Hikmah Maulid Nabi: Pemimpin Berani, Tegas Tanpa Arogansi

Hikmah Maulid Nabi: Pemimpin Berani, Tegas Tanpa Arogansi
www.majelistabligh.id -

Salat Jumat di Kompleks Masjid At Taqwa Mapolres Nganjuk Jawa Timur, Jumat (4/9/2026),
terasa seperti Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Pasalnya, Ibadah salat Jumat kali ini menjadi momentum untuk merefleksikan keteladanan Rasulullah SAW dalam pola kepemimpinan yang tegas, berani, dengan mengedepankan akhlak.

Pesan tersebut disampaikan Muhammad Roissudin, M.Pd, Ketua ICMI Kabupaten Nganjuk, dalam khotbah Jumat  bertema “Hikmah Maulid Nabi: Pemimpin Berani, Tegas Tanpa Arogansi.”

Menurutnya, Maulid Nabi semestinya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum menghadirkan kembali karakter kepemimpinan Baginda Rasulullah dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.

Ia mengawali khotbah dengan mengingatkan bahwa ketakwaan tidak semata-mata diukur dari ibadah ritual. Ketakwaan juga harus tercermin dalam akhlak, cara memimpin dan bagaimana seseorang memperlakukan orang lain. Ia mengutip QS Ali Imran ayat 159 yang menggambarkan kelembutan Rasulullah SAW dalam memimpin umat. “Ketakwaan bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga tampak dalam akhlak, cara memimpin, dan berinteraksi dengan sesama,” tegasnya di hadapan jamaah yang mayoritas berseragam Polri.

Prinsip tersebut semakin kuat dengan kutipan QS Al-Ahzab ayat 21 yang menempatkan Rasulullah SAW sebagai ‘uswah hasanah’ teladan terbaik bagi umat manusia.

Mengacu pada pemikiran George Manning dan Kent Curtis dalam buku berjudul ‘ The Art of Leadership’ , Mahasiswa S3 UIN Syarif Hidayat Jakarta ini menjelaskan enam karakter penting yang dapat menjadi pedoman kepemimpinan yang relevan pada konteks hari ini.

Karakter pertama adalah “Strong but not rude”, yakni kuat tetapi tidak kasar. Menurutnya, Baginda Rasulullah Muhammad SAW merupakan sosok yang sangat tegas dalam prinsip, tetapi tetap lembut dalam komunikasi.

Peristiwa Fathu Makkah menjadi salah satu gambaran ketika Rasulullah memiliki kesempatan untuk membalas perlakuan kaum Quraisy, namun memilih jalan pemaafan. “Tegas berbeda dengan kasar. Pemimpin yang kuat bukan pemimpin yang gemar membentak atau merendahkan orang lain, tetapi pemimpin yang mampu berdiri kokoh di atas prinsip tanpa kehilangan kelembutan,” ujarnya.

Karakter kedua adalah “Bold but not bully”, berani tetapi tidak menindas. Roissudin menggambarkan Rasulullah SAW sebagai pemimpin spiritual sekaligus panglima yang tidak hanya berada di belakang meja.

Beliau hadir langsung ketika umat menghadapi persoalan dan risiko. “Rasulullah adalah seorang panglima perang sekaligus pemimpin spiritual yang berani ‘turun gunung’ di medan perang, bukan sekadar menunggu laporan bawahan,” kata Pria yang juga aktif di Majelis Tabligh PWM Jawa Timur .

Namun keberanian tersebut tidak berubah menjadi perilaku kasar atau menindas. Karena itu, ia mengingatkan sabda Rasulullah SAW, “Kelembutan tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya” (HR Muslim).

Baginya, keberanian tanpa akhlak hanya akan berubah menjadi arogansi.

Karakter ketiga adalah “Humble but not timid”, rendah hati tetapi tidak rendah diri, dan karakter keempat “Kind but not weak”, baik hati tetapi tidak lemah.

Praktisi Filantropis ini menggambarkan Rasulullah SAW sebagai pemimpin yang dekat dengan masyarakat kecil dan tidak membangun sekat antara dirinya dengan umat. “Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Rasulullah SAW senantiasa dekat dengan fakir miskin, bahkan dikisahkan mengurus kebutuhan pribadinya sendiri.

Namun kerendahan hati itu sama sekali tidak menghilangkan kewibawaan beliau sebagai pemimpin umat,” jelasnya.

Menurutnya, pemimpin yang baik bukanlah pemimpin yang selalu ingin terlihat paling tinggi, melainkan yang mampu menempatkan diri bersama masyarakat tanpa kehilangan ketegasan dalam menegakkan keadilan.

Karakter kelima adalah “Proud but not arrogant”, bangga tetapi tidak sombong. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, Roissudin menilai setiap orang boleh memiliki kebanggaan terhadap identitas, profesi dan amanah yang dijalankan.

Namun kebanggaan harus tetap dibatasi oleh kerendahan hati. “Kita boleh bangga sebagai Muslim, Bangga dengan profesi sebagai abdi bangsa , sebagai pelayan masyarakat, tetapi jangan sampai melahirkan kesombongan,”pesannya.

Ia juga mengingatkan Q.S. Luqman ayat 18: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” Sementara karakter keenam adalah “Humor without foolishness”, yakni mampu bercanda tanpa merendahkan martabat orang lain.

Manusia Agung Rasulullah SAW, menurutnya, adalah layaknya manusia biasa sesekali bercanda dengan para sahabat, tetapi tetap menjaga kejujuran dan tidak menyakiti apalagi membully.

Menutup khutbah, Roissudin menegaskan bahwa enam karakter tersebut sangat relevan dengan kebutuhan kepemimpinan saat ini, ketika masyarakat membutuhkan figur yang bukan hanya memiliki kewenangan, tetapi juga keteladanan.

“Setiap kita, baik sebagai pemimpin keluarga, aparat negara, tokoh masyarakat, maupun setiap Muslim, harus menampilkan pemimpin yang kuat tetapi diiringi kelembutan, keberanian disertai kebijaksanaan, dan kewibawaan dibangun dengan akhlak,” tegasnya.

Karena itu, sebagai akhir khotbah, hikmah Maulid Nabi tidak cukup hanya dengan mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku nyata “Kita harus menjadi pribadi yang kuat tanpa kasar, berani tanpa menindas, baik tanpa lemah, rendah hati tanpa rendah diri, bangga tanpa sombong, serta mampu menghadirkan keceriaan tanpa kehilangan kehormatan.”pungkasnya. (*/tim) 

 

 

Tinggalkan Balasan

Search