Tauhid tidak cukup hanya diyakini dan diucapkan, tetapi harus dijaga sepanjang kehidupan. Salah satu sikap penting dalam menjaga tauhid adalah memiliki rasa takut terhadap syirik.
Dalam Kitab Tauhid, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab secara khusus membuat bab “Takut terhadap Syirik”. Penempatan bab ini menunjukkan bahwa seorang Muslim tidak boleh merasa dirinya sudah aman dari kesyirikan. Semakin memahami pentingnya tauhid, semakin besar pula kesadarannya untuk menjaga diri dari segala sesuatu yang dapat merusaknya.
Dasar penting pembahasan ini adalah firman Allah,
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik kepada-Nya dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki” (QS. An-Nisa: 48).
Ayat ini menunjukkan betapa seriusnya syirik. Syirik merupakan dosa yang berkaitan langsung dengan hak Allah dalam ibadah. Jika seseorang meninggal dalam keadaan melakukan syirik besar dan tidak bertobat, maka dosa tersebut tidak mendapatkan ampunan. Karena itu, rasa takut terhadap syirik bukanlah sikap berlebihan, melainkan bentuk kewaspadaan dalam menjaga keselamatan iman.
Hal yang menarik, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab juga mengutip doa Nabi Ibrahim as: “Ya Rabbku, jauhkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah berhala” (QS. Ibrahim: 35).
Ibrahim adalah seorang nabi yang dikenal sebagai imam orang-orang yang bertauhid. Beliau bahkan menghancurkan berhala-berhala kaumnya. Namun, beliau tetap memohon kepada Allah agar dijauhkan dari penyembahan berhala.
Pelajaran yang sangat kuat dari doa tersebut adalah bahwa orang yang memiliki ilmu dan telah lama beribadah pun tidak boleh merasa aman dari syirik. Jika Nabi Ibrahim saja takut terhadapnya, manusia biasa tentu lebih membutuhkan kewaspadaan. Rasa takut tersebut seharusnya mendorong seorang Muslim untuk terus belajar tentang tauhid, mengenali bentuk-bentuk syirik, serta berdoa agar Allah meneguhkan hatinya di atas iman.
Dalam Kitab Tauhid, perhatian juga diberikan kepada syirik kecil, seperti riya, yaitu melakukan ibadah agar dilihat atau dipuji manusia. Rasulullah memperingatkan umatnya tentang syirik kecil dan menjelaskan bahwa riya termasuk di dalamnya. Ini menunjukkan bahwa syirik tidak selalu hadir dalam bentuk menyembah patung atau berhala. Ia juga dapat muncul dalam orientasi hati ketika ibadah yang seharusnya ditujukan kepada Allah tercampur dengan keinginan mendapatkan penilaian manusia.
Dalam kehidupan sehari-hari, sikap takut terhadap syirik berarti tidak menggantungkan keselamatan kepada jimat, sesaji, benda keramat, ramalan, atau kekuatan gaib selain Allah. Seorang Muslim juga harus berhati-hati dalam meminta pertolongan kepada makhluk pada perkara yang menjadi kekhususan Allah. Tradisi atau budaya boleh dijaga selama tidak bertentangan dengan tauhid. Namun, ketika suatu praktik mengandung penyekutuan terhadap Allah, tradisi tersebut harus ditinggalkan.
Dengan demikian, takut terhadap syirik bukan berarti hidup dalam kecemasan, tetapi hidup dalam kewaspadaan iman. Rasa takut yang benar akan melahirkan ilmu, doa, ketergantungan kepada Allah, dan kesungguhan menjaga ibadah agar tetap ikhlas. Tauhid adalah harta terbesar seorang Muslim; karena itu, ia harus dijaga dengan serius sampai akhir kehidupan. (*)
