Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafi’i mengibaratkan ruang digital seperti sebilah pisau. Sifatnya netral dan tidak berbahaya dengan sendirinya, namun dampak yang dihasilkan—apakah melukai atau membawa manfaat—sepenuhnya bergantung pada siapa yang memegangnya.
“Jadi, bukan pada pisau atau senjatanya, tetapi the man behind the gun, the man behind the knife. Apakah ruang digital akan melahirkan hal-hal positif, jawabannya tergantung siapa yang menggunakannya,” ujar Romo Syafi’i di Jakarta, Jumat (12/6/2026).
Menurut Romo Syafi’i, pembentukan karakter yang kuat adalah kunci utama agar ruang digital tidak berbalik menjadi pemicu perpecahan. Pembentukan karakter ini membutuhkan kontribusi dari berbagai aspek, mulai dari nilai keberadaban, kesopanan, ajaran agama, hingga organisasi yang mampu membangun ikatan kolektif yang sehat.
Ia menegaskan bahwa tanggung jawab ini tidak boleh hanya dibebankan kepada lembaga pendidikan dan keagamaan. Organisasi sosial maupun politik juga memegang peran krusial dalam membangun kedekatan (bonding) positif di antara anggotanya.
“Ikatan positif inilah yang harus terus diperkuat. Ketika masyarakat masuk ke ruang digital dengan bekal tersebut, di situlah kebaikan-kebaikan akan lahir,” tambahnya.
Komitmen Merawat Kerukunan
Kementerian Agama (Kemenag) sendiri telah lama memanfaatkan ruang digital sebagai kanal untuk menyebarkan pemahaman keagamaan yang inklusif, sekaligus mempromosikan moderasi dan kerukunan. Wamenag menegaskan bahwa program kerukunan bukanlah agenda sampingan, melainkan prioritas utama Kemenag karena berdampak langsung pada keutuhan bangsa.
Langkah ini krusial mengingat persatuan bangsa sangat bergantung pada hubungan yang harmonis antar-kelompok masyarakat. Sebaliknya, gangguan pada kerukunan dapat membuka celah terjadinya perpecahan.
“Untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, perlu ada kekompakan. Potensi konflik akan muncul ketika kerukunan itu terganggu,” jelasnya. (*/tim)
