Ibadah yang kita lakukan akan menjadi sia-sia apabila tercampur dengan kemusyrikan. Apabila suatu ibadah bercampur dengan kemusyrikan, maka ibadah kita tidak akan diterima.
Oleh karena itu, barangsiapa yang beribadah kepada selain Allah Ta’ala, maka ibadahnya batil. Sebab suatu ibadah tidaklah bermanfaat bagi pelakunya kecuali jika disertai dengan keikhlasan dan tauhid.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am [6]: 88)
Perbuatan syirik (mempersekutukan Allah) dapat menghapus dan melenyapkan seluruh pahala amal saleh yang pernah dikerjakan seseorang sehingga menjadi sia-sia.
“Lenyap” (Habatha): Amal baik seperti salat, sedekah, atau puasa menjadi tidak bernilai di sisi Allah dan tidak mendatangkan pahala di akhirat.
Dampak Kesyirikan: Syirik dianggap sebagai dosa besar yang merusak fondasi keimanan, sehingga menghapus seluruh amalan saleh yang menyertainya, sebanyak apapun kebaikan habis terdelet tidak bersisa sama sekali.
Untuk lebih mendekatkan pemahaman kita tentang hal ini, ada ilustrasi tentang kedudukan tauhid dan ikhlas dalam beribadah. Beliau rahimahullah mengatakan, ”Ketahuilah, sesungguhnya ibadah tidaklah disebut sebagai ibadah kecuali dengan tauhid (yaitu memurnikan ibadah kepada Allah semata, pen.). Sebagaimana salat tidaklah disebut sebagai salat kecuali dalam keadaan bersuci (thaharah). Apabila ibadah tersebut dimasuki syirik, maka ibadah itu batal. Sebagaimana hadas yang masuk dalam thaharah.” (Syarh Al-Qowa’idul Arba’, hal. 14).
