Dalam dinamika kehidupan, masalah adalah satu-satunya hal yang pasti dialami oleh setiap manusia, dari tingkat pegawai hingga direktur. Meskipun bentuk dan kadar ujiannya berbeda, esensi “kepusingan” yang dirasakan sejatinya sama.
“Namun, ada sebuah rumus spiritual yang mampu mengubah beban menjadi anugerah,” kata Ustaz Adi Hidayat (UAH) dalam kajian yang berjudul “Rumus Menenteramkan Hati ketika Masalah dan Ujian Datang,” yang disiarkan melalui saluran Youtube Adi Hidayat Official.
Ia mengatakan, inti dari ketentraman ini bersandar pada prinsip La yukallifullahu nafsan illa wus’aha (Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya). Ujian yang datang bukanlah tanda kebencian, melainkan respons atas doa-doa yang pernah kita panjatkan. Seringkali manusia lupa bahwa jalan menuju sukses pasti melewati proses, dan proses itulah yang sering kali kita keluhkan.
“Tidak mungkin ujian ini tiba-tiba muncul di hadapan saya kalau saya tidak pernah berdoa. Saat minta sukses, Allah kasih jalannya. Tapi anehnya, ketika dikabulkan, kita malah marah. ‘Kenapa harus saya, ya Allah?'” tandasnya.
Pelajaran dari Luka Nabi di Taif
UAH juga menyoroti momen krusial dalam kehidupan Nabi Muhammad saw sebelum peristiwa Isra Mi’raj. Saat itu, Nabi menghadapi penolakan keras di Makkah dan berharap mendapatkan perlindungan di Thaif. Alih-alih disambut, beliau justru dilempari batu hingga terluka, begitu pula dengan pengikut setianya, Zaid bin Haritsah.
Ketika Malaikat Jibril turun menawarkan diri untuk menghimpit penduduk Thaif dengan dua bukit, Nabi justru menolak dengan penuh kasih sayang. Beliau berdoa, “Jangan lakukan itu, karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengetahui.”
Puncak ketundukan ini tergambar dalam doa Nabi yang luar biasa: “Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahan kekuatanku… Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli (dengan segala kesulitan ini).”
Dari sikap pasrah total inilah, undangan istimewa Isra Mi’raj turun sebagai bentuk kenaikan derajat dan ketentraman tertinggi.
Belajar dari Alam: Cacing dan Cicak
Sebuah analogi sederhana namun menohok disampaikan UAH, menggambarkan respons manusia terhadap ujian. Seekor cacing yang dipanaskan di wajan tidak akan mengeluh, “Aduh, panas!” Ia hanya bergerak menggeliat mencari cara untuk bertahan. Demikian pula cicak yang memakan nyamuk; ia tidak mengeluh bahwa makanannya bisa terbang sementara ia tidak.
Alam mengajarkan kita untuk fokus pada solusi, bukan keluhan. Manusia, yang dikaruniai akal dan kemampuan berbicara, justru sering terjebak dalam narasi “mengapa ini terjadi padaku”, alih-alih bertanya “apa yang harus saya pelajari dari ini?”.
Lantas, bagaimana cara praktis menyelesaikan masalah? Jawabannya adalah salat. Berbeda dengan ibadah lain seperti zakat (yang memiliki batas nisab), puasa (yang memiliki keringanan bagi yang tidak mampu), atau haji (yang wajib bagi yang mampu), salat adalah satu-satunya ibadah yang tidak memiliki alternatif penggugur kewajiban.
Allah Swt memerintahkan salat dalam segala kondisi: bagi yang mampu berdiri, maka berdiri; jika tidak, duduk; jika tidak, berbaring; dan jika tidak mampu bergerak, cukup dengan isyarat kedipan mata.
Sejarah para nabi membuktikan keampuhan ini. Nabi Zakaria AS yang divonis mandul secara medis, langsung dikabulkan doanya memiliki keturunan (Nabi Yahya AS) oleh malaikat saat beliau masih berdiri dalam salatnya. Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Ismail AS juga diperintahkan untuk mendirikan salat sebagai fondasi penyelesaian masalah.
Pada akhirnya, pesan yang ingin disampaikan sangat jelas: Tidak ada manusia yang bebas dari masalah. Namun, dengan menyadari bahwa setiap ujian adalah cara Allah meningkatkan kualitas hidup kita, dan dengan menjadikan salat sebagai tempat mengadu, maka ketentraman hati akan turun, dan masalah akan menemukan jalannya untuk selesai. (*/chusnun)
