Sekolah, Angka, dan Hilangnya Pertanyaan

Sekolah, Angka, dan Hilangnya Pertanyaan
*) Oleh : Syahrudin Darwis
Anggota Muhammadiyah NBM.495.547
www.majelistabligh.id -

Pendidikan kita semakin sering diperlakukan seperti katalog barang. Kompetensi disusun dalam daftar, kapasitas diterjemahkan menjadi poin. Ada standar, indikator, dan peringkat. Seolah-olah manusia dapat diringkas dalam tabel yang rapi.

Di balik rapor itu sebenarnya ada seorang anak yang kadang menatap langit terlalu lama. Ia belum tahu apakah langit itu mimpi atau sekadar langit. Tetapi sekolah jarang memberi ruang untuk keraguan semacam itu. Ia lebih sibuk memastikan bahwa setiap pertanyaan memiliki jawaban yang benar—dan jawaban itu sudah tersedia di buku pegangan.

Guru, yang dahulu dipandang sebagai penjaga ruh pengetahuan, kini sering dipaksa menjadi juru taktik. Mereka harus memastikan target tercapai, angka meningkat, indikator terpenuhi. Mengajar bukan lagi sekadar membimbing pikiran, melainkan mengelola performa.

Di ruang kelas, pelajaran sering berubah menjadi strategi: bagaimana agar murid unggul dalam ujian, bagaimana agar sekolah naik peringkat.

Dalam logika ini, murid tidak lagi dipersiapkan untuk bertanya. Ia dipersiapkan untuk menang.
Padahal peradaban tidak lahir dari kemenangan yang cepat. Ia lahir dari keraguan yang panjang. Dari orang-orang yang berani berkata: mungkin kita salah, mungkin kita harus bertanya lagi.

Di sinilah paradoks pendidikan modern. Ia ingin mencetak manusia unggul, tetapi sering lupa memelihara manusia yang ingin tahu. Kita mengejar prestasi, tetapi perlahan kehilangan keheranan.
Dan tanpa keheranan, pengetahuan hanya menjadi prosedur.

Sekolah tetap berdiri, kelas tetap berjalan, ujian tetap berlangsung. Angka terus dicatat. Tetapi di suatu tempat yang sunyi, seorang anak masih menatap langit—dan tidak tahu lagi apakah langit itu mimpi, atau sekadar langit yang tidak lagi boleh ia tanyakan.
Jakarta, 28 Juni 2026

 

Tinggalkan Balasan

Search