Setiap takdir Allah, baik yang menyenangkan maupun menyedihkan, adalah bentuk kasih sayang-Nya dan selalu membawa kebaikan atau hikmah. Keburukan yang dirasakan hanyalah sudut pandang manusia, sementara sudut pandang Allah hakikatnya Allah tidak berbuat kejam.
Allah tidak pernah menetapkan takdir yang buruk bagi hamba-Nya yang beriman; segala sesuatu disesuaikan dengan untuk kebaikan dunia dan akhirat. Apa yang tampak buruk atau menyakitkan seringkali merupakan cara Allah menghapus dosa, mendewasakan, atau memberikan pelajaran berharga.
Manusia cenderung merasa sebuah takdir itu “jelek” karena keterbatasan pengetahuan dalam melihat hasil jangka panjang, sebagaimana ditegaskan dalam Surat Al-Baqarah ayat 216.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
كُتِبَ عَلَيْکُمُ الْقِتَا لُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّـكُمْ ۚ وَعَسٰۤى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْــئًا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّـکُمْ ۚ وَعَسٰۤى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْــئًا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُمْ ۗ وَا للّٰهُ يَعْلَمُ وَاَ نْـتُمْ لَا تَعْلَمون
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 216)
Semua takdir itu baik. Ada hikmah di balik itu. Yang merasakan jelek adalah kita. Allah itu sama sekali tidak berbuat jelek.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَجِبْتُ لِلْمُؤْمِنِ، إِنَّ اللهَ لاَ يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ
“Aku begitu takjub pada seorang mukmin. Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya.” (HR. Ahmad, 3:117. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini sahih).
Maka apa yang kita jalani, kita pinta dan kita usahakan hari ini, jika Allah belum berikan jangan berputus asa. Tetaplah berbaik sangka pada apa yang menjadi ketetapan-Nya. Karena bisa jadi, Allah telah mempersiapkan sesuatu yang lebih baik dari apa yang sudah kita pinta dan usahakan. Namun, Allah mempunyai cara lain untuk memberikannya kepada kita. (*)
