Pagi ini, Senin, 8 Zulhijah 1447 H/25 Mei 2026, jutaan umat manusia beriman mulai bergerak perlahan. Sebagian menuju Mina untuk menunaikan tarwiyah, sebuah amalan yang disunnahkan oleh Rasulullah ‘alaihissalām, dengan melaksanakan salat lima waktu: Zuhur, Asar, Magrib, Isya, hingga Subuh keesokan harinya. Sementara itu, sebagian besar lainnya langsung bergerak menuju Arafah untuk mempersiapkan wukuf sebagai puncak ibadah haji, yang jatuh pada Selasa, 9 Zulhijah 1447 H/26 Mei 2026.
Penyebutan hari ke delapan Zulhijah sebagai hari Tarwiyah merujuk pada dua dimensi makna: fisik dan spiritual atau ruhaniah.
Dimensi fisik dari tarwiyah dapat dipahami dari makna harfiahnya, yakni “penghilangan dahaga”. Hal ini dijelaskan oleh al-Bābartī dalam kitab al-‘Ināyah Syarḥ al-Hidāyah (II/467). Menurutnya, pada hari ini orang-orang yang berhaji menyiapkan logistik dan berbagai keperluan mereka, terutama dengan mengonsumsi air minum secukupnya untuk menghilangkan dahaga, termasuk membawa air dalam bejana menuju Arafah dan Mina.
Adapun dimensi spiritual atau ruhaniah dari tarwiyah dijelaskan oleh al-Imam Fakhr al-Dīn al-Rāzī (544–606 H) dalam karya monumentalnya, Tafsīr Mafātīḥ al-Ghaib (V/324). Menurut beliau, tarwiyah mengandung tiga makna.
Pertama, ketika Nabi Adam ‘alaihissalām diperintah untuk membangun sebuah rumah, ia berpikir dan berkata, “Tuhanku, sesungguhnya setiap orang yang bekerja akan mendapatkan imbalan. Maka, apa imbalan yang akan aku peroleh dari pekerjaan ini?” Allah subḥānahu wa ta‘ālā menjawab, “Ketika engkau melakukan tawaf di tempat ini, Aku akan mengampuni dosa-dosamu pada putaran pertama tawafmu.” Nabi Adam ‘alaihissalām memohon, “Tambahlah imbalanku.” Allah menjawab, “Aku akan memberikan ampunan kepada keturunanmu apabila mereka melakukan tawaf di sini.” Ia kembali memohon, “Tambahlah imbalanku.” Allah menjawab, “Aku akan mengampuni dosa setiap orang dari keturunanmu yang mengesakan Allah Ta‘ālā dan memohon ampunan saat melaksanakan tawaf.”
Kedua, Nabi Ibrahim ‘alaihissalām bermimpi pada malam Tarwiyah, seakan-akan ia hendak menyembelih putranya. Ketika pagi tiba, ia berpikir dan merenung: apakah mimpi itu berasal dari Allah subḥānahu wa ta‘ālā atau dari setan? Pada malam Arafah, mimpi itu datang kembali, disertai perintah untuk menyembelih. Maka Nabi Ibrahim ‘alaihissalām berkata, “Aku mengetahui, wahai Tuhanku, bahwa mimpi itu berasal dari-Mu.”
Ketiga, penduduk Makkah keluar pada hari Tarwiyah menuju Mina. Di sana, mereka mulai merenungkan doa-doa yang akan mereka panjatkan keesokan harinya, pada hari Arafah.
Saya lebih condong memilih makna kedua sebagaimana juga ditegaskan oleh al-Imam al-‘Ainī (w. 855 H) dalam kitabnya al-Bināyah Syarḥ al-Hidāyah (IV/211). Tarwiyah bukan semata-mata aktivitas fisik dan urusan logistik, melainkan lebih mendasar dan holistik dalam kerangka besar spiritualitas haji: menunda sejenak demi kontemplasi atau perenungan mendalam. Artinya, dalam menjalani hidup ini, seseorang perlu bersabar, mengikuti rotasi proses manusiawi, dan “ojo kesusu” dalam makna yang seluas-luasnya.
