Cinta Tanah Air Bukan Sekadar Slogan, tetapi Amanah Pengabdian

Cinta Tanah Air Bukan Sekadar Slogan, tetapi Amanah Pengabdian
*) Oleh : Muhammad Hidayatulloh
Pengurus PRM Berbek dan Pengasuh Kajian Tafsir Al Qur'an di Masjid Al Huda Berbek Sidoarjo.
www.majelistabligh.id -

Cinta tanah air tidak cukup diteriakkan dalam upacara, tidak cukup dikibarkan dalam simbol-simbol kebangsaan, dan tidak cukup dibuktikan dengan kebanggaan terhadap negeri. Cinta tanah air harus menjelma menjadi amal nyata: menjaga, membangun, melayani, dan memberikan yang terbaik bagi bangsa.

Seorang Muslim tidak diajarkan untuk bertanya terlebih dahulu, “Apa yang telah negeri ini berikan kepadaku?” tetapi bertanya, “Apa yang dapat aku persembahkan untuk kemaslahatan negeri ini?”

Sebab kehidupan seorang mukmin bukanlah tentang seberapa banyak ia mengambil, melainkan seberapa besar ia memberi manfaat. Jabatan adalah amanah. Ilmu adalah amanah. Kekuasaan adalah amanah. Harta adalah amanah. Bahkan kesempatan hidup di tengah masyarakat pun merupakan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Karena itu, jabatan tidak boleh menjadi jalan memperbesar kepentingan pribadi, tetapi harus menjadi jalan memperluas pengabdian.

Semakin tinggi kedudukan seseorang, semestinya semakin luas manfaat yang dapat diberikan. Semakin tinggi pendidikannya, semestinya semakin dalam tanggung jawab intelektualnya. Semakin panjang pengalaman hidupnya, semestinya semakin banyak kebijaksanaan yang diwariskan kepada generasi sesudahnya.

Maka bagi seorang ASN, pensiun dari jabatan tidak berarti pensiun dari pengabdian. Yang pensiun adalah kewenangan administratif; bukan amanah kemanusiaan. Yang berakhir adalah tugas kedinasan; bukan tanggung jawab sebagai hamba Allah dan warga negara.

Seorang pensiunan yang masih memiliki ilmu dapat mengajar. Yang memiliki pengalaman dapat membimbing. Yang memiliki jaringan dapat menguatkan masyarakat. Yang memiliki kemampuan ekonomi dapat memberdayakan. Yang memiliki keluasan pemikiran dapat ikut menyelesaikan persoalan umat dan bangsa.

Pengabdian tidak mengenal masa pensiun.

Demikian pula gelar. Gelar akademik bukan mahkota untuk mempertinggi diri, tetapi tanda tanggung jawab untuk mempertinggi kemanfaatan. Jangan sampai seseorang memiliki banyak gelar tetapi miskin kontribusi; memiliki kedudukan tetapi kehilangan keteladanan; memiliki kekuasaan tetapi tidak memiliki amanah.

Dalam perspektif dakwah, inilah bagian dari amar ma’ruf: membangun manusia yang jujur, amanah, kompeten, dan bermanfaat bagi kehidupan.

Sebab negeri ini bukan milik para penguasa semata. Negeri ini bukan milik birokrat. Negeri ini bukan milik kelompok tertentu. Negeri ini adalah amanah bersama yang harus dijaga bersama.

Karena itu, korupsi bukan sekadar mengambil uang negara. Ia adalah merampas hak rakyat. Penyalahgunaan jabatan bukan sekadar pelanggaran prosedur. Ia adalah pengkhianatan terhadap amanah. Manipulasi bukan sekadar kebohongan administratif. Ia adalah kerusakan moral. Dan pengkhianatan terhadap bangsa bukan sekadar persoalan politik; ia adalah kehancuran amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Tidak mungkin seseorang mengaku mencintai tanah air, tetapi pada saat yang sama merusaknya dari dalam.

Jangan mengaku mencintai negeri jika masih tega mengambil hak rakyat. Jangan mengaku mengabdi jika jabatan dijadikan kesempatan memperkaya diri. Jangan bangga dengan gelar jika ilmu tidak melahirkan manfaat. Jangan bangga dengan kekuasaan jika rakyat justru menjadi korban.

Dakwah tidak hanya berbicara tentang masjid dan mimbar. Dakwah juga berbicara tentang bagaimana seorang Muslim menghadirkan kejujuran di birokrasi, keadilan dalam kekuasaan, profesionalitas dalam pekerjaan, keteladanan dalam kepemimpinan, dan kemaslahatan dalam kehidupan berbangsa.

Inilah cinta tanah air yang berakar pada iman: bukan cinta yang menuntut untuk dilayani, tetapi cinta yang mendorong diri untuk melayani.

Karena pada akhirnya, yang akan ditanyakan bukan seberapa tinggi jabatan yang pernah kita duduki, tetapi amanah apa yang telah kita tunaikan; bukan berapa banyak fasilitas yang kita terima, tetapi berapa banyak manfaat yang kita berikan; bukan seberapa lama kita berkuasa, tetapi seberapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karena kehadiran kita.

Negeri ini adalah amanah.
Jabatan adalah amanah.
Ilmu adalah amanah.
Dan pengabdian adalah jalan pertanggungjawaban kepada Allah.

Maka jangan pensiunkan pengabdian ketika jabatan berakhir.

Selama masih hidup, masih ada yang dapat dilakukan.
Selama masih memiliki ilmu, masih ada yang dapat diajarkan.
Selama masih memiliki kemampuan, masih ada yang dapat dipersembahkan.
Dan selama negeri ini membutuhkan kebaikan, seorang Muslim tidak boleh berhenti mengabdi. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search