Sinyal Baru Misteri Bahtera Nabi Nuh

Misteri Kapal Nabi Nuh di Gunung Ararat, Turki. (ist)
www.majelistabligh.id -

Misteri Formasi Durupınar di selatan Gunung Ararat, Turki, memasuki babak baru. Tim peneliti internasional mengklaim menemukan anomali struktur yang kuat di bawah permukaan formasi berbentuk kapal sepanjang 157 meter tersebut berdasarkan hasil pemindaian radar terbaru.

Dilansir dari Daily Mail, Sabtu (26/9/2026), pemindaian menggunakan teknologi radar khusus BakhtarRadar memperlihatkan keberadaan lapisan berbeda, garis lurus, hingga rangkaian sudut siku-siku pada kedalaman sekitar 6 meter.

“Temuan ini menantang anggapan lama bahwa Formasi Durupınar hanyalah sebuah massa batuan alami yang solid. Peneliti menduga pola linear tersebut menyerupai ruang internal, lorong, atau koridor bangunan,” tulis Daily Mail.

Langkah ini menandai pergeseran penting dalam riset Durupınar: dari sekadar pemindaian visual menuju pembuktian fisik. Tim yang dipimpin oleh Dr. Khosrow Bakhtar dan Andrew Jones dari Noah’s Ark Scans kini tengah menganalisis titik paling strategis untuk melakukan pengeboran inti.

Pengeboran ini bertujuan mengambil sampel material dari dalam formasi guna membedakan batuan alami dengan kayu terbatukan (petrified wood) bekas pengerjaan manusia. Jika ditemukan rongga udara di bawah tanah, peneliti berencana menurunkan kamera untuk memetakan bagian dalamnya secara langsung.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa spekulasi ini masih berupa hipotesis kerja yang membutuhkan pengujian ilmiah ketat, bukan kesimpulan akhir yang disepakati publik.

Perspektif Sains dan Al-Qur’an

Secara arkeologis dan geologis, temuan radar belum cukup untuk membuktikan bahwa formasi tersebut adalah peninggalan sejarah Bahtera Nuh. Hingga saat ini, belum ada bukti sampel fisik yang terverifikasi secara independen.

Di sisi lain, mengaitkan temuan Durupınar dengan narasi Al-Qur’an juga memerlukan kecermatan. Dalam surah Hud ayat 44, Al-Qur’an secara eksplisit menyebutkan bahwa bahtera Nabi Nuh berlabuh di Gunung Judi, sementara Formasi Durupınar terletak sekitar 29 kilometer di selatan kawasan Gunung Ararat. Perbedaan lokasi geografis ini menandakan bahwa anomali di Durupınar tidak bisa serta-merta dijadikan konfirmasi atas teks kitab suci.

Bagi umat Islam, nilai utama dari kisah Nabi Nuh berada pada hikmah spiritual—tentang tauhid, ketaatan, dan ketabahan—bukan pada pencarian fisik artefak kapalnya.

Kini, kepastian mengenai misteri Durupınar sepenuhnya bergantung pada sampel material hasil pengeboran, uji laboratorium, dan verifikasi ilmiah terbuka. Pertanyaan terbesarnya bukan lagi seberapa mirip bentuk formasi tersebut dengan kapal, melainkan struktur dan material apa yang sebenarnya tersembunyi di bawah perut bumi. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search