Sebab itulah, hari Tarwiyah dilalui oleh jemaah haji dengan menunaikan salat lima waktu, memperbanyak talbiyah, selawat, istigfar, tobat, sedekah, dan berbagai amalan sunnah lainnya. Semuanya larut dalam suasana syahdu: perenungan, muhasabah, dan munajat-munajat terbaik kepada Allah.
Sebagai sosok monumental dalam peristiwa Tarwiyah pada masa lalu, penting bagi kita untuk merenungkan kembali perjalanan spiritual Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalām, yang dipuji oleh Allah dalam kalam-Nya, Surah al-Naḥl ayat 120–122:
>إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ . شَاكِرًا لِأَنْعُمِهِ اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ . وَآَتَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَإِنَّهُ فِي الْآَخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang ummah yang dapat dijadikan teladan, patuh kepada Allah, lagi hanif. Ia bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. Ia mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Sesungguhnya di akhirat, ia benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.”
Tidak lama setelah kebersamaannya dengan istrinya, Hajar, dan putranya, Ismail ‘alaihissalām, di tanah tandus yang tidak berpohon, Ibrahim ‘alaihissalām diperintah Allah untuk kembali meneruskan dakwahnya di Syam.
Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa ketika Ibrahim ‘alaihissalām berpaling untuk berangkat kembali dan meninggalkan mereka berdua, Hajar mengikutinya seraya berkata, “Wahai Ibrahim, ke mana engkau akan pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami di tempat yang tidak berpenghuni ini?”
Berkali-kali Hajar menyeru, tetapi Ibrahim ‘alaihissalām sedikit pun tidak menoleh. Lalu Hajar bertanya, “Apakah ini perintah Allah?” Ibrahim ‘alaihissalām menjawab, “Benar.” Maka Hajar, dengan penuh tawakal kepada Allah Swt., berkata, “Kalau begitu, Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan kami.”
Ibrahim pun berlalu meninggalkan mereka. Ketika telah sampai di suatu tempat dan tidak lagi terlihat oleh keluarganya, beliau berpaling kembali sambil mengangkat kedua tangannya, lalu berdoa:
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman-tanaman, di dekat rumah-Mu, Baitullah yang dihormati. Ya Tuhan kami, yang demikian itu agar mereka mendirikan salat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki berupa buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrāhīm: 37)
Perjalanan ruhaniah dan pergolakan spiritual Khalīlullāh Ibrahim ‘alaihissalām dalam menunaikan perintah penyembelihan putranya dapat kita tadaburi dalam Surah al-Ṣāffāt ayat 102:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Maka tatkala anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Ia menjawab, ‘Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah, engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’”
Al-Imam Ibn Jarīr al-Ṭabarī dalam tafsirnya meriwayatkan ungkapan kasih seorang anak kepada ayah yang sangat dicintainya menjelang penyembelihan dirinya:
“Wahai ayahku tercinta, sungguh maut itu sangat menyakitkan. Jika engkau hendak menyembelihku, maka kuatkanlah ikatan tali di tubuhku agar aku tidak bergerak dan menyakitimu, sebab hal itu dapat mengurangi pahalaku.
Tajamkanlah ujung pedangmu agar engkau benar-benar dapat menyembelihku dengan baik, sehingga aku pun dapat menerimanya dengan lapang. Jika engkau membaringkanku di tempat penyembelihan, balikkanlah wajahku menghadap ke tanah. Janganlah engkau memandang wajahku, karena aku khawatir engkau akan merasa kasihan kepadaku sehingga hal itu menghalangimu untuk taat kepada Allah.
Jika engkau menginginkan bekas bajuku yang bersimbah darah untuk diperlihatkan kepada ibuku agar ia dapat berbahagia denganku, aku persilakan engkau, wahai ayahku.”
Ibrahim ‘alaihissalām menjawab, “Betapa engkau adalah buah hati yang sangat menggembirakanku dalam melaksanakan perintah Allah, wahai anakku.”
Sungguh, inilah potret kontemplasi kehidupan dan kepasrahan total yang autentik—istislām—kepada Allah Ta‘ālā, Tuhan Pencipta kita.
Allāhu Akbar!
