اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِلْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَجَعَلَ عِيدَ الْأَضْحَى مَوْسِمًا لِلتَّضْحِيَةِ وَالتَّرْبِيَةِ وَالْإِحْسَانِ.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Jamaah Idul Adha rahimakumullah,
Hari ini kita bertakbir mengagungkan Allah. Hari ini kita menyembelih hewan kurban. Namun sesungguhnya Idul Adha bukan sekadar tentang darah dan daging.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)
Idul Adha adalah madrasah besar pembentukan manusia. Madrasah tauhid. Madrasah pengorbanan. Madrasah pendidikan generasi.
Dan ketika kita berbicara tentang pendidikan generasi, maka kita tidak bisa melepaskan diri dari kisah agung Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimassalam.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Hari ini umat Islam menghadapi krisis generasi.
Kita memiliki anak-anak yang cerdas, tetapi rapuh mentalnya. Banyak yang pintar berbicara, tetapi miskin adabnya. Dekat dengan gadget, tetapi jauh dari masjid. Cepat mengeluh, mudah menyerah, tidak tahan susah.
Kita hidup di zaman ketika banyak orang tua takut melihat anaknya lelah. Akhirnya anak tumbuh tanpa daya juang.
Padahal generasi besar tidak lahir dari kemewahan. Generasi besar lahir dari perjuangan, keteladanan, dan ketauhidan.
Lihatlah Nabi Ismail ‘alaihis salam.
Beliau tidak dibesarkan di istana. Tidak hidup dalam kemanjaan. Tidak tumbuh di tengah kenyamanan.
Beliau dibesarkan di padang tandus Makkah. Tanpa sungai.Tanpa kebun. Tanpa kemewahan. Tetapi dari padang tandus itulah lahir manusia agung.
Mengapa?
Karena yang dibangun oleh Nabi Ibrahim bukan sekadar tubuh anaknya, tetapi jiwa dan tauhidnya.
Allah berfirman:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ
“Maka ketika Ismail telah sampai pada usia mampu bekerja bersama Ibrahim, Ibrahim berkata: Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” (QS. Ash-Shaffat: 102)
Perhatikan ayat ini!
“Balagha ma‘ahus-sa‘ya” Ismail telah cukup umur untuk bekerja bersama ayahnya.
Artinya apa?
Nabi Ibrahim mendidik anaknya menjadi anak yang mandiri. Bukan generasi pemalas. Bukan generasi yang hanya menuntut hak tetapi lupa tanggung jawab.
Hari ini banyak anak tahu cara meminta… tetapi tidak tahu cara berjuang.
Banyak yang ingin hasil besar… tetapi tidak siap bersusah payah.
Padahal Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى
“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Islam mengajarkan kemandirian. Islam membangun manusia pekerja keras. Islam membenci kemalasan.
Rasulullah ﷺ bahkan berlindung kepada Allah dari sifat lemah dan malas:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jamaah Idul Adha rahimakumullah,
Yang lebih luar biasa lagi adalah pendidikan adab dalam keluarga Ibrahim.
Perhatikan cara Nabi Ibrahim berbicara:
يَا بُنَيَّ
“Wahai anakku tercinta…”
Lembut.
Penuh kasih sayang.
Penuh penghormatan.
Dan lihat jawaban Ismail:
يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)
Lihat adabnya! Tidak membantah. Tidak melawan. Tidak mencaci orang tua.
Inilah generasi beradab.
Hari ini ilmu banyak, tetapi adab sedikit.
Sekolah megah berdiri di mana-mana… tetapi penghormatan kepada orang tua semakin hilang.
Media sosial dipenuhi kecerdasan… tetapi miskin akhlak.
Padahal para ulama mengatakan:
الْأَدَبُ فَوْقَ الْعِلْمِ
“Adab itu lebih tinggi daripada ilmu.”
Ilmu tanpa adab melahirkan kesombongan. Teknologi tanpa iman melahirkan kerusakan. Kecerdasan tanpa tauhid melahirkan kehancuran.
Karena itu Idul Adha hari ini harus menjadi momentum kebangkitan pendidikan umat.
Jangan hanya mewariskan harta kepada anak-anak kita…
wariskan juga iman.
Wariskan adab.
Wariskan daya juang.
Wariskan semangat pengorbanan.
Jangan didik anak hanya agar sukses dunia…
tetapi didiklah mereka agar kuat memikul amanah peradaban.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Kita membutuhkan generasi Ismail pada zaman ini.
Generasi yang kuat aqidahnya. Kuat ilmunya. Kuat mentalnya. Kuat adabnya.
Bukan generasi yang hidup hanya mengejar kesenangan. Bukan generasi yang larut dalam hiburan dan kemalasan.
Umat ini tidak akan bangkit hanya dengan pembangunan fisik. Tapi umat ini akan bangkit bila keluarga-keluarga Muslim kembali melahirkan generasi bertauhid dan berakhlak.
Karena itu wahai para orang tua…
Jangan hanya sibuk mencarikan warisan untuk anak-anak kita. Siapkan juga warisan iman.
Jangan hanya sibuk memasukkan anak ke sekolah terbaik. Tetapi lupa menjadi teladan terbaik.
Anak-anak tidak hanya mendengar ucapan kita… mereka meniru kehidupan kita.
Jika rumah kehilangan shalat… maka jangan heran bila anak kehilangan arah.
Jika orang tua kehilangan adab… maka jangan salahkan anak ketika tumbuh tanpa hormat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jamaah rahimakumullah,
Muhammadiyah sejak awal berdiri memahami bahwa kebangkitan umat dimulai dari pendidikan.
Karena itu dakwah tidak cukup hanya di mimbar. Dakwah harus melahirkan sekolah. Melahirkan kader. Melahirkan generasi berilmu dan beradab.
Kita ingin melahirkan generasi yang: tajam pikirannya, bersih akidahnya, santun lisannya, kuat kerja kerasnya, dan siap berjuang untuk umat.
Inilah spirit Nabi Ismail. Spirit pengorbanan. Spirit ketangguhan. Spirit ketaatan. Spirit adab.
Maka jadikan Idul Adha hari ini bukan sekadar ritual tahunan… tetapi momentum membangun kembali peradaban Islam melalui pendidikan generasi.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ شَبَابَنَا، وَاحْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا، وَاجْعَلْهُمْ جِيْلًا مُؤْمِنًا صَالِحًا، مُتَعَلِّمًا، مُؤَدَّبًا، مُجَاهِدًا فِيْ سَبِيْلِكَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَاءً رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
