Sepandai-pandai Menyembunyikan Bangkai, Lama-lama Bau Busuknya Tercium Juga

Sepandai-pandai Menyembunyikan Bangkai, Lama-lama Bau Busuknya Tercium Juga
*) Oleh : Dr. Risman Muchtar, M.Si
Wakil Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

6. Integritas Terbaik Adalah Tidak Memiliki Apa Pun yang Perlu Ditutupi

Pelajaran terpenting dari petuah ini bukanlah bagaimana mengungkap kebohongan orang lain, melainkan bagaimana membangun kehidupan yang tidak bergantung pada kebohongan.

Orang yang berintegritas tidak selalu sempurna. Ia mungkin melakukan kesalahan, mengambil keputusan yang keliru, atau gagal memenuhi harapan. Namun, ketika kesalahan ditemukan, ia berani mengakuinya, memperbaikinya, dan menerima konsekuensi yang wajar.

Sebaliknya, orang yang lebih mementingkan pencitraan6 daripada integritas akan cenderung mempertahankan penampilan baik dengan mengorbankan kejujuran.

Perbedaan keduanya terletak pada sikap terhadap kebenaran: apakah kebenaran diterima sebagai dasar untuk memperbaiki diri, atau justru dianggap sebagai ancaman yang harus disembunyikan.

Dalam kehidupan pribadi, keluarga, organisasi, dan negara, budaya kejujuran harus dibangun melalui keteladanan, transparansi, pengawasan yang efektif, perlindungan terhadap pelapor beritikad baik, serta penegakan aturan tanpa pandang bulu.

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya bergantung pada keberanian seseorang membongkar kebohongan, tetapi juga memiliki sistem yang memungkinkan kebenaran terungkap tanpa rasa takut.

Penutup: Kebohongan Boleh Bersembunyi, tetapi Tidak Boleh Dianggap Benar

Sepandai-pandai menyembunyikan bangkai, pada akhirnya bau busuknya dapat tercium juga. Begitulah gambaran kebohongan yang dipelihara, kesalahan yang ditutupi, dan penyimpangan yang dilindungi oleh kepentingan.

Waktu mungkin memberikan ruang bagi kebohongan untuk bertahan. Kekuasaan mungkin memperlambat pengungkapan fakta. Pencitraan mungkin membuat masyarakat percaya untuk sementara. Namun, tidak satu pun dari semua itu dapat menjamin bahwa kebenaran tidak akan pernah muncul.

Kita memang tidak boleh memastikan bahwa setiap kebohongan pasti terungkap di dunia, sebab kenyataan menunjukkan bahwa sebagian kejahatan mungkin tidak pernah terselesaikan. Akan tetapi, ketidakpastian itu bukan alasan untuk membenarkan kebohongan. Dalam keyakinan Islam, setiap perbuatan tetap berada dalam pengetahuan Allah dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

Allah Swt. berfirman:

“Dan katakanlah, ‘Kebenaran telah datang dan yang batil telah lnyap.’ Sungguh, yang batil itu pasti lenyap.”(QS. Al-Isrā’ [17\]: 81)

Karena itu, jangan membangun kehormatan dengan kebohongan. Jangan mempertahankan jabatan dengan manipulasi. Jangan menjaga nama baik organisasi dengan menutupi kesalahan. Dan jangan mengorbankan kebenaran hanya demi menyelamatkan kepentingan sesaat.

Sebab, kehormatan sejati bukanlah kemampuan menyembunyikan keburukan, melainkan keberanian menjaga kejujuran. Bukan kepandaian menghindari pertanggungjawaban, melainkan kesediaan mempertanggungjawabkan setiap amanah.

Pada akhirnya, sejarah mungkin mencatat siapa yang pernah berkuasa, tetapi integritaslah yang menentukan bagaimana kekuasaan itu dikenang.

Bangkai yang disembunyikan mungkin belum terlihat. Bau busuknya mungkin belum tercium. Namun, orang yang bijaksana tidak menunggu sampai kebusukan menyebar untuk mulai membersihkan sumbernya. Nashrun Minallahi Wafathun Qarieb.

 

Tinggalkan Balasan

Search