Semangat Kurban, Ta’awun, dan Kritik terhadap At-Takatsur pada Khotbah Iduladha Muhammadiyah Kademangan

Wakil Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, H. R. Alpha Amirrachman, M.Phil., Ph.D.
www.majelistabligh.id -

Di tengah derasnya arus modernisme yang kerap memicu budaya pamer dan kompetisi tidak sehat, peringatan Iduladha 1447 H menjadi momentum krusial untuk melakukan refleksi spiritual. Pesan mendalam inilah yang menggema dalam pelaksanaan Salat Iduladha di halaman TK ABA/SD Muhammadiyah 33 Kademangan, Gading Serpong, pada Rabu (27/5/2026).

Hadir sebagai khatib, Wakil Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, H. R. Alpha Amirrachman, M.Phil., Ph.D. Dalam khotbahnya yang bertajuk “Semangat Berqurban, Ta’awun, dan Kesadaran At-Takatsur”, ia mengingatkan ratusan jemaah bahwa Iduladha melampaui sekadar ritual tahunan penyembelihan hewan kurban.

“Iduladha adalah momentum pendidikan ruhani untuk menundukkan ego, mengikis keserakahan, dan memperkuat solidaritas sosial,” ujar Alpha.

Mensitir Surat At-Takatsur sebagai kerangka refleksi, Alpha memberikan catatan kritis terhadap fenomena sosial hari ini. Menurutnya, surat tersebut merupakan peringatan keras agar manusia tidak terjebak dalam perlombaan semu mengejar materi, status, pengaruh, dan simbol kebanggaan duniawi.

Ia menilai esensi at-takatsur kini telah bergeser dan bermanifestasi dalam bentuk yang lebih modern, mulai dari budaya pencitraan di media sosial, perburuan popularitas digital, hingga praktik keagamaan yang kehilangan ketulusannya.

“Allah lebih besar daripada segala yang kita banggakan, lebih agung daripada harta yang kita kumpulkan, lebih mulia daripada jabatan, gelar, popularitas, dan capaian dunia yang sering kali membuat manusia lupa diri. Kurban bukan ajang menaikkan gengsi sosial, tetapi sarana merendahkan hati di hadapan Allah dan menguatkan solidaritas kepada sesama,” tegasnya.

Pendidikan Bukan Sekadar Kejar Prestasi

Tak hanya menyentuh aspek sosial, khotbah tersebut juga menyoroti relevansi kisah Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as dalam dunia pendidikan modern. Alpha menekankan bahwa keluarga Ibrahim memberikan teladan nyata, bahwa pendidikan sejati bukanlah tentang mengejar prestasi lahiriah semata, melainkan membangun fondasi tauhid, akhlak, adab, dan kepedulian sosial.

Ia mengimbau agar institusi pendidikan dan keluarga tidak terjebak dalam orientasi kompetisi yang kaku. Sekolah harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga rendah hati dan peka terhadap realitas sosial.

“Jangan sampai lingkungan pendidikan hanya melahirkan generasi yang pandai bersaing, tetapi miskin empati,” tambahnya.

Menghidupkan Semangat Ta’awun

Sebagai penawar atas egoisme dan individualisme modern, Alpha menawarkan konsep ta’awun (budaya tolong-menolong). Ia menegaskan bahwa instrumen duniawi seperti harta, ilmu, jabatan, dan pengaruh harus dikonversi menjadi kemaslahatan umat.

Dalam konteks persyarikatan Muhammadiyah, semangat ta’awun ini harus diwujudkan secara konkret melalui tiga pilar:

  • Pendidikan yang memerdekakan.
  • Pelayanan sosial yang berkeadilan.
  • Penguatan ekosistem kebajikan di lingkungan sekolah, masjid, dan masyarakat luas.

Sebelum mengakhiri khotbahnya, Alpha Amirrachman menitipkan empat pesan kunci bagi seluruh jemaah untuk menghadapi tantangan zaman:

  1. Waspadai Takatsur: Jangan membiarkan syahwat menumpuk kemewahan dunia melalaikan tujuan hidup yang hakiki.
  2. Kurban sebagai Madrasah Takwa: Jadikan ibadah kurban sebagai sarana mendidik jiwa agar bertakwa.
  3. Pendidikan Berbasis Tauhid: Membangun institusi keluarga dan sekolah di atas fondasi keimanan yang kokoh.
  4. Hidupkan Semangat Ta’awun: Menghidupkan budaya saling membantu agar setiap nikmat personal bertransformasi menjadi manfaat sosial.

Pelaksanaan Salat Iduladha yang diinisiasi oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Kademangan bersama DKM Misbahul Huda ini berlangsung dengan sangat khidmat. Dihadiri oleh ratusan warga Muhammadiyah serta masyarakat sekitar kawasan Gading Serpong, suasana kebersamaan dan kehangatan berbagi begitu terasa, menegaskan bahwa Islam hadir membawa jalan kembali kepada keikhlasan dan solidaritas kemanusiaan. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search