Di bawah langit Yogyakarta yang masih dalam bayang-bayang kolonialisme pada tahun 1912, sebuah bilik kecil di Kauman, terbitlah Sang Surya. Kiai Haji Ahmad Dahlan, seorang pemuda dengan tatapan mata kuat namun berhati lembut, mendirikan persyarikan Muhammadiyah. Sebuah simbol kesadaran yang menolak tunduk pada kebodohan dan kemiskinan.
Sejak mendirikan Muhammadiyah pada 18 November 1912 hingga wafatnya pada 1923 (11 Tahun), Ahmad Dahlan tidak sekadar membangun organisasi, tetapi ia sedang merajut nafas bagi sebuah bangsa yang bahkan saat itu belum memiliki nama resmi. Sebelas tahun adalah waktu yang singkat dalam hitungan sejarah, namun bagi Sang Kiai, itu adalah sebelas tahun “penciptaan.”
Mari kita bicara tentang ketegasan yang melampaui zamannya. Di saat banyak pribumi masih terjebak dalam romantisme tradisionalisme yang penurut, Ahmad Dahlan telah melangkah menuju modernitas.
Ia memahami bahwa perjuangan membutuhkan legalitas. Dengan kecerdasan yang luar biasa, ia menembus birokrasi kaku Hindia Belanda. Meski harus melewati jalan terjal yang melelahkan, terbitlah Besluit No. 81 pada 22 Agustus 1914, sekaligus menjadi bukti otentik bahwa Muhammadiyah adalah badan hukum resmi di mata dunia.
Ini bukan sekadar urusan administrasi. Ini adalah pernyataan sikap bahwa Islam bukan agama yang terkurung di sudut-sudut pesantren yang gelap, melainkan kekuatan yang siap berhadapan dengan struktur hukum modern. Ahmad Dahlan adalah arsitek sosial yang memahami bahwa untuk merdeka, kita harus berorganisasi dengan rapi, sistematis, dan beradab.
Warisan Amanah
Kehebatan paling radikal dari seorang Ahmad Dahlan adalah penolakannya terhadap nepotisme. Muhammadiyah tidak didesain sebagai kerajaan keluarga atau dinasti spiritual yang diwariskan berdasarkan garis darah. Setelah beliau wafat pada 1923, tongkat estafet kepemimpinan berpindah secara elegan kepada KH Ibrahim (1923-1931), kemudian KH Hisyam (1931-1936), KH Mas Mansyur (1936-1942), hingga Ki Bagus Hadikusuma (1942-1953).
Lihatlah betapa anggunnya transisi itu. Kepemimpinan dalam Muhammadiyah adalah sebuah orkestra, bukan solo vokal. Setiap pemimpin membawa warna, namun tetap dalam satu semangat yang sama. Berkemajuan.
Dari satu tangan ke tangan yang lain, organisasi ini tidak pernah stagnan. Ia laksana sungai yang terus mengalir, membersihkan yang rusuh dan menghidupkan yang gersang.
Hari ini, jika kita memejamkan mata dan mencoba membayangkan Indonesia tanpa Muhammadiyah, kita akan melihat sebuah lubang besar dalam struktur sosial kita. Muhammadiyah telah bertransformasi menjadi “sesuatu” dalam konteks pelayanan sosial.
Data mencatat kekuatan amal usaha yang membanggakan. Muhammadiyah kini mengelola lebih dari 170 Perguruan Tinggi (PTM/PTMA), sekitar 5.000 lebih sekolah dari tingkat dasar hingga menengah, serta lebih dari 120 Rumah Sakit dan ribuan klinik yang tersebar hingga ke pelosok negeri. Tidak berhenti di sana, dakwah Muhammadiyah telah menembus batas-batas negara melalui Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) yang kini telah berdiri di 30 negara di seantero dunia.
Melalui LAZISMU, triliunan rupiah dana filantropi dikelola dengan transparansi yang ketat untuk mengangkat martabat kaum dhuafa dan anak terlantar. Sementara MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) telah menjadi malaikat tak bersayap yang selalu hadir paling awal di setiap medan bencana, bergerak secara otonom dan tangkas, bahkan sebelum perintah resmi pemerintah diturunkan.
Teologi Al-Ma’un
Apa rahasia di balik daya tahan seabad lebih ini? Jawabannya terletak pada satu tarikan nafas, Teologi Al-Ma’un. Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa kesalehan sejati tidak diukur dari berapa kali dahi menyentuh sajadah, melainkan dari berapa banyak yatim yang diberi makan dan berapa banyak kaum miskin yang diberdayakan.
Dalam sepertiga malam yang sunyi, muncul sebuah refleksi yang menyesakkan dada. Jika Muhammadiyah tidak ada, siapa yang akan menjaga anak-anak terlantar itu? Siapa yang akan menyediakan sekolah berkualitas dengan harga terjangkau bagi rakyat jelata?
Memang benar, banyak ormas Islam di negeri ini, namun yang secara konsisten dan masif menerjemahkan ayat-ayat Tuhan menjadi semen, batu bata rumah sakit, dan kurikulum pendidikan, yang menonjol adalah Muhammadiyah.
Muhammadiyah adalah tentang kerja keras. Muhammadiyah adalah tentang keteguhan prinsip. Di usianya yang telah melampaui satu abad, Muhammadiyah tetap muda karena ia selalu relevan dengan zaman. Ia tidak sibuk berebut kuasa di panggung politik praktis yang bising, melainkan sibuk membangun fondasi peradaban yang sunyi namun kokoh.
Kiai Ahmad Dahlan telah tiada, namun ruhnya bersemayam di setiap deru mesin rumah sakit, di setiap goresan pena siswa di kelas, dan di setiap doa para lansia di panti jompo serta anak-anak yatim yang kenyang. Muhammadiyah adalah bukti bahwa ketika iman bertemu dengan kecerdasan organisatoris, ia akan menjadi Sang Surya yang tak pernah terbenam, terus menyinari semesta dengan cahaya kemajuan.
Jika bangsa ini ingin tetap tegak, belajarlah pada Muhammadiyah. Tentang bagaimana mencintai negeri tanpa harus berteriak, tentang bagaimana memberi tanpa harus meminta kembali. Karena pada akhirnya, tangan di atas selalu lebih mulia daripada tangan di bawah. Itulah marwah Muhammadiyah, Si jantung hati Indonesia. (*)
