Suli Da’im: Kader ‘Aisyiyah Harus Menjadi Agen Perubahan yang Menggerakkan Ranting dan Peradaban

Suli Da'im: Kader 'Aisyiyah Harus Menjadi Agen Perubahan yang Menggerakkan Ranting dan Peradaban
www.majelistabligh.id -

Majelis Pembinaan Kader Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Jawa Timur menyelenggarakan kegiatan ‘Aisyiyah Cadre Camp (ACC) secara daring melalui aplikasi Zoom, Selasa (16/6/2026). Kegiatan yang diikuti hampir 300 peserta dari unsur Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) dan Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) se-Jawa Timur ini menghadirkan Dr H Suli Da’im, MM sebagai narasumber dengan tema “Capacity Building: Kader Sebagai Agen Perubahan”.

Dalam paparannya, Suli Da’im menegaskan bahwa kemajuan sebuah ranting tidak ditentukan oleh besarnya dana atau megahnya fasilitas yang dimiliki, melainkan oleh kualitas kader yang mampu menjadi penggerak perubahan di tengah masyarakat.

“‘Aisyiyah selama lebih dari satu abad telah membuktikan diri sebagai gerakan perempuan Islam yang menghadirkan solusi bagi persoalan bangsa melalui bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, dan pemberdayaan perempuan. Semua itu lahir karena adanya kader-kader yang memiliki kapasitas dan semangat perubahan,” ujarnya.

Suli Da'im: Kader 'Aisyiyah Harus Menjadi Agen Perubahan yang Menggerakkan Ranting dan Peradaban

Menurut anggota DPRD empat periode tersebut, terdapat perbedaan mencolok antara ranting yang hidup dan berkembang dengan ranting yang berjalan di tempat. Faktor pembeda utamanya adalah kualitas kepemimpinan dan kapasitas kader yang dimiliki.

“Ranting tidak bergerak karena gedungnya bagus, tidak pula karena dananya besar. Ranting bergerak karena memiliki kader yang mampu menjadi agen perubahan,” tegas Wakil Ketua Fraksi PAN DPRD Jawa Timur tersebut.
Kader Harus Menjadi Pelopor, Penggerak, dan Penyelesai Masalah.

Mengacu pada teori perubahan sosial, Suli Da’im menjelaskan bahwa kader ‘Aisyiyah harus mampu menjalankan tiga peran utama sebagai agen perubahan, yaitu sebagai pelopor, penggerak, dan penyelesai masalah.

Sebagai pelopor, kader harus mampu melihat peluang sebelum orang lain melihatnya. Sebagai penggerak, kader dituntut mampu mengorganisasi dan mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan kemaslahatan. Sedangkan sebagai penyelesai masalah, kader harus mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan umat dan masyarakat.

“Kaderisasi tidak boleh hanya menghasilkan peserta pengajian, tetapi harus melahirkan pemimpin-pemimpin perubahan,” katanya.

Studi Kasus Penguatan Ranting
Dalam sesi yang berlangsung interaktif, Suli Da’im menggunakan pendekatan studi kasus untuk mengidentifikasi berbagai persoalan yang sering dihadapi ranting-ranting ‘Aisyiyah.

Kasus pertama yang dibahas adalah fenomena “Ranting Ada, Kegiatan Tidak Ada”. Menurutnya, banyak ranting memiliki pengurus lengkap, anggota cukup banyak, bahkan memiliki gedung dan masjid, namun minim aktivitas. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh budaya menunggu instruksi, tidak adanya program prioritas, pembagian tugas yang tidak jelas, serta ketiadaan target kerja.

Solusi yang ditawarkan adalah membangun budaya inisiatif dan memulai program sederhana namun berkelanjutan seperti pengajian rutin, santunan sosial, dan pendampingan keluarga. “Organisasi tidak bergerak karena struktur. Organisasi bergerak karena kepemimpinan,” urai mantan Ketua Umum PW Pemuda Muhammadiyah jatim.

Kasus kedua membahas fenomena “Anggota Banyak, Kader Sedikit”. Meskipun pengajian selalu ramai, sering kali sulit menemukan kader yang bersedia menjadi panitia atau pimpinan kegiatan. Penyebabnya antara lain rendahnya kepercayaan diri dan kurangnya kesempatan memimpin.

Untuk mengatasinya, ia mendorong penerapan delegasi dan kaderisasi yang nyata dengan memberi kesempatan kepada kader baru untuk menjadi moderator, MC, ketua panitia, maupun narasumber. “Pemimpin tidak dilahirkan, tetapi dibentuk melalui pengalaman,” tegasnya.

Kasus berikutnya menyoroti kader yang memiliki kapasitas akademik tinggi namun kurang memahami persoalan masyarakat. Menurut Dosen FEB Umsura tersebut, kader harus lebih banyak turun ke lapangan dan melakukan pemetaan persoalan sosial seperti stunting, pernikahan dini, kemiskinan, putus sekolah, kekerasan terhadap perempuan, dan kesehatan keluarga.”Kepekaan sosial lebih penting daripada sekadar kepintaran akademik,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga membahas tantangan regenerasi dan keterlibatan generasi muda dalam organisasi. Menurutnya, kegiatan yang monoton serta kurangnya pemanfaatan teknologi menjadi salah satu faktor penyebab rendahnya partisipasi kader muda.

Karena itu, ranting perlu beradaptasi dengan perkembangan digital melalui pemanfaatan WhatsApp Community, Instagram, TikTok edukatif, hingga podcast dakwah perempuan.”Anak muda tidak ingin hanya didengar. Mereka ingin dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan,” jelasnya

Sementara terkait konflik internal organisasi, Suli Da’im mengingatkan pentingnya mengedepankan nilai ukhuwah, musyawarah, dan amanah dalam setiap dinamika organisasi.”Konflik bukan masalah. Ketidakmampuan mengelola konflik itulah yang menjadi masalah,” katanya.

Enam Kapasitas Kader Masa Depan
Pada bagian akhir materinya, Suli Da’im menegaskan bahwa kader ‘Aisyiyah masa depan harus memiliki enam kapasitas utama, yaitu kapasitas ideologis, kapasitas kepemimpinan, kapasitas sosial, kapasitas manajerial, kapasitas komunikasi, dan kapasitas digital.

Menurutnya, keberhasilan kaderisasi tidak diukur dari banyaknya peserta pelatihan, melainkan dari lahirnya kader yang mampu menggerakkan ranting, memberdayakan masyarakat, memecahkan persoalan sosial, dan menghadirkan perubahan nyata.

“Ranting adalah ujung tombak gerakan. Jika ranting hidup maka cabang hidup. Jika cabang hidup maka daerah hidup. Dan jika daerah hidup, maka ‘Aisyiyah akan terus menjadi kekuatan perempuan Islam yang mencerahkan bangsa,” tuturnya.

Menutup paparannya, Suli Da’im mengajak seluruh peserta ACC untuk menjadi kader yang tidak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi berani menjadi pelaku perubahan. “Kader terbaik bukan yang paling banyak bicara, tetapi yang paling banyak memberi manfaat bagi umat dan masyarakat,” pungkas mantan Ketua LHKP PWM Jatim tersebut. (*/tim)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search