Semangat meningkatkan kapasitas kader dakwah terus dilakukan Madrasah Muballighin-Muballighat Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Pucuk, Lamongan. Memasuki pertemuan ke-4, kegiatan pendidikan dan pembinaan calon muballigh serta muballighot tersebut kembali digelar di SMP Muhammadiyah 6 Pucuk, Ahad (16/8/2026) pagi.
Kegiatan diikuti sekitar 30 peserta yang berasal dari lingkungan Muhammadiyah dan masyarakat sekitar. Para peserta tampak antusias mengikuti proses pembelajaran yang berlangsung dalam suasana serius namun tetap komunikatif.
Pada pertemuan kali ini, peserta mendapatkan dua materi utama. KH Sanusi, S.Pd. menyampaikan materi Bahasa Arab, khususnya Nahwu dan Shorof.
“Materi ini penting dalam pembinaan kader dakwah karena kemampuan memahami struktur dan perubahan kata dalam bahasa Arab sangat menunjang pemahaman terhadap sumber-sumber ajaran Islam,” jelasnya.
Sementara itu, materi Fikih Ibadah disampaikan oleh Ustadz Mubarok, S.Pd. Pembelajaran diarahkan untuk memperkuat pemahaman peserta mengenai berbagai ketentuan dan tata cara ibadah sesuai tuntunan Islam.
Suasana pembelajaran terlihat aktif. Peserta mengikuti penjelasan pemateri, mencatat materi, serta menyimak bahan pembelajaran yang ditampilkan melalui layar. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi peserta untuk memperdalam keilmuan sekaligus membangun kebersamaan antarkader dakwah.
Madrasah Muballighin-Muballighat PCM Pucuk merupakan bagian dari ikhtiar Muhammadiyah dalam menyiapkan kader dakwah yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kemampuan menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat.
Pembelajaran Bahasa Arab, Nahwu-Shorof, Fikih, dan materi keislaman lainnya diharapkan dapat menjadi bekal bagi peserta untuk menjalankan tugas dakwah secara lebih baik. Tidak hanya memahami ajaran Islam, para peserta juga diharapkan mampu mengamalkannya dan menyampaikannya secara bijaksana, mencerahkan, dan berkemajuan.
Memasuki pertemuan ke-4, kegiatan Madrasah Muballighin-Muballighat PCM Pucuk menunjukkan bahwa proses kaderisasi dakwah terus berjalan. Antusiasme sekitar 30 peserta menjadi modal penting untuk melahirkan generasi muballigh dan muballighot yang siap berkiprah di tengah masyarakat. (*/tim)
