Kajian Ahad Pagi Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wiyung kota Surabaya menghadirkan Imam Sapari, S.HI, MPdI, Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya di Masjid At Taqwa Perguruan Muhammadiyah Wiyung.
Kegiatan yang mengangkat tema Safar Tanpa Baper : Menghadapi Takdir Dengan Ridha dan Tawakal diikuti segenap Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wiyung, Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Wiyung, Pimpinan Ortom (PC PM, PC NA, PC IPM, Kwarcab HW, dan PC Tapak Suci Putra Muhammadiyah) Wiyung, Pimpinan dan anggota Ranting Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah cabang Wiyung, Kepala Sekolah dan Guru Karyawan (Daarul Huufad, TK ‘Aisyiyah 31, SDM 15, SMPM 17 dan SMAM 9), Kepala dan karyawan LKSA KH Mas Mansyur dan ‘Aisyiyah, dan segenap Takmir Masjid/Musholla cabang Wiyung, serta simpatisan Muhammadiyah Wiyung.
Dalam kajiannya, Ustaz Imam Sapari mengingatkan hidup ini sejatinya adalah sebuah safar yang sangat panjang. Kita semua adalah musafir; dunia adalah persinggahan ( mahallul ibrah ), bukan tujuan akhir. Seringkali, kita “baper” (bawa perasaan) berlebihan terhadap dunia.
“Kadang terlalu sedih saat kehilangan, terlalu sombong saat memiliki, atau terlalu cemas akan masa depan. Padahal, musafir yang bijak tahu kapan harus mengencangkan ikat pinggang dan kapan harus bersiap untuk sampai ke tujuan akhir,” jelasnya.
Dunia: Tempat Singgah, Bukan Tempat Menetap
Rasulullah SAW memberikan prinsip dasar bagi setiap “musafir” kehidupan dalam sebuah nasihat yang abadi:
“كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ”
“Jadilah engkau di dunia ini seolah-olah orang asing atau musafir (yang sedang melintas).““ (HR. Bukhari No. 6416).
Dalam perjalanan hidup, ada rute yang kita pilih dan rute yang Allah tentukan. Seringkali, kita merasa “baper” ketika hidup tidak sesuai dengan “Google Maps” impian kita. Kita marah ketika ada “tanjakan” berupa musibah atau “jalan buntu” berupa kegagalan.
Tawakal adalah bahan bakar utama perjalanan hidup. Banyak orang berhenti di tengah jalan karena merasa lelah berjuang sendirian atau kecewa karena hasil tidak instan.
“وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Artinya “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”(QS. At-Thalaq: 2-3).
Dalam setiap safar, musafir butuh bekal. Dalam perjalanan hidup, Allah menegaskan bahwa bekal yang paling esensial bukanlah harta atau relasi, melainkan ketakwaan.
“وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى”
Artinya : “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197).
Strategi Menjalani Safar Kehidupan;
1. Evaluasi Diri (Muhasabah)
2. Lepaskan yang Tidak Perlu
3. Teman Perjalanan (Shalih)
4. Digital Detox & Presence Menjaga Fokus di Tengah Distraksi
5. Growth Mindset & Reframing Kegagalan (Bukan “Baper”, tapi “Belajar”)
6. Legacy-Oriented Parenting : Membangun Visi melampaui Dunia
7. Emotional Agility” & “Deep Empathy”: Memvalidasi tanpa Menghakimi
Sebagai penutup, ustadz Imam Sapari mengingatkan pentingnya evaluasi diri (Muhasabah); fokus evaluasi diri setiap hari dan mendekatkan diri kepada Allah,.
Lepaskan yang tidak perlu, fokus pada tujuan, teman perjalanan (saleh); fokus pada lingkungan (circle) yang positif, digital detox; fokus pada realita – ketenangan jiwa & koneksi nyata, growth mindset; fokus pada hikmah – mentalitas tangguh & tawakal, legacy-oriented; fokus pada tujuan akhir – visi keluarga yang seirama, emotional Agility : Fokus pada relasi – komunikasi sehat & tanpa dendam.
“Kehidupan ini adalah safar yang singkat namun sangat menentukan. Jangan habiskan energimu untuk “baper” pada hal-hal yang akan kau tinggalkan saat ajal menjemput. Jadilah musafir yang tangguh, yang tetap tersenyum saat badai datang, dan tetap tawakal meski jalan terasa terjal. Karena pada akhirnya, perjalanan ini bukan soal seberapa cepat kita sampai, tapi seberapa selamat kita tiba di tujuan akhir dengan membawa,” pungkas ustadz Imam Sapari. (ali shodiqin)
