fase sepanjang tahun 1448 H.
Pada kelompok pertama, kerajaan akan menyambut 250 jemaah umrah yang berasal dari 16 negara di kawasan Asia. Negara-negara tersebut meliputi:
- Asia Tenggara: Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Kamboja, Vietnam, Myanmar, Laos, dan Timor Leste.
- Asia Timur & Tengah: China, Jepang, Korea Selatan, Hong Kong, Taiwan, dan Mongolia.
Program Tamu Raja Salman telah berjalan selama lebih dari dua dekade. Hingga saat ini, program tersebut telah memberikan kesempatan kepada puluhan ribu tokoh masyarakat, ulama, akademisi, dan Muslim berprestasi dari ratusan negara untuk menunaikan ibadah haji dan umrah secara gratis.
Simbol Diplomasi dan Persaudaraan Islam
Menteri Urusan Islam sekaligus Pengawas Umum Program Tamu Raja, Syekh Dr. Abdullatif Al Alsheikh, menyampaikan apresiasi mendalam kepada Raja Salman dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MbS). Ia menegaskan bahwa inisiatif ini mencerminkan dedikasi tertinggi kepemimpinan Arab Saudi dalam melayani umat Islam.
“Inisiatif ini bukan sekadar perjalanan ibadah, melainkan dedikasi kepemimpinan Arab Saudi untuk memperkuat ikatan persaudaraan global. Ini adalah misi kemanusiaan dan keagamaan untuk membangun jembatan komunikasi dengan para ulama, tokoh agama, serta figur berpengaruh di seluruh dunia,” ujar Al Alsheikh.
Melalui program ini, Arab Saudi kembali menegaskan perannya dalam diplomasi keagamaan. Langkah ini diharapkan mampu mempererat hubungan antarnegara Muslim lewat jalur spiritual, solidaritas, dan kerja sama internasional. (*/tim)
