Ketika pejabat publik sibuk bersolek di depan kamera dan jagat politik riuh oleh perburuan ijazah hingga jabatan, di sebuah sudut Ponorogo, Jawa Timur, sebuah lembaga pendidikan berdiri tegak tanpa pernah mau membungkuk pada kekuasaan.
Sabtu, 19 September 2026. Di hadapan Presiden Prabowo Subianto yang menghadiri Resepsi Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Pimpinan Pondok KH Hasan Abdullah Sahal melemparkan seloroh yang renyah namun menyengat dada.
“Andaikata Pak Prabowo hari ini enggak datang, muka saya taruh di mana? Akhirnya saya harus cari muka. Sekarang banyak orang yang cari muka,” pancing Kiai Hasan.
Suasana mendadak riuh. Beliau lalu melanjutkan sentilannya yang menelanjangi realitas sosial kita hari ini: “Orang enggak punya ijazah cari ijazah. Orang enggak punya nama cari nama. Orang enggak punya uang cari uang. Orang enggak punya jabatan cari jabatan. Orang enggak punya muka cari muka,” katanya, tanpa beban sedikitpun.
Kelakar itu bukan sekadar lelucon panggung atau stand-up comedy. Itu adalah tamparan berkelas bagi republik yang sedang dijangkiti demam instan. Di luar sana, orang bersaing menumpuk gelar palsu demi kursi, menjilat demi posisi, dan menjual harga diri demi modal politik.
Namun Gontor—sejak berdiri pada 20 September 1926 (12 Rabiul Awal 1345 H)—memilih jalan yang berseberangan: menjaga muka dengan harga diri, bukan dengan mencari muka.
Warisan Nyali Trimurti
Kemandirian ini tidak muncul tiba-tiba. Sejarah mencatat tiga sosok pendirinya—K.H. Ahmad Sahal (1901–1977), K.H. Zainuddin Fananie (1908–1967), dan K.H. Imam Zarkasyi (1910–1985)—yang akrab disapa Trimurti. Mereka merajut cita-cita murni tanpa pamrih untuk mencerdaskan bangsa.
Ada cerita menarik ketika Trimurti mendatangi tokoh pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara, untuk mendiskusikan konsep pesantren ideal. Sang Bapak Pendidikan Nasional justru menjawab spontan, “Anda bertiga lebih paham tentang pesantren yang ideal.”
Kepercayaan itu dibayar tuntas. K.H. Imam Zarkasyi, sosok Trimurti yang paling lama menemani perjalanan Gontor, pernah menancapkan ikrar yang menggetarkan dada:
“Andaikata muridku tinggal satu, akan tetap kuajar. Yang satu ini sama dengan seribu. Kalau pun yang satu ini tidak ada, aku akan mengajar dunia dengan pena.”
Bagi Gontor, mengajar adalah urusan jiwa, bukan sebuah proyek untuk mendapatkan rupiah. Santri dididik untuk hidup sederhana, jujur, dan tidak berlebih-lebihan. Mbah Zarkasyi selalu mengingatkan bahwa sifat berlebihan adalah racun masyarakat dan akar utama dari pembusukan yang bernama korupsi.
Pabrik Manusia Berintegritas
Satu abad berlayar, Gontor membuktikan bahwa lembaga pendidikan Islam sanggup berdiri di atas kaki sendiri. Merias wajah zaman. Tanpa menggadaikan idealisme demi kucuran dana. Gontor terus melahirkan tokoh-tokoh besar bangsa yang berintegritas tinggi.
Sebut saja nama-nama seperti M. Din Syamsuddin (mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah), Hasyim Muzadi (mantan Ketua Umum PBNU), Hidayat Nur Wahid (tokoh politik dan legislator), hingga cendekiawan Muslim kaliber internasional seperti Nurcholish Madjid (Cak Nur) dan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) yang pernah menimba ilmu di sana.
Mereka lahir dari rahim pendidikan yang mengajarkan cara berpikir merdeka, bukan mental pengabdi kekuasaan.
Di usia yang genap seratus tahun ini, Gontor menyajikan cermin besar bagi Indonesia. Ketika banyak lembaga pendidikan sibuk menjadi pabrik pencetak kertas ijazah demi memenuhi pasar kerja, Gontor konsisten mencetak manusia bermental jujur dan berintegritas.
Bangsa ini patut berterima kasih pada Gontor. Dan satu hal yang harus diingat oleh siapa pun yang sedang memegang tampuk kekuasaan: jangan sekali-kali mencoba mendikte Gontor, karena Anda tidak akan pernah berhasil.
Gontor telah membuktikan bahwa harga diri dan independensi tidak bisa dibeli dengan jabatan, uang, atau kekuasaan. Sebab bagi mereka yang memiliki muka dan harga diri, berkarya untuk bangsa adalah ibadah, bukan ajang pamer muka. (*)
