Beragama ketika bergaul dengan komunitas agama, dan menjual agamanya ketika ada pihak-pihak yang membelinya untuk ditukar dengan kekayaan dunia. Itulah gambaran para penjual agama ketika mempermainkan agama dan begitu mudah menukar agamanya saat bertemu dengan para cukong.
Menukar Petunjuk
Petunjuk merupakan kompas untuk mengarahkan kepada satu tujuan. Namun karena godaan dunia, petunjuk itu dihempaskan begitu saja. Mereka mencoba melakukan transaksi perdagangan hingga rela melepas petunjuk. Padahal perdagangan itu demi mendapatkan kesenangan yang bersifat sementara. Hal ini sebagaimana diabadikan Al-Qur’an berikut:
اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ اشْتَرَوُا الضَّلٰلَةَ بِا لْهُدٰى ۖ فَمَا رَبِحَتْ تِّجَا رَتُهُمْ وَمَا كَا نُوْا مُهْتَدِيْنَ
“Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka perdagangan mereka itu tidak beruntung dan mereka tidak mendapat petunjuk.” [QS. Al-Baqarah : 16]
Ketika diajak untuk mengikuti petunjuk dengan melakukan amal kebaikan dan perbaikan diri, mereka menganggap dirinya di jalan yang benar dan menganggap pembawa petunjuk beserta pengikutnya sebagai manusia kurang berakal. Al-Qur’an mengabadikan hal ini sebagaimana firman-Nya:
وَاِ ذَا قِيْلَ لَهُمْ اٰمِنُوْا كَمَاۤ اٰمَنَ النَّا سُ قَا لُوْاۤ اَنُؤْمِنُ كَمَاۤ اٰمَنَ السُّفَهَآءُ ۗ اَ لَاۤ اِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَآءُ وَلٰـكِنْ لَّا يَعْلَمُوْنَ
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Berimanlah kamu sebagaimana orang lain telah beriman!’ Mereka menjawab, ‘Apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal itu beriman?’ Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang kurang akal, tetapi mereka tidak tahu.” [QS. Al-Baqarah : 13]
Mereka diajak untuk mempercayai hal-hal ghaib, seperti adanya hari kebangkitan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan ketika di dunia. Alih-alih mempercayai, mereka justru mengolok-olok dan berusaha secara maksimal menolak kebenaran. Oleh karenanya, Allah mengancam mereka dengan azab tanpa ada keringanan dan pertolongan. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya:
اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ اشْتَرَوُا الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا بِا لْاٰ خِرَةِ ۖ فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَا بُ وَلَا هُمْ يُنْصَرُوْنَ
“Mereka itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat. Maka tidak akan diringankan azabnya dan mereka tidak akan ditolong.” [QS. Al-Baqarah : 86]
Pesta Pora Duniawi
Realitas masyarakat yang menghempaskan petunjuk bisa digambarkan bahwa petunjuk mengarahkan elite negara untuk bertindak penuh keteladanan. Sebagai elite atau pemimpin politik harus memberi keteladanan dalam memimpin, seperti jujur, amanah, adil. Namun godaan dunia membuat mereka bertindak leluasa dengan janji-janji kosong (omon-omon) berujung dusta, berbohong, dan ujungnya berbuat zalim ketika memimpin. Demi mendapatkan kekayaan dan kesenangan sementara, mereka memimpin penuh dengan kecurangan dan tipu-tipu dengan menutup ruang kesejahteraan rakyat, sembari memperkaya diri kelompok tertentu.
Bentuk paling telanjang dari “menukar petunjuk” itu terlihat ketika simbol ibadah diubah menjadi komoditas elektoral. Sebut saja praktik elite politik yang mengemas kurban Iduladha menggunakan APBN, lalu menarasikannya sebagai “kurban pribadi presiden”. Seribu ekor sapi dibeli dengan uang negara, disembelih atas nama negara, tetapi spanduk, baliho, dan pemberitaan mengarah pada personalisasi: “Sapi Kurban Presiden”. Daging dibagikan, kamera dinyalakan, dan simpati rakyat dikonversi menjadi modal politik menuju 2029.
Di sinilah agama dijual. Nilai takwa dalam QS. Al-Hajj: 37—bahwa yang sampai kepada Allah bukan darah dan daging, melainkan ketakwaan—diamputasi. Yang tersisa hanya citra: pemimpin dermawan, padahal yang dikurbankan adalah uang rakyat. Rakyat diperintah untuk efisien, hidup prihatin, dan menahan lapar. Sementara elite berpesta pora dengan anggaran publik yang dibungkus ritual. Rakyat akhirnya menjadi penonton yang menelan ludah sambil menangis.
Hilangnya empati elite semakin membuat pesta pora semakin meriah dan sulit dihentikan. Kritik sudah dilayangkan namun mata buta, telinga tuli dan hati nurani berkarat. Hatinya semakin mengeras dan kebijakannya semakin menindas dan menutup mata atas penderitaan rakyatnya. Kolaborasi kejahatan ini benar-benar menyakitkan dan menurunkan harkat dan martabat bangsanya.
Mereka seolah-olah menantang ancaman yang disampaikan pembawa petunjuk. Oleh karenanya Al-Qur’an heran dengan perilaku mereka yang seolah-olah tahan terhadap siksaan yang berat dan menghinakan. Mereka memilih kesesatan dengan membuang petunjuk. Memilih siksa daripada ampunan. Hal ini dinarasikan secara detail dalam Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya:
اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ اشْتَرَوُا الضَّلٰلَةَ بِا لْهُدٰى وَا لْعَذَا بَ بِا لْمَغْفِرَةِ ۚ فَمَاۤ اَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّا رِ
“Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan azab dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka!” [QS. Al-Baqarah : 175]
Menjual agama demi pesta pora dunia adalah bentuk muamalah yang merugi dimana petunjuk ditukar kesesatan, akhirat digadaikan untuk kekuasaan sesaat. Praktik seperti kurban APBN yang diklaim sebagai kurban pribadi presiden adalah contoh empirik elite menunggangi simbol ibadah untuk akumulasi citra politik. Ketika takwa hilang dari ibadah, yang tersisa hanya transaksi. Dan setiap transaksi yang menukar ayat dengan suara, ujungnya adalah azab yang tidak diringankan.
Surabaya, 2 Juni 2026
