Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, mengajak Muhammadiyah Banten untuk mengambil peran yang lebih strategis dalam mendukung pemerataan kualitas pendidikan di Provinsi Banten. Menurutnya, Muhammadiyah memiliki kekuatan berupa modal sosial, sejarah panjang, serta jaringan kelembagaan yang luas sehingga mampu membantu mengurangi kesenjangan mutu pendidikan di berbagai daerah.
Pesan tersebut disampaikan Fajar saat memberikan arahan bertema “Arah Kebijakan Pendidikan Nasional dalam Mewujudkan Generasi Indonesia Unggul dan Berkarakter” pada Rapat Koordinasi Wilayah Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Banten yang berlangsung di Gedung Dakwah Muhammadiyah Banten, Kota Serang, Ahad (31/5/2026).

Fajar menjelaskan bahwa Banten memiliki karakteristik wilayah yang beragam. Sebagian daerah menghadapi tantangan akibat perkembangan perkotaan dan urbanisasi, sementara wilayah lainnya masih berjuang mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas.
“Keunikan Banten ini harus dibaca dengan cermat. Muhammadiyah Banten dapat menjadi penghubung dan jembatan yang mempertemukan berbagai potensi, sehingga kesenjangan mutu pendidikan antardaerah dapat diperkecil,” ujar Wamen Fajar.
Fajar yang juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis (LKKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menilai Muhammadiyah memiliki keunggulan berupa kepercayaan masyarakat, tradisi intelektual yang kuat, serta pengalaman panjang dalam mengelola lembaga pendidikan.
Ia juga memberikan apresiasi terhadap pandangan Ketua PWM Banten, M. Syamsuddin, yang menegaskan pentingnya Muhammadiyah menjalin kedekatan dengan berbagai kelompok tanpa kehilangan independensinya sebagai gerakan dakwah dan tajdid.
“Dekat dengan semua kelompok, terbuka terhadap kerja sama, tetapi tetap menjaga independensi. Itulah kekuatan Muhammadiyah yang membuatnya tetap relevan hingga hari ini,” ujarnya.
Menurut Fajar, sekolah-sekolah Muhammadiyah perlu terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman serta arah kebijakan pendidikan nasional. Adaptasi tersebut dapat diwujudkan melalui semangat ijtihad, inovasi, dan pembaruan, baik dalam tata kelola lembaga maupun proses pembelajaran.
“Pengalaman panjang adalah modal penting, tetapi pengalaman juga tidak boleh menjadi penghalang inovasi. Muhammadiyah harus terus bergerak maju,” tegasnya.
Lebih lanjut, Fajar mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti untuk memperkuat ekosistem pendidikan nasional melalui tiga fokus utama.
Pertama, meningkatkan kualitas infrastruktur pendidikan melalui program revitalisasi sekolah agar peserta didik dapat belajar di lingkungan yang aman, nyaman, dan memadai. Kedua, mempercepat transformasi digital pembelajaran melalui distribusi papan interaktif digital (PID) guna memperluas akses terhadap sumber belajar yang berkualitas. Ketiga, memperkuat kompetensi, kapasitas pedagogis, dan kesejahteraan guru sebagai faktor utama penentu mutu pendidikan.
Menurutnya, seluruh agenda tersebut bermuara pada tujuan besar menghadirkan layanan pendidikan berkualitas bagi seluruh anak Indonesia tanpa membedakan latar belakang sosial maupun lokasi tempat tinggal mereka.
Fajar juga menekankan pentingnya memperkuat budaya mutu dan orientasi pada