Tidak Sekedar Retorika, Muhammadiyah Harus Menjadi Solusi Umat

Kiai Saad Ibrahim, dalam Halalbihalal dan Konsolidasi Program Majelis Tabligh PP Muhammadiyah.
www.majelistabligh.id -

Bermuhammadiyah bukan untuk membangun eksistensi personal, melainkan harus dibingkai nilai keimanan sebagai pondasi menjalankan amanah. Juga harus membangun kebanggaan kolektif (collective pride) terhadap Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan.

Hal itu disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Kiai Saad Ibrahim, dalam Halal Bihalal dan Konsolidasi Program Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, di Pusdiklat Tabligh Institute Muhammadiyah, Yogyakarta.

Kiai Saad Ibrahim meminta, membangun kebanggaan kolektif (collective pride) terhadap Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan. Namun kebanggaan tersebut tidak boleh berdiri secara otonom sebagai fanatisme kelembagaan.

“Kebanggaan harus senantiasa dikaitkan dengan iman, sehingga menjadi energi spiritual yang menggerakkan dakwah, bukan sekadar identitas simbolik,” katanya.

Sebagai entitas besar, Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari kemampuan untuk menjaga keberlanjutan gerakan. Oleh karena itu, program-program digerakkan melalui perencanaan yang matang.

Oleh karena itu, Majelis Tabligh PP Muhammadiyah didorong untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program-program yang telah berjalan, sekaligus merumuskan proyeksi ke depan guna memastikan keberlanjutan dakwah.

Dalam konteks ini, konsep legacy menjadi penting, yakni meninggalkan warisan kelembagaan yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga bernilai ideologis dan strategis.

Dia memandang, di dunia yang kompleks dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi informasi, dan keterbukaan global, mengubah lanskap dakwah secara drastis. Maka dibutuhkan kontekstualisasi dakwah sehingga relevan.

Pada era di mana seluruh ideologi dan keyakinan diuji secara terbuka, dakwah tidak lagi cukup disampaikan secara normatif, tetapi harus mampu menjawab kebutuhan rasional dan kontekstual masyarakat.

Menurutnya, keberhasilan Muhammadiyah tidak hanya diukur dari besarnya amal usaha atau capaian institusional, tetapi dari sejauh mana gerakan ini mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Muhammadiyah harus terus hadir sebagai solusi atas persoalan umat, seperti kemiskinan, ketimpangan sosial, dan keterbelakangan pendidikan. Dengan demikian, dakwah tidak berhenti pada tataran retorika, tetapi terwujud dalam aksi nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat,” tandasnya. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search