Allahu Akbar.. Allahu Akbar walillahil hamdu
Semangat dan antusiasme ratusan jemaah hadir dalam pelaksanaan salat Iduladha 1447 H di halaman parkir Plaza Marina, Jalan Margorejo, Surabaya, pada Rabu (27/5/2026) pagi. Meski sempat diguyur hujan deras pada malam harinya, tidak menyurutkan langkah para jemaah yang datang dari berbagai pelosok kota, mulai dari Margorejo, Sutorejo, Kenjeran, hingga Gayungan, untuk menunaikan ibadah berjemaah.
Hadir sebagai khatib, H. Chulil Barory, S.E., M.M., Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur. Dalam khotbahnya yang penuh semangat, Ustaz Chulil menggugah kesadaran jemaah untuk merefleksikan dan menanamkan kembali nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim as.
Ada dua pesan utama yang ia tekankan dalam khotbah tersebut, yakni pentingnya mengokohkan tauhid dan memahami esensi ibadah kurban.

- Mengokohkan Tauhid
Sebagai fondasi utama keimanan, Ustaz Chulil mengawali pesan pertamanya dengan mengutip firman Allah Swt dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 36:
وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.”
Tauhid merupakan intisari ajaran Islam. Menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya adalah kewajiban mutlak yang harus didahulukan sebelum menjalankan rukun Islam lainnya.
Ustaz Chulil mengingatkan bahwa bulan Zulhijah yang merupakan satu dari empat bulan mulia (asyhurul hurum), adalah momentum yang tepat untuk menata kembali fondasi tauhid dalam diri. Terutama dari noda kemusyrikan yang mungkin tanpa sadar masih kerap dilakukan, seperti mempercayai mitos bulan Selo (Zulkaidah) dalam penanggalan Jawa.
“Banyak yang enggan mengadakan hajatan atau acara besar di bulan Selo karena takut pamali atau mendatangkan sial. Padahal, dalam kalender Hijriah, Zulkaidah artinya adalah waktu untuk beristirahat. Istirahat setelah melintasi Ramadan dan Syawal, sekaligus persiapan menuju puncaknya di bulan Zulhijah untuk ibadah haji. Mempercayai mitos sial seperti itu justru mengikis kemurnian tauhid kita kepada Allah Swt,” tegasnya.
- Esensi Berkurban
Pesan kedua yang disampaikan adalah mengenai hakikat kurban sebagai sarana mendekatkan diri seorang hamba kepada Sang Pencipta. Ustaz Chulil meluruskan anggapan keliru di masyarakat yang menyebut bahwa berkurban cukup dilakukan sekali saja seumur hidup.
Merujuk pada Surah Al-Kausar ayat 2:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.”
Dalam kajian tafsir, ayat ini merujuk pada salat Iduladha. Jika salat Iduladha kita tunaikan setiap tahun, maka ibadah kurban pun seharusnya ditunaikan setiap tahun setelah salat dan pada hari tasyrik. Lagipula, nikmat Allah kepada kita tidak pernah berhenti hanya dalam setahun, melainkan mengalir sepanjang hidup.

Menyinggung realitas sosial saat ini, Ustaz Chulil mengajak jamaah untuk introspeksi diri. Jika melihat isi saldo rekening tabungan hari ini, mayoritas masyarakat perkotaan sebenarnya memiliki dana di atas Rp3,5 juta—nominal yang sudah sangat cukup untuk membeli satu ekor hewan kurban. Kemampuan finansial itu ada, namun pertanyaannya: kenapa masih enggan berkurban?
“Jawabannya karena berkurban itu berat. Setan akan senantiasa menggoda anak cucu Adam agar menjauh dan tidak semakin dekat kepada Allah. Itulah mengapa, meski di rekeningnya banyak uang, jika hatinya kalah oleh godaan, seseorang akan tetap enggan berkurban,” tuturnya.
Menyiapkan Bekal Akhirat
Di akhir khotbahnya, Ustaz Chulil menyampaikan wasiat mendalam mengenai pentingnya mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat kelak, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 197:
وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ
“…Dan berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”
Ia mengingatkan agar manusia tidak tertipu oleh gemerlapnya kehidupan dunia yang fana. Apa yang dimiliki manusia saat ini akan segera berakhir begitu ajal menjemput. Harta benda akan berpindah tangan kepada ahli waris, bahkan kepada orang lain yang tidak memiliki hubungan darah dengankita.
“Melalui ibadah kurban inilah, nilai ketakwaan kita akan sampai kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan esensi itulah yang kelak menjadi bekal sejati kita di akhirat,” pungkasnya.
Allahu Akbar.. Allahu Akbar walillahil hamdu || chulil barory
