Dari pagi sampai siang ini aku banyak pekerjaan yang perlu diselesaikan. Memikirkan apa yang harus dikerjakan hari ini, siapa yang harus ditemui, apa yang belum selesai, dan apa yang harus disiapkan untuk besok. Di kepala sudah penuh dengan rencana.
Aku bahkan sempat berkata, “Besok saja…masih ada waktu.”
Lalu, tiba-tiba aku terdiam. Aku membayangkan, bagaimana kalau ternyata “besok” tidak pernah menjadi milikku?”
Selama ini aku begitu serius mempersiapkan perjalanan di dunia. Aku membuat itinerary. Menyiapkan barang. Mengatur waktu. Memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.
Tapi untuk perjalanan yang paling pasti, aku bahkan tidak tahu pasti kapan harus berangkat.
Suatu hari nanti, akan ada sebuah panggilan. Tidak ada pesan sebelumnya. Tidak ada kesempatan untuk meminta jadual ulang. “Sudah waktunya pulang.”
Saat rumah akan tetap berdiri. Barang-barangku masih ada. Uang mungkin masih tersimpan. Pekerjaan mungkin belum selesai. Pesan-pesan mungkin masih belum terbaca.
Tapi aku “sudah tidak bisa kembali.”
Orang-orang yang mencintaiku akan mengantarkan sampai pemakaman. Setelah tanah menutup tubuhku, mereka akan pulang. Dan aku akan melanjutkan perjalanan sendirian. Tidak ada keluarga. Tidak ada jabatan. Tidak ada kendaraan. Hanya aku dan apa yang pernah aku kerjakan.
Di situlah aku sadar, ternyata hidup ini bukan tentang berapa banyak yang berhasil aku kumpulkan, tetapi, “berapa banyak bekal yang sudah aku siapkan untuk pulang.”
Hari ini Allah masih memberiku waktu. Masih memberiku kesempatan untuk sujud. Masih memberiku kesempatan meminta maaf. Masih memberiku kesempatan bersedekah. Masih memberiku kesempatan memperbaiki diri.
Mungkin kesempatan yang kita anggap biasa hari ini, adalah kesempatan yang paling mahal sebelum kita benar-benar pergi.
Jadi, sebelum tidur malam ini, tanyakan kepada diri sendiri.
“Ya Allah, jadikanlah ilmu yang kami pelajari bermanfaat dan mudahkanlah kami untuk mengamalkannya.”
