Integritas dan Produktivitas sebagai Indikator Ketakwaan

Integritas dan Produktivitas sebagai Indikator Ketakwaan
www.majelistabligh.id -

Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Kabupaten Nganjuk, Muhammad Roissudin, M. Pd menegaskan bahwa integritas dan produktivitas kerja merupakan salah indikator utama ketakwaan bagi seorang muslim.

Hal ini menjadi relevan di tengah maraknya pejabat yang tersandung kasus hukum, yang menunjukkan lemahnya komitmen terhadap amanah dan nilai moral dalam menjalankan jabatan. Hal tersebut disampaikan dalam khutbah Jumat di Masjid Al Ikhlas Polres Nganjuk, Jumat (31/07/2026).

Dalam penyampaiannya, Roissudin menekankan bahwa ketakwaan tidak boleh dipahami secara sempit sebatas ibadah ritual, tetapi harus tercermin dalam kualitas kerja dan tanggung jawab sosial.

Ia menyebut bahwa integritas adalah manifestasi nyata dari ketakwaan, sementara produktivitas kerja menjadi bukti konkret dari kesungguhan dalam menunaikan amanah, baik sebagai individu, pemimpin, maupun pelayan masyarakat.

Dalam khutbahnya, ia mengurai makna ketakwaan sebagai pendorong utama produktivitas kerja. “Makna ketakwaan sejatinya tidak berhenti pada ibadah ritual semata, tetapi harus melahirkan produktivitas kerja yang nyata.

Ketakwaan mendorong setiap pribadi untuk bekerja lebih baik, lebih jujur, dan lebih bertanggung jawab, karena ia sadar bahwa setiap amal akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT,” ujarnya di hadapan jamaah.

Ia juga mengutip firman Allah dalam QS. At-Taubah ayat 105 sebagai landasan teologis dalam bekerja. “Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin…

Ayat ini menegaskan bahwa setiap pekerjaan kita berada dalam pengawasan Allah, sehingga bekerja bukan sekadar memenuhi target pimpinan, tetapi sebagai bentuk ibadah dan pengabdian kepada-Nya,” lanjutnya.

Lebih jauh, Roissudin menegaskan bahwa amanah harus dijalankan dengan kesadaran spiritual, bukan semata karena pengawasan atasan. “Menunaikan amanah tidak boleh didasarkan pada ada atau tidaknya pimpinan. Integritas seorang mukmin diuji ketika ia bekerja dalam kondisi tidak diawasi manusia, tetapi tetap merasa diawasi oleh Allah SWT. Inilah esensi ketakwaan yang sesungguhnya,” tegasnya.

Sebagai penguat pesan moral, mengangkat kisah keteladanan Jenderal Polisi Hoegeng yang dikenal sebagai figur aparat dengan integritas tinggi.

Menurutnya, Hoegeng menjadi bukti bahwa jabatan adalah amanah yang harus dijalankan dengan kejujuran, kesederhanaan, dan keberpihakan pada kepentingan masyarakat luas.

Melalui khutbah tersebut, Roissudin juga mengajak seluruh elemen, khususnya aparatur negara dan masyarakat, untuk menjadikan ketakwaan sebagai fondasi dalam bekerja dan melayani.

Ia optimistis, dengan integritas yang terjaga dan produktivitas yang meningkat, kepercayaan publik akan semakin kuat dan keberkahan dalam setiap tugas dapat diraih.

Sebagai penutup, ia mengutip hadis Riwayat Bukhori Muslim yang menegaskan setiap Muslim adalah pemimpin yang kelak dimintai pertanggungjawaban :

“Ketahuilah bahwa setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpin”(HR.Bukhori). (*/tim)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search