Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Asep Saepudin Jahar, PhD menegaskan bahwa Indonesia perlu belajar dari Iran dalam membangun kemandirian dan kemajuan teknologi. Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum sarasehan dan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pengelolaan pondok pesantren se-Indonesia yang digelar di Aula Diorama Kampus I UIN Jakarta, Selasa (21/04/2026).
Dalam sambutannya, Asep menyoroti bahwa meskipun Iran menghadapi embargo ekonomi selama puluhan tahun dan konflik geopolitik dengan negara-negara seperti Amerika Serikat, negara tersebut tetap mampu berkembang dan mandiri dalam bidang teknologi.
“Memang ada isu Syi’ah dan Sunni sebagai dinamika internal, tetapi dalam hal kemajuan teknologi dan kemandirian, kita patut merujuk Iran sebagai negara tangguh di dunia,” ujarnya.
Ia juga membandingkan perjalanan pembangunan Indonesia dengan negara lain, seperti China. Menurutnya, pada dekade 1960-an Indonesia sempat berada pada posisi yang relatif lebih baik, namun kini justru tertinggal jauh. “Negara kita seperti poco-poco, maju sebentar lalu mundur lagi. Ini yang harus kita refleksikan bersama,” lanjutnya.
Forum sarasehan yang mengangkat tema “Strategi dan Tantangan Pendidikan & Pengembangan SDM Insani di Pesantren” tersebut menjadi ruang refleksi bagi para pemangku kepentingan pesantren. Asep menegaskan bahwa UIN Jakarta dan pesantren memiliki tanggung jawab bersama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. “UIN ini milik pesantren, dan pesantren punya tanggung jawab untuk saling membesarkan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengajak seluruh elemen pesantren untuk meninggalkan sekat-sekat perbedaan, baik yang berbasis mazhab, organisasi, maupun pilihan politik. Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci dalam menghadapi tantangan global.
“Mari kita hilangkan ego kelompok, mazhab, dan ormas. Kita harus bersatu demi masa depan generasi bangsa,” ujar Asep.
Kegiatan ini dihadiri ratusan pimpinan pondok pesantren dari seluruh Indonesia. Turut hadir Ketua Lembaga Pengembangan Pondok Pesantren PP Muhammadiyah, Masyhuri, serta Ketua Jaringan Organisasi Alumni PM Gontor, Anang Malik. Selain itu, hadir pula Tata Pengasih dari Kuningan yang juga menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Pengasuh Pesantren Indonesia.
Dalam forum tersebut, turut disampaikan pentingnya penguatan kaderisasi pesantren melalui empat pilar utama, termasuk aspek genealogis serta jejaring alumni (mu’aqqot dan mu’abbad). Para peserta menekankan perlunya kolaborasi lintas lembaga untuk memperkuat ekosistem pendidikan pesantren di Indonesia.
Sementara itu, Mudir Muhammadiyah Boarding School Ki Bagus Hadikusuma, Nur Achmad, berharap forum ini menjadi awal dari kolaborasi berkelanjutan antar pesantren dan lembaga pendidikan Islam.
“Kami berharap sinergi terus terbangun dan saling menguatkan kelembagaan baik Kampus Maupun Pesantren,” ujarnya. (m roissudin)
