Rida pada Takdir Allah Ta’ala

*) Oleh : Dr. Ajang Kusmana
Pengajar Mata Kuliah AIK UMM
www.majelistabligh.id -

Menerima takdir Allah adalah sumber ketenangan batin. Anda tidak akan mudah kecewa atau sedih. Keridaan menerima ketetapan-Nya adalah tanda kebahagiaan manusia. Sebaliknya, marah pada takdir adalah tanda kesengsaraan.

Sebenarnya rida terhadap penyingkapan dan takdir Allah merupakan jalan terpenting menuju kebahagiaan. Orang-orang bahagia itu bila rida dengan ketetapan Allah Ta’ala. Sebagaimana dalam tuntunan Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.

عَنْ سَعْدٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ رِضَاهُ بِمَا قَضَى اللهُ لَهُ وَمِنْ شَقَاوَةِ ابْنِ آدَمَ تَرْكُهُ اسْتِخَارَةَ اللهِ وَمِنْ شَقَاوَةِ ابْنِ آدَمَ سَخَطُهُ بِمَا قَضَى اللهُ لَهُ.

Dari Sa’d dia berkata, Rasulullah saw bersabda:

“Termasuk di antara kebahagiaan anak Adam, adalah rasa ridanya terhadap apa yang telah Allah tetapkan baginya. Dan termasuk kesengsaraan seorang anak Adam, adalah bila ia meninggalkan istikharah kepada Allah. Dan termasuk kesusahan Ibnu Adam, adalah rasa benci dan tidak menerima terhadap apa yang telah Allah tetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2304)

Hadis ini menjelaskan kunci hidup tenang. Intinya, kebahagiaan datang saat  ikhlas dengan ketetapan Allah. Kesengsaraan muncul saat menggugat ketentuan Tuhan. Berikut adalah penjelasan ringkas dari hadis tersebut:

  • Rida: Menerima ketetapan Allah dengan lapang dada. Anda akan terhindar dari stres dan rasa kecewa yang berlebihan.
  • Istikharah (meminta pilihan): Berdoa memohon petunjuk kepada Allah sebelum memutuskan sesuatu. Ini akan membuat yakin bahwa pilihan tersebut adalah yang terbaik, baik untuk urusan dunia maupun akhirat.
  • Tidak Menerima Takdir: Marah atau menggugat  nasib yang telah ditentukan. Hal ini hanya akan menambah beban pikiran dan penderitaan batin.

Berpikir positif, tetap semangat dan jangan pernah menyerah pada keadaan. Tugas kita hanya 2, yaitu: Berusaha optimal dan berdoa. (Sedangkan selanjutnya itu kuasa Allah Ta’alah).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Abdullah bin Qais,

يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ قُلْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ . فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ

“Wahai ‘Abdullah bin Qais, katakanlah ‘laa haula wa laa quwwata illaa billaah’, karena ia merupakan simpanan pahala berharga di surga.” (HR. Bukhari, no. 7386)

Ketika seorang hamba berkata, Laa Haula Wa Laa Quwwata Ila Billah, maka Allah Ta’ala berfirman, “Lihatlah (hai para malaikat), orang ini telah menyerahkan urusannya kepadaKu”.

Kalimat Laa Haula Wa Laa Quwwata Illa Billah adalah kunci utama untuk menyerahkan semua masalah kepada Allah Swt.

Allah Subhanahu wa-ta’ala sesungguhnya Maha Pengasih. Allah-lah yang akan memenuhi segala kebutuhan kita dan menjadikan karunia yang diberikan kepada kita, membahagiakan kita dan keluarga kita. Rasulullah saw bersabda:

قَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُعْطِى اللهُ لِأَحَدٍ خَمْسًا إِلَّا وَقَدْ أَعَدَّ لَهُ خَمْسًا أُخْرَى : لَا يُعْطِيْهِ الشُّكْرَ إِلَّا وَقَدْ أَعَدَّ لَهُ الزِّيَادَةَ، وَلَا يُعْطِيْهِ الدُّعَاءَ إِلَّا وَقَدْ أَعَدَّ لَهُ اْلإِسْتِجَابَةَ، وَلَا يُعْطِيْهِ اْلإِسْتِغْفَارَ إِلَّا وَقَدْ أَعَدَّ لَهُ اْلغُفْرَانَ، وَلَا يُعْطِيْهِ التَّوْبَةَ إِلَّا وَقَدْ أَعَدَّ لَهُ اْلقَبُوْلَ، وَلَا يُعْطِيْهِ الصَّدَقَةَ إِلَّا وَقَدْ أَعَدَّ لَهُ التَّقَبَّلَ

Nabi saw bersabda:  Allah tidak memberi lima kepada seseorang, melainkan telah mempersiapkan lima hal yang lain, yaitu Dia tidak memberikan syukur kepadanya, melainkan telah menyediakan untuknya tambahan, Dia tidak memberikan doa kepadanya, melainkan telah menyediakan untuknya ijabah (pengabulan), Dia tidak memberikan istighfar kepadanya, melainkan telah menyediakan untuknya ampunan, Dia tidak memberikan taubat kepadanya, melainkan telah menyediakan untuknya penerimaan taubat, Dia tidak memberikan sedekah kepadanya, melainkan telah menyediakan untuknya menerima (sedekah itu). (Demikian termuat dalam Kitab Nashaihul Ibad, karya Syaikh Nawawi Al-Bantani, halaman : 48.)

Hadis di atas sejalan dengan keterangan di bawah ini:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Q. S. 14 Ibrahim:7)

Kita dan seluruh keluarga kita selalu berharap agar meraih derajat mendapat Rida Allah Ta’ala. Adapun ciri orang yang rida adalah sebagai berikut:

  • Tidak gelisah terhadap ketetapan atau takdir apapun yang berasal dari Allah.
  • Menyikapi segala hal yang berasal dari Allah dengan lapang dada dan senang hati.
  • Bisa menjaga setabilitas dan keseimbangan hati, termasuk ketika menghadapi kondisi paling sulit.
  • Tidak menderita ketika tertimpa musibah, karena ini merupakan pemberian dari Allah.
  • Bagi seseorang yang sudah mencapai tingkatan tertentu, ketika ada musibah yang beratpun bisa menerima dengan tersenyum, karena meyakini bahwa musibah tersebut datangnya dari Allah Swt. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search