Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep menilai keberhasilan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak cukup diukur dari jumlah makanan yang telah dibagikan kepada penerima manfaat.
Menurutnya, pemerintah perlu mengukur perubahan status gizi, kesehatan, dan perkembangan pendidikan anak setelah mengikuti program MBG. Pengukuran tersebut penting untuk memastikan anggaran besar yang digunakan benar-benar menghasilkan dampak bagi generasi Indonesia.
Pernyataan itu disampaikan Mundakir dalam Dialog Kebangsaan Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur bertema “Menguji Masa Depan MBG: Gizi, Anggaran dan Kepentingan Publik” di Aula Mas Mansur, Gedung Muhammadiyah Jawa Timur, Selasa (25/8/2026).
Dalam paparannya, Mundakir mengawali dengan mengutip Surah An-Nisa ayat 9 dan Al-Hasyr ayat 18. Menurutnya, kedua ayat tersebut memperkuat pesan tentang pentingnya menyiapkan generasi yang sehat dan memikirkan masa depan. Ia menilai tidak ada alasan untuk menolak MBG dari sisi tujuan dan gagasan dasarnya.
“Secara filosofis, psikospiritual, saya bacakan tadi ayatnya jelas. Kita itu hendaklah takut kalau meninggalkan generasi kita tidak sehat,” ujarnya.
Mundakir juga menilai program tersebut relevan dengan cita-cita membangun Generasi Emas 2045. Menurutnya, generasi yang sehat menjadi salah satu fondasi untuk mencapai target pembangunan jangka panjang Indonesia.
Ia mengatakan persoalan yang muncul selama ini lebih banyak terjadi karena pemahaman masyarakat yang belum utuh mengenai tujuan MBG.
MBG Tidak Hanya untuk Atasi Stunting
Mundakir menyoroti anggapan bahwa MBG hanya ditujukan untuk mengatasi stunting. Menurutnya, pemahaman tersebut terlalu sempit. Ia menjelaskan bahwa persoalan gizi memiliki cakupan yang lebih luas. Salah satunya dikenal dengan istilah triple burden of malnutrition, yaitu tiga beban masalah gizi yang meliputi kekurangan gizi, kekurangan zat gizi tertentu, dan kelebihan gizi atau obesitas.
“Obesitas, gemuk itu juga masalah gizi,” katanya.
Mundakir menilai MBG seharusnya diarahkan untuk memperbaiki status gizi anak secara menyeluruh. Karena itu, pemerintah perlu melihat perubahan kondisi anak sebelum dan setelah memperoleh manfaat program.
MBG Harus Diukur dari Dampaknya
Mundakir mengusulkan agar pemerintah membangun sistem riset untuk mengukur dampak MBG secara berkala. Ia menyarankan adanya riset prospektif yang membandingkan kondisi penerima manfaat setelah enam bulan hingga satu tahun pelaksanaan program.
“Mulai periode pak Mariman, diukur enam bulan atau setahun, kira-kira status gizi saat ini dengan enam bulan atau setahun yang akan datang bagaimana. Itu penting, supaya terukur,” jelasnya.
Menurut Mundakir, laporan MBG tidak cukup hanya mencantumkan jumlah porsi yang telah dibagikan atau jumlah sekolah yang telah menerima program.
Ia berharap pemerintah juga menyajikan indikator hasil, seperti perubahan status gizi, penurunan stunting, kesehatan anak, hingga kemungkinan dampaknya terhadap prestasi pendidikan.
“Pemerintah tidak hanya menyampaikan sudah sekian juta porsi yang sudah terbagi, sudah sekian sekolah. Data kuantitatif saja tidak cukup. Kualitatif itu yang lebih penting,” tegasnya.
Dengan pendekatan tersebut, setiap rupiah anggaran MBG dapat dihubungkan dengan output dan impact yang terukur.
Standar Gizi MBG Dinilai Sudah Ada
Mundakir mengungkapkan bahwa dirinya telah mencari informasi mengenai standar kandungan gizi dalam program MBG. Ia menemukan bahwa pemerintah telah menetapkan ketentuan mengenai kebutuhan gizi berdasarkan kelompok usia.
Ia menyebut ketentuan tersebut mencakup energi, protein, karbohidrat, vitamin, mineral, zat besi, serta berbagai mikronutrien lainnya. Menurut Mundakir, keberadaan standar tersebut menjadi langkah positif. Tantangan berikutnya adalah memastikan standar tersebut benar-benar diterapkan dalam pelaksanaan di lapangan.
“Persoalannya, apakah peraturan MBG yang sudah disiapkan sedemikian rupa itu bisa terealisasi dengan baik atau tidak,” ujarnya.
Kolaborasi Jadi Kunci Keberlanjutan MBG
Mundakir juga menilai MBG memiliki potensi besar untuk menggerakkan perekonomian masyarakat. Ia mencontohkan kebijakan program makan sekolah di Brasil yang memberikan porsi pengadaan bahan pangan dari ekonomi lokal.
Menurutnya, pola tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi Indonesia. Program makan bergizi tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan anak, tetapi juga menciptakan permintaan terhadap produk petani, peternak, nelayan, dan pelaku usaha lokal.
Ia melihat gagasan penguatan ekonomi lokal tersebut dapat berjalan seiring dengan kebijakan pemerintah untuk memperkuat koperasi.
“Kalau begitu sangat masuk akal. Saya malah mempertegaskan, tidak ada alasan untuk Muhammadiyah tidak ambil peran,” katanya.
Mundakir menegaskan bahwa Muhammadiyah memiliki peluang untuk ikut mengawal pelaksanaan MBG. Namun, keterlibatan tersebut harus disertai tata kelola yang baik.
Menurutnya, setidaknya ada tiga aspek yang perlu mendapat perhatian, yakni kualitas makanan (food quality), keamanan pangan (food safety), dan kandungan gizi (food nutrient).
Kualitas makanan harus memenuhi standar yang telah ditetapkan. Proses pengolahan dan distribusi juga harus aman untuk mencegah kasus keracunan. Sementara itu, kandungan nutrisi perlu diukur agar manfaat program dapat dipastikan.
Mundakir juga membuka peluang keterlibatan perguruan tinggi dalam pengawasan dan penelitian MBG. Menurutnya, kampus dapat membantu melakukan evaluasi kandungan nutrisi serta riset prospektif untuk mengukur perubahan status gizi anak penerima manfaat.
“Kalau misalnya kampus selama ini belum pernah terlibat langsung untuk MBG, untuk SPPG enggak apa-apa. Tapi tolong ini bisa dilibatkan, bagaimana mengevaluasi kandungan nutrisinya,” ujarnya.
Mundakir menilai pemerintah tidak dapat menjalankan program MBG seorang diri. Sekolah, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, dan berbagai lembaga lainnya perlu terlibat untuk memastikan program berjalan sesuai tujuan.
“Ini saatnya kita bersatu, melibatkan semua komponen untuk bagaimana program yang bagus ini on the track, berjalan dengan baik,” pungkasnya. (Nidlom)
