Masjid Muhajirin, Jalan Bendungan Sigura-gura, Kota Malang, menghadirkan Ustadz H. Abdurrrohim Sa’id, MA, Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Malang, sebagai Khatib dalam Khotbah Jumat (28/8/2026). Materi khutbah mengangkat pesan keislaman tentang pentingnya meneladani Rasulullah SAW dan menghidupkan sunah dalam kehidupan sehari-hari.
Khotbah yang disampaikan Ustadz Abdurrahim berfokus pada Nabi Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah atau teladan terbaik bagi umat Islam. Keteladanan tersebut tidak hanya diwujudkan melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui sikap, komunikasi, etika, dan kebiasaan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Dalam khotbahnya, dijelaskan bahwa kecintaan kepada Allah SWT dapat diwujudkan melalui ittiba’, yakni mengikuti ajaran dan perilaku yang dicontohkan Rasulullah SAW. Konsistensi dalam menghidupkan sunah juga diyakini menjadi jalan untuk memperoleh kecintaan Allah SWT dan ampunan atas dosa serta kesalahan.
Salah satu landasan utama yang digunakan ialah Surah Al-Ahzab ayat 21 yang menegaskan Rasulullah SAW sebagai suri teladan bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah SWT dan meyakini hari akhir. Pesan tersebut menjadi dasar untuk menjadikan keteladanan Rasulullah sebagai bagian dari kehidupan umat Islam.
Khatib juga memberikan contoh penerapan sunah sejak bangun tidur hingga kembali beristirahat pada malam hari. Umat dianjurkan mengawali pagi dengan doa sebagai bentuk rasa syukur, melaksanakan salat malam dan salat sunah dua rakaat sebelum Subuh, serta membiasakan diri menjaga adab dalam berbagai aktivitas.
Dalam hal makan, misalnya, umat dianjurkan mencuci tangan, menggunakan tangan kanan, duduk dengan tegak, dan menghindari meniup makanan atau minuman yang masih panas. Ketika keluar rumah, umat juga dianjurkan membaca doa tawakal sebagai bentuk kepasrahan dan permohonan perlindungan kepada Allah SWT.
Keteladanan Rasulullah dalam Kehidupan Sosial
Pesan keteladanan Rasulullah SAW juga ditekankan dalam kehidupan sosial dan profesional. Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai sosok pekerja keras yang pernah menjalankan profesi sebagai pedagang. Keteladanan tersebut dapat diterapkan melalui kejujuran, tanggung jawab, serta cara berinteraksi yang baik dengan sesama.
Dalam komunikasi, khatib memperkenalkan prinsip qawlan layyinah, qawlan sadidah, dan qawlan ma’rufah. Qawlan layyinah menekankan perkataan yang lembut, qawlan sadidah berarti perkataan yang benar dan jujur, sedangkan qawlan ma’rufah mengarah pada perkataan yang baik dan sesuai dengan norma.
Ketiga prinsip tersebut relevan diterapkan dalam kehidupan keluarga, lingkungan kerja, maupun masyarakat. Menjaga pilihan kata menjadi bagian penting dari akhlak karena komunikasi yang baik dapat mencegah seseorang menyinggung atau menyakiti perasaan orang lain.
Menjelang akhir hari, umat juga dianjurkan mengatur waktu istirahat dengan baik. Tidur lebih awal dapat membantu seseorang mempersiapkan diri untuk melaksanakan salat malam dan bangun pada waktu yang tepat. Hari kemudian ditutup dengan doa sebelum tidur sebagai bentuk kepasrahan kepada Allah SWT.
Melalui khutbah tersebut, Ustadz Abdurrahim mengajak jamaah untuk menjadikan sunah sebagai kebiasaan yang melekat dalam aktivitas sehari-hari. Meneladani Rasulullah SAW tidak berhenti pada simbol atau ritual, tetapi diwujudkan melalui akhlak, kejujuran, kelembutan dalam berkomunikasi, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap sesama.
Pesan ini sekaligus memperkuat pentingnya membangun kehidupan masyarakat yang berlandaskan nilai moral dan etika di era post truth saat ini. (Muhammad Salmanudin Hafizh Shobirin – Wakil Ketua Bidang Organisasi PCPM Klojen)
