Terangi Rumahmu dengan Cahaya Al-Qur’an, Bukan dari Layar Gadget

Ustaz Munahar (kanan) dalam Podcast Solusi Lazizmu KP Jatim. (sc)
www.majelistabligh.id -

Banyak keluarga Muslim saat ini merasa hidupnya hampa atau penuh konflik, meskipun secara materi serba kecukupan. Rumah mungkin luas dan terang benderang oleh lampu kristal, namun jiwanya gelap. Fenomena yang sering terjadi adalah rumah tidak lagi terterangi oleh bacaan Al-Qur’an, melainkan oleh cahaya gadget dan tontonan yang menjauhkan dari Allah.

Hal ini disampaikan oleh Ustaz Munahar, S.H.I, M.Pd, Sekretaris Majelis Tabligh PWM Jatim, dalam Podcast Solusi (Sudut Obrolan Penuh Inspirasi), Lazismu KP Jawa Timur yang langsung dipandu oleh Zaky Dharmawan. Dalam Podcast Solusi dengan tema “Menanamkan Cinta Al-Qur’an dalam Keluarga Muslim” tersebut, Ustaz Munahar membagikan kunci penting untuk mengembalikan cahaya Al-Qur’an ke dalam rumah tangga.

Menurut Ustaz Munahar, Al-Qur’an adalah map atau panduan hidup agar manusia tidak tersesat. Cahaya Al-Qur’an bukanlah cahaya fisik, melainkan cahaya yang masuk ke hati, membuat pikiran tenang, dan jiwa tentram.

“Tanpa panduan ini, keluarga akan mudah terjebak dalam konflik berkepanjangan yang berujung pada tingginya angka perceraian,” tambah Ustaz Munahar.

Kenyataan yang terjadi saat ini, banyak keluarga yang rumahnya sangat besar, memiliki banyak kendaraan, lampu rumah dengan watt yang besar, tetapi di dalamnya banyak terjadi konflik. Mulai konflik suami-istri, orang tua-anak dan lain-lain.

Langkah Praktis Menanamkan Cinta Al-Qur’an

Untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Al-Qur’an, terutama pada anak-anak, Ustaz Munahar menekankan tiga poin utama:

  1. Orang Tua sebagai Role Model:  Anak adalah peniru yang handal. Jika orang tua ingin anaknya mencintai Al-Qur’an, maka orang tua harus terlebih dahulu menunjukkan interaksi yang intens dengan Al-Qur’an. Ibarat wewangian, jika orang tua “memakai” Al-Qur’an dalam kesehariannya, maka anak yang di dekatnya pun akan tertular wanginya.
  2. Mengajar Tanpa Memaksa. Mendampingi anak belajar Al-Qur’an membutuhkan proses dan kesabaran. Jangan memaksakan hasil instan yang justru memicu rasa jengkel. Gunakan metode passive learning: yakni Perdengarkan murrotal Al-Qur’an setiap hari (setelah Subuh atau saat pulang sekolah) dan Putar Al-Qur’an saat di dalam kendaraan. Lama-kelamaan, lisan anak akan mengikuti dengan sendirinya karena memori otak manusia sangat mudah menerima wahyu Allah.
  3. Membangun Ekosistem Al-Qur’an. Ciptakan lingkungan yang mendukung ( by design ). Keluarga harus memiliki visi yang sama untuk kembali ke Al-Qur’an. Hal ini bisa dilakukan dengan:
  • Menciptakan lingkungan rumah yang religius.
  • Memilih sekolah yang memiliki basis pendidikan Al-Qur’an yang kuat.
  • Jika memungkinkan, kantor atau tempat kerja juga menerapkan kebijakan membaca Al-Qur’an pada waktu-waktu tertentu.

Menanamkan cinta Al-Qur’an adalah investasi dunia dan akhirat. Al-Qur’an akan memandu hidup seseorang, memberikan keberkahan, dan mendatangkan pertolongan Allah bagi siapa saja yang mencintai wahyu-Nya. Mari jadikan rumah kita bercahaya dengan Al-Qur’an, bukan sekadar cahaya lampu atau layar gadget. ||chusnun

 

Tinggalkan Balasan

Search