Textbook Thinking

Textbook Thinking
*) Oleh : Ruli Alqodri Mustafa
Kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics and Social Studies – Cilegon, Banten.
www.majelistabligh.id -

Ada orang yang hafal isi buku manajemen bencana setebal bantal. Sayangnya, ketika banjir benar-benar datang, ia masih sibuk mencari bab Cara Menyeberang Genangan di daftar isi.

Itulah yang kerap disebut textbook thinking: cara berpikir yang menganggap buku selalu benar, sementara realitas dianggap keliru hanya karena tidak sesuai dengan teori.

Padahal, hidup bukan ruang ujian. Di lapangan, persoalan tidak pernah datang dengan pilihan A, B, C, atau D. Sering kali jawabannya justru, “semuanya kurang tepat, temukan cara baru.”

Filsuf Yunani, Aristotle, pernah mengingatkan bahwa kebijaksanaan lahir bukan sekadar dari mengetahui, melainkan dari kemampuan mengambil keputusan yang tepat dalam situasi nyata. Pengetahuan tanpa kebijaksanaan ibarat peta tanpa kaki—indah dipandang, tetapi tak pernah mengantarkan seseorang ke tujuan.

Satirenya, ada orang yang begitu percaya pada buku hingga lupa membaca keadaan. Ketika jalan ditutup, ia tetap bersikeras berjalan lurus karena di peta memang demikian. Yang dianggap keliru bukan petanya, melainkan kenyataan di depannya.

Tentu saja buku tetap penting. Buku adalah kompas, bukan borgol. Ia memberi arah, bukan membatasi langkah. Dunia terus berubah; karena itu, ilmu yang benar-benar hidup adalah ilmu yang mampu berdialog dengan realitas, bukan sekadar mengulang teori.

Hikmahnya sederhana: jangan menjadi manusia yang hanya pandai mengutip, tetapi gagap bertindak. Sebab, kehidupan tidak memberi nilai dari banyaknya teori yang kita hafal, melainkan dari seberapa arif kita menerapkannya.

Pada akhirnya, akal yang merdeka selalu lebih berguna daripada kepala yang hanya menjadi rak buku berjalan. Berpikirlah luas dan bersikaplah luwes. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search