Bulan Juli telah tiba, membawa angin segar yang memicu kesibukan di berbagai sudut negeri. Di gang-gang sempit perkampungan hingga jalan protokol perkotaan, tiang-tiang bambu mulai dicat merah-putih, rapat-rapat RT digelar hingga larut malam, dan struktur kepanitiaan untuk menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia mulai dibentuk.
Ada kehangatan sekaligus nostalgia yang selalu berulang setiap kali kita mendekati bulan Agustus.
Namun, di balik riuh rendah persiapan lomba dan gemerlap lampu hias yang mulai dipasang, pernahkah kita sejenak merenungkan bagaimana pekik “Merdeka!” itu bisa lahir dan mengangkasa?
Kemerdekaan Indonesia bukanlah sebuah hadiah yang jatuh dari langit, bukan pula sekadar peristiwa heroik yang terjadi dalam satu malam pada 17 Agustus 1945.
Ia adalah sebuah mahakarya yang dirajut lewat keringat, darah, dan pemikiran besar bertahun-tahun sebelumnya.
Dan jika kita membongkar lembar demi lembar sejarah berdirinya bangsa ini, kita akan menemukan satu nama yang bertindak bagai jangkar sekaligus kompas: Muhammadiyah.
Lebih dari sekadar organisasi keagamaan, Muhammadiyah adalah salah satu motor penggerak dan pilar utama yang membentuk fondasi Indonesia modern. Jauh sebelum Bung Karno dan Bung Hatta maju ke depan mikrofon di Pegangsaan Timur, Muhammadiyah telah bekerja dalam senyap, menyiapkan cetak biru bangsa ini melalui Tiga Pilar Magis yang melandasi lahirnya Indonesia Merdeka.
Pilar Pertama: Perlawanan Sunyi Lewat Pena dan Bangku Sekolah
Penjajah menundukkan sebuah bangsa bukan hanya dengan moncong senjata, tetapi dengan taktik yang jauh lebih kejam: menjaga rakyatnya tetap bodoh dan inferior.
Sadar akan cengkeraman sistemis ini, KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada tahun 1912 di Yogyakarta dengan strategi yang sangat revolusioner pada zamannya: melawan lewat jalur pendidikan dan sosial.
Ketika akses sekolah formal hanya menjadi hak istimewa kaum bangsawan dan keturunan Belanda,
Muhammadiyah mendobrak sekat tersebut. Mereka membangun sekolah-sekolah modern untuk rakyat jelata, mengawinkan pendidikan agama dengan ilmu pengetahuan umum.
Tidak hanya itu, gerakan Panti Asuhan dan Rumah Sakit (PKO) didirikan untuk menolong kaum dhuafa.
Ini adalah bentuk “pemberontakan” yang elegan.
Muhammadiyah tidak langsung mengangkat senjata, melainkan memerdekakan pikiran rakyatnya terlebih dahulu.
Mereka memberantas buta huruf dan menumbuhkan rasa percaya diri bahwa bangsa bumiputera setara dengan bangsa mana pun di dunia.
Tanpa pilar pendidikan ini, proklamasi 1945 mungkin hanya akan menjadi mimpi di siang bolong, karena Muhammadiyah telah menyiapkan manusianya sebelum negaranya resmi lahir.
Pilar Kedua: Arsitek yang Merumuskan Rumah Bernama “Indonesia”
Ketika Perang Dunia II berkecamuk dan Jepang mulai terdesak, momentum kemerdekaan mulai terbuka. Dibentuklah BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Di dalam ruang-ruang sidang yang panas itulah, masa depan sebuah bangsa dipertaruhkan. Mau dibawa ke mana arah negara ini? Apa dasarnya? bagaimana bentuknya?
Di sinilah pilar magis kedua Muhammadiyah bekerja melalui tokoh-tokoh utamanya seperti Ki Bagus Hadikusumo dan KH. Mas Mansur. Mereka bukan sekadar hadir sebagai penggembira atau pelengkap kuota sidang.
Mereka adalah para pemikir inti, sang teolog sekaligus negarawan.
Ketika terjadi perdebatan sengit dan krusial mengenai dasar negara—yang sempat mengancam persatuan nasional—kedewasaan politik tokoh-tokoh Muhammadiyah diuji.
Demi menjaga agar Indonesia tidak pecah sebelum dilahirkan, dan memastikan bahwa wilayah dari Sabang sampai Merauke tetap bersatu, mereka dengan kebesaran hati yang luar biasa ikut merumuskan dan menyepakati Pancasila serta Pembukaan UUD 1945.
Mereka memastikan bahwa “rumah besar” bernama Indonesia ini memiliki fondasi yang kokoh, inklusif, dan cukup luas untuk mengayomi semua golongan, suku, dan agama.
Pilar Terakhir: Benteng Fisik di Atas Tandu Gerilya
Pekik kemerdekaan telah dikumandangkan pada Agustus 1945, namun ujian sesungguhnya baru saja dimulai.
Belanda kembali datang membonceng Sekutu, berniat merebut kembali tanah jajahan mereka. Dalam momen yang amat kritis, ketika ibu kota jatuh dan para pemimpin politik ditawan, republik ini membutuhkan keajaiban militer untuk bertahan.
Keajaiban itu bernama Perang Gerilya, dan sang dirigen utamanya adalah Panglima Besar Jenderal Soedirman.
Beliau adalah pilar magis ketiga yang merupakan kader tulen Muhammadiyah. Soedirman muda adalah seorang guru sekolah Muhammadiyah dan pemimpin pandu Hizbul Wathan (gerakan kepanduan Muhammadiyah).
Nilai-nilai kereligiusan, disiplin, dan keteguhan hati yang ditempa di Muhammadiyah membentuk karakter Soedirman menjadi sosok yang tak tergoyahkan. Dengan kondisi fisik yang digerogoti penyakit hingga hanya satu paru-paru yang berfungsi, Jenderal Soedirman menolak menyerah.
Di atas tandu sederhana, beliau memimpin pasukan keluar-masuk hutan belantara, melancarkan taktik gerilya yang membuat militer modern Belanda frustrasi.
Jika BPUPKI adalah perumus jiwa dan hukum Indonesia, maka Jenderal Soedirman adalah perisai fisik yang memastikan bendera Merah Putih tidak diturunkan secara paksa.
“Muhammadiyah tidak hanya ikut mendirikan tempat ibadah, tetapi telah meletakkan batu pertama, menyusun bata, hingga menjaga atap rumah besar bernama Indonesia tetap tegak.”
Kini, di tengah kesibukan kita menyiapkan perayaan HUT ke-81 RI, ada baiknya kita menyadari bahwa setiap umbul-umbul yang kita pasang dan setiap pekik “Merdeka!” yang kita teriakkan memiliki akar sejarah yang sangat dalam.
Kemerdekaan ini dirajut dari papan tulis sekolah Muhammadiyah tahun 1912, dari kompromi kebangsaan di ruang sidang BPUPKI, hingga dari batuk dan doa Jenderal Soedirman di tengah hutan gerilya.
Tiga pilar magis Muhammadiyah telah membuktikan bahwa nasionalisme dan religiusitas bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan, melainkan dua sayap yang menerbangkan Indonesia menuju kemerdekaannya.
Tugas kita hari ini, setelah 81 tahun merdeka, bukan lagi mengangkat senjata atau merumuskan undang-undang dasar, melainkan menjaga agar kapal besar bernama Indonesia ini tidak karam oleh polarisasi, dan terus melaju demi mencerdaskan serta menyejahterakan seluruh kehidupan bangsa. (*)
