Teknologi Makin Maju, Fitnah Kehidupan Makin Marak

www.majelistabligh.id -

Anggota Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakarta, Arif Rahman, mengajak umat Islam untuk memperkuat rasa syukur, menata hati, serta membiasakan tabayun dalam menghadapi berbagai fitnah dan ujian kehidupan pada era modern.

Pesan tersebut disampaikannya di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan, Jumat (31/7/2026).

Arif mengingatkan bahwa seluruh nikmat yang dirasakan manusia merupakan karunia Allah Swt. Kehidupan yang dijalani, kesempatan beribadah, hingga berbagai pencapaian merupakan perpaduan antara ikhtiar manusia dan ketetapan Allah.

Menurutnya, kesadaran akan keterbatasan manusia semestinya melahirkan rasa syukur yang diwujudkan melalui ketaatan kepada Allah dengan menjauhi segala larangan-Nya, termasuk perkara-perkara yang syubhat.

“Rasa syukur tidak cukup hanya terucap di lisan, tetapi harus sejalan dengan upaya menjauhi segala yang dilarang Allah. Bahkan menjauhi perkara syubhat, apalagi menjadi bagian dari kemungkaran,” ujarnya.

Arif kemudian mengajak jamaah untuk menyadari bahwa kehidupan modern yang penuh kemajuan teknologi juga membawa berbagai bentuk fitnah. Di tengah kemudahan komunikasi dan penyebaran informasi, manusia justru menghadapi ujian yang semakin kompleks.

Ia menjelaskan bahwa istilah fitnah dalam Islam tidak semata-mata berarti tuduhan atau berita bohong. Harta, jabatan, keluarga, bahkan berbagai kenikmatan hidup juga merupakan bentuk ujian dari Allah.

Ia mengutip firman Allah dalam Surah al-Anfāl ayat 28,

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu hanyalah sebagai cobaan, dan sesungguhnya di sisi Allah pahala yang besar.”

Menurut Arif, manusia sering kali lebih mudah menyadari ujian berupa musibah daripada menyadari bahwa kenikmatan justru merupakan ujian yang lebih berat.

Dalam menghadapi berbagai ujian tersebut, Arif menekankan pentingnya menjalankan amar makruf nahi munkar. Ia mengingatkan bahwa seorang muslim tidak boleh bersikap pasif ketika melihat kemungkaran terjadi di hadapannya.

Ia mengutip sabda Nabi Muhammad saw.,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya. Jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.”

Menurutnya, setiap orang memiliki peran sesuai kapasitasnya. Seorang pemimpin memiliki kewajiban menggunakan kewenangannya untuk mencegah kemungkaran. Seorang sahabat hendaknya menasihati sahabatnya agar tidak terjerumus dalam keburukan. Begitu pula tetangga memiliki tanggung jawab sosial untuk saling mengingatkan.

Ia menjelaskan bahwa hati memiliki sifat mudah berubah sehingga harus terus dijaga. Karena itu, zikir kepada Allah menjadi salah satu jalan agar hati tetap tenang di tengah berbagai ujian kehidupan.

Selain menjaga hati, Arif menekankan pentingnya budaya tabayun. Menurutnya, tradisi ilmiah para ulama dalam meneliti hadis memberikan teladan tentang pentingnya melakukan verifikasi sebelum menerima atau menyebarkan informasi.

“Bila proses tabayun tidak dilakukan, kemudian kita langsung menganggap suatu informasi sebagai kebenaran, maka sesungguhnya kita sedang membenarkan sebuah kejahatan,” tegasnya.

Arif menilai ironi zaman modern terletak pada melimpahnya kemudahan memperoleh informasi, tetapi di saat yang sama masyarakat semakin mudah menyebarkan kabar yang belum terverifikasi. Padahal, menurutnya, Islam hadir untuk menegakkan kebenaran melalui proses yang benar. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search