Tidak semua perempuan langsung dipertemukan dengan suami yang lembut, sabar, dan paham agama sejak awal.
Ada yang diuji dengan suami yang emosinya masih tinggi.
Ada yang diuji dengan suami yang masih lalai ibadah.
Ada juga yang diuji dengan suami yang masih belajar menjadi pemimpin yang baik.
Dan mungkin itu berat. Karena setiap istri pasti ingin dibimbing. Ingin dipeluk dengan lembut. Ingin ditemani menuju Allah bersama-sama.
Tapi ternyata, tidak semua rumah tangga dimulai dari laki-laki yang sudah selesai dengan dirinya. Ada yang masih sama-sama berproses.
Karena itu selama dia masih berusaha menjadi lebih baik, selama dia masih mau belajar, dan selama dia masih memperlakukanmu dengan baik, jangan lelah mendoakannya.
Karena tugas seorang istri bukan mengubah suaminya dalam semalam. Tapi menjaga suaminya dalam semalam. Menjaga dirinya tetap baik, tetap sabar, dan tetap dekat dengan Allah di tengah proses panjang itu.
Siapa tahu air matamu dalam doa, kesabaranmu hari ini, dan caramu tetap bertahan dalam kebaikan menjadi jalan Allah melembutkan hatinya sedikit demi sedikit.
Aku pernah membaca cerita seorang istri yang berkata:
“Aku sering menangis habis salat karena capek menghadapi suami. Tapi setiap kali aku ingin menyerah, aku ingat, mungkin Allah memang sedang menguji caraku mencintai.”
Kalimat itu bikin aku sadar, kadang pernikahan bukan tentang mendapatkan pasangan yang langsung sempurna. Tapi tentang dua orang yang sama-sama masih belajar menuju lebih baik.
Semoga bermanfaat.
