Saat Jiwa Diuji Untuk Kembali

Saat Jiwa Diuji Untuk Kembali
*) Oleh : M Mahmud, M.Pd.I.
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jatim
www.majelistabligh.id -

Pulang yang hakiki adalah saat jiwa diuji untuk kembali. Kematian adalah bukanlah akhir yang menakutkan, melainkan pintu pulang menuju asal.

Apa yang sering disebut sakit dalam sakaratul maut, sejatinya bukan semata-mata rasa fisik, tetapi kegelisahan jiwa yang belum siap berpisah dari dunia dan kembali kepada Allah.

Allah menggambarkan keadaan jiwa yang siap pulang dengan penuh ketenangan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Fajr: 27-28
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ
Artinya: Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai.

Ayat ini menunjukkan bahwa bagi jiwa yang bersih dan dekat kepada Allah, kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan, melainkan panggilan penuh kelembutan untuk kembali.

Tafsir Tematik: Ayat ini menggambarkan perjalanan jiwa sejak lahir dalam keadaan suci, lalu diuji dengan amal baik dan buruk. Jiwa yang berhasil menjaga kesucian dan ketenangan akan mendapat panggilan mulia ini.

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah: Ayat ini adalah kabar gembira bagi orang beriman yang hatinya damai ketika menghadapi janji Allah. Mereka ridha atas ketetapan-Nya, dan Allah pun meridhai mereka.

Tafsir Al-Muyassar: Jiwa yang tenang adalah jiwa yang tenteram dengan zikir dan iman, serta yakin dengan janji Allah. Pada saat kematian atau hari kiamat, Allah memanggil jiwa ini untuk kembali dengan penuh keridhaan, lalu dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang saleh dan ke dalam surga.

Ada keindahan dalam cara pandang ini:
Kematian sebagai pintu — bukan tembok yang menutup, melainkan gerbang yang membuka.
Ujian jiwa — perjalanan hidup dianggap sebagai persiapan, dan kematian sebagai momen kembali dengan segala hasil ujian itu.
Rasa pulang — seperti kembali ke rumah setelah perjalanan panjang, penuh suka dan duka.

Kalau dipikir, pandangan seperti ini bisa membuat manusia lebih tenang menghadapi kefanaan, karena fokusnya bukan pada kehilangan, melainkan pada kepulangan.

Sebaliknya, bagi jiwa yang lalai, yang terlalu mencintai dunia, moment sakaratul maut menjadi berat. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Qof: 19
وَجَاۤءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۗذٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيْدُ
Artinya: (Seketika itu) datanglah sakratulmaut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak engkau hindari.

Tafsir Kemenag RI: Kematian adalah bukti nyata kebenaran janji Allah. Saat sakaratul maut, manusia akan menyadari kebenaran tentang kebangkitan, surga, dan neraka. Tidak ada lagi tempat berlindung. Nabi Muhammad ﷺ sendiri bersabda ketika menghadapi ajal: “Subḥānallāh, sesungguhnya sakaratul maut ini mengandung kedahsyatan.”

Rasa sakit yang hakiki saat hati enggan melepaskan dunia, bukan karena tubuh merasakan penderitaan.

Dalam Hadits Rasulullah SAW. Bersabda: Barangsiapa yang suka bertemu dengan Allah, maka Allah suka bertemu dengannya. Dan barangsiapa yang tidak suka bertemu dengan Allah, maka Allah tidak akan bertemu dengannya. (HR. Bukhori dan Muslim)

Maka jelaslah, kematian bukanlah musuh. Yang menjadi berat adalah hati yang belum bersih, jiwa yang belum siap, dan cinta dunia yang belum di lepaskan.

Karena pada akhirnya, bukan sakaratul maut yang menyakitkan, tetapi jiwa yang enggan pulang kepada Penciptanya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search