Pergantian Tahun Baru Islam dari 1447 H ke 1448 H yang jatuh hari ini, Selasa (16/6/2026), tidak boleh hanya dirayakan sebatas seremonial keagamaan. Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan, Anwar Abbas, mendesak agar momentum ini dijadikan titik tolak untuk mengubah nasib dan konstelasi umat Islam di kancah global.
Anwar Abbas merilis lima peta jalan krusial yang harus segera dieksekusi oleh para pemimpin dan elemen umat Islam guna memutus mata rantai ketertinggalan peradaban, mulai dari resolusi geopolitik hingga lompatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
1.Memutus Rantai Konflik Geopolitik dan Perang Saudara
Kritik paling tajam diarahkan pada robeknya ukhuwah islamiyah (persaudaraan Islam) di tingkat global. Anwar menyoroti ironi perang saudara yang masih berkecamuk di negara-negara mayoritas Muslim seperti Libya dan Sudan.
Selain itu, ia menyoroti ketegangan di kawasan Teluk yang tak kunjung padam. Blok poros Iran terus bergesekan dengan Qatar, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, hingga Yordania.
“Hubungan mereka tampak masih tegang dan tidak mudah untuk didamaikan selama Amerika Serikat (AS) masih menjadikan pangkalan militernya yang ada di sana untuk menyerang Iran,” analisis Anwar membongkar intervensi asing di negara-negara Muslim.
2. Membangunkan Raksasa Ekonomi 2,15 Miliar Jiwa
Anwar memaparkan data statistik populasi dunia tahun 2026 yang telah menembus 8,3 miliar jiwa. Dari jumlah tersebut, sekitar 26 persen atau 2,15 miliar jiwa adalah umat Islam.
Angka raksasa ini seharusnya menjadi kekuatan pasar tak tertandingi jika dikelola melalui ekosistem perdagangan antarnegara Muslim maupun kolaborasi pengusaha lintas benua. “Ini jelas merupakan sebuah pasar yang luar biasa besarnya. Tapi sayang, potensi pasar sebesar itu belum bisa dimanfaatkan oleh umat Islam dengan sebaik-baiknya,” keluhnya.
3. Literasi Sains: Mengejar Kualitas Kampus Sekelas MIT dan Oxford
Ketertinggalan umat di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) menjadi perhatian serius. Anwar menegaskan bahwa umat Islam tidak punya pilihan lain selain membangun perguruan tinggi modern berskala global yang mampu menyaingi Massachusetts Institute of Technology (MIT), Stanford University, Imperial College London, hingga Universitas Oxford.
Tidak hanya membangun fisik kampus, Anwar mendesak adanya pendanaan riset di sektor strategis masa depan. “Umat Islam harus bisa mendanai berbagai riset strategis, termasuk Kecerdasan Buatan (AI), kendaraan listrik (EV), dan teknologi telekomunikasi 5G. Kita harus melakukan lompatan inovasi yang ditunggu-tunggu dunia,” tekannya.
4. Memanfaatkan Jalur Sutera Modern untuk Pemindahan Poros Peradaban
Dalam kacamata geopolitik dan geoekonomi, Anwar melihat peluang besar dari inisiatif Silk Road (Jalur Sutera Modern) yang dihidupkan kembali oleh China.
Ia mendorong umat Islam untuk cerdik memanfaatkan jalur logistik dan ekonomi ini, khususnya guna memajukan kesejahteraan masyarakat Muslim di kawasan Asia Tengah dan Selatan. Langkah strategis ini dinilai mampu mengakselerasi pemindahan episentrum peradaban global dari Eropa dan Amerika ke kawasan Asia.
5. Eksekusi Misi Profetik: Rahmatan Lil ‘Alamin
Pada puncaknya, semua kemajuan material tersebut harus dibingkai dalam misi kenabian, yakni menampilkan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin—membawa kasih sayang bagi semesta. Kehadiran umat Islam yang unggul harus bisa dirasakan manfaatnya tidak hanya oleh sesama manusia, tetapi juga mencakup kelestarian alam dan lingkungan hidup.
Menutup refleksinya, Anwar Abbas memberikan tantangan terbuka kepada para pemimpin dunia Islam. “Agar harapan-harapan tersebut tidak hanya menggantung di langit, maka kewajiban kita semua, terutama para pemimpinnya, untuk membumikan dan mewujudkannya. Nasib umat tahun ini harus jauh lebih baik dari tahun kemarin,” pungkasnya. (*/tim)
