Sabar dan Syukur: Dua Sayap yang Mengantarkan Kehidupan Menuju Keberkahan

Sabar dan Syukur: Dua Sayap yang Mengantarkan Kehidupan Menuju Keberkahan
*) Oleh : Helmi Rohmanto, M.Pd
Kamad MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi Laren Lamongan
www.majelistabligh.id -

Dalam perjalanan hidup, tidak ada seorang pun yang hanya bertemu dengan kebahagiaan atau hanya berhadapan dengan kesulitan. Hidup adalah pergantian antara nikmat dan ujian. Ada saatnya seseorang berada di puncak keberhasilan, tetapi ada pula masa ketika ia harus menapaki lembah kegagalan. Islam mengajarkan bahwa menghadapi kedua keadaan tersebut memerlukan dua sikap mulia, yaitu sabar dan syukur.

Sabar dan syukur ibarat dua sayap yang membuat seorang mukmin mampu terbang menuju ridha Allah Swt. Sabar menjaga seseorang agar tidak putus asa ketika menghadapi cobaan, sedangkan syukur menjaga hati agar tidak sombong ketika memperoleh kenikmatan. Keduanya saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan.

Allah Swt. berfirman:

«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ»

Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
(QS Al Baqarah: 153)

Ayat tersebut memberikan pesan bahwa sabar bukanlah sikap pasrah tanpa usaha. Sabar adalah keteguhan hati dalam tetap taat kepada Allah, tetap berikhtiar, dan tidak menyerah meskipun jalan terasa berat. Orang yang sabar selalu yakin bahwa pertolongan Allah akan datang pada waktu yang paling tepat.

Sebaliknya, ketika Allah memberikan nikmat, Islam mengajarkan agar manusia tidak larut dalam kebanggaan, melainkan memperbanyak rasa syukur. Allah Swt. berfirman:

«لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ»

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
(QS Ibrahim : 7)

Syukur bukan hanya ucapan Alhamdulillah. Syukur diwujudkan dengan menggunakan nikmat untuk kebaikan, berbagi kepada sesama, menjaga amanah, dan tidak menyalahgunakan karunia Allah.

Rasulullah saw. bersabda:

«عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ»

Artinya:

Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun selain seorang mukmin. Jika ia memperoleh kesenangan, ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun menjadi kebaikan baginya.
(HR Bukhari , no. 2999)

Hadis ini menunjukkan bahwa seorang mukmin tidak pernah menjadi orang yang benar-benar rugi. Dalam keadaan lapang ia memperoleh pahala karena bersyukur, sedangkan dalam keadaan sempit ia mendapatkan pahala karena bersabar.

Teladan indah dapat kita lihat pada Utsman Bin Affan. Beliau dikenal sebagai sahabat yang sangat dermawan. Hampir seluruh hartanya diserahkan untuk perjuangan Islam. Meski telah mengorbankan banyak harta, beliau tidak pernah mengeluh ataupun menyesal. Ketika ditanya apa yang ditinggalkan untuk keluarganya, beliau menjawab, “Aku tinggalkan Allah dan Rasul-Nya.” Sikap itu mencerminkan perpaduan antara syukur atas nikmat yang dimiliki dan kesabaran dalam berkorban.

Contoh lain adalah yang diuji dengan penyakit dan kehilangan harta serta keluarga yang dialami Nabi Ayyub As. Bertahun-tahun beliau tetap bersabar tanpa menyalahkan Allah. Kesabaran itulah yang akhirnya mengantarkan beliau kepada pertolongan dan rahmat Allah yang luar biasa.

Dalam kehidupan saat ini, sabar dan syukur semakin penting untuk ditanamkan, terutama di lingkungan pendidikan. Seorang guru perlu bersabar mendidik peserta didik dengan berbagai karakter. Peserta didik pun harus bersabar dalam proses belajar karena keberhasilan tidak lahir dalam semalam. Ketika memperoleh prestasi, semuanya perlu bersyukur agar tidak terjerumus dalam kesombongan. Sebaliknya, ketika mengalami kegagalan, kesabaran akan menjadi kekuatan untuk bangkit dan mencoba kembali.

Pada akhirnya, kebahagiaan bukan ditentukan oleh banyaknya harta, tingginya jabatan, ataupun panjangnya gelar. Kebahagiaan sejati hadir ketika hati mampu bersabar saat diuji dan bersyukur saat diberi nikmat. Orang yang memiliki dua sifat ini akan selalu merasa cukup, tenang, dan dekat dengan Allah Swt.

Marilah kita menjadikan sabar sebagai kekuatan dalam menghadapi setiap ujian dan syukur sebagai penghias setiap nikmat. Sebab, dengan sabar kita akan memperoleh pertolongan Allah, dan dengan syukur Allah akan menambah keberkahan dalam hidup kita.(*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search