Ustaz Adi Hidayat (UAH) menegaskan pentingnya menuntut ilmu ibadah secara tuntas. Banyak umat Muslim yang telah menjalankan salat dengan benar secara hukum fikih, namun belum merasakan keberkahan dan dampak perubahannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau takbir sampai salam saja betul, bagus, sah salatnya, pahala dituliskan. Tapi barokahnya salat kita enggak dapat. Apa barokahnya? Membuat kita semakin lebih baik. Kalau tidak mengerti apa yang kita bacakan, prakteknya minim. Itulah yang menjadikan orang salat tapi lisannya masih kasar, tangannya masih berbuat maksiat,” ujar Ustaz Adi Hidayat.
UAH juga mengisahkan keteladanan sahabat Nabi, Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang senantiasa menangis saat takbiratul ihram karena benar-benar menghayati makna kepasrahan dan keagungan Allah Swt.
“Allahu Akbar, angkat tangan ke belakang, buang urusan dunia ke belakang. Jangan bawa-bawa dalam salat. Ini yang menyebabkan seseorang sering tidak khusyuk, karena dunia dibawa ke dalam salat,” tegasnya.
Indahnya Toleransi dan Keadilan Universal
Tidak hanya membahas hubungan vertikal dengan Sang Pencipta (habluminallah), ceramah tersebut mengupas etika berinteraksi sosial (habluminannas). UAH menegaskan bahwa ajaran Islam mendorong umatnya untuk berlaku adil, santun, dan penuh kasih sayang kepada siapa saja, termasuk tetangga atau rekan kerja non-Muslim.
“Ketika diatur hubungan muamalah atau interaksi sosial dalam kehidupan, Anda menemukan di dalamnya bukan hanya orang Islam tapi non-Muslim, maka hukumnya berlaku universal bersama-sama. Senyum Anda pada orang Islam harus sama dengan senyum Anda pada non-Muslim,” terangnya.
Beliau mencontohkan petunjuk Rasulullah saw terkait kebiasaan berbagi makanan hingga menjaga hak tetangga atas tanaman yang buahnya menjulur ke pekarangan sebelah.
“Jangan sampai tetangga menikmati dengan pandangan dan menyapu sampahnya saja, dia mendapatkan bagian yang sama untuk mengambil buahnya. Islam mengajarkan kebaikan itu untuk dirasakan bersama,” tambahnya.
Menutup tausiahnya, Ustaz Adi Hidayat mengingatkan jemaah mengenai kepastian kematian yang sering kali digambarkan sebagai momen “pulang”. Ketenangan saat berpulang sangat bergantung pada bekal pertobatan dan perbaikan diri yang dilakukan selama hidup di dunia.
“Setiap pulang itu biasanya senang kalau siap bekalnya. Kalau sedikit bekal atau tak ada bekal, tak siap kita pulang. Maka bawa dan terapkan tobat malam ini, dengan tobat gugur semua dosa,” tuturnya.
Mengutip kisah seorang hamba yang berniat bertobat setelah membunuh 100 orang namun meninggal di pertengahan jalan, beliau menyampaikan pesan penuh harapan tentang besarnya rahmat Allah bagi siapa saja yang berniat membenahi diri.
“Siapa yang bertekad mengubah dirinya menjadi lebih baik, kalau masih ada ajal hidupnya maka Allah akan limpahkan ketenangan di hatinya. Dan jika ia meninggal di pertengahan jalan saat menuju kebaikan, langkah kakinya dihitung sebagai penggugur dosa dan pengantar menuju surga,” pungkasnya. || disarikan dari Adi Hidayat Official dengan judul ‘’ Taubat, Jalan Tenang Menuju Pulang’’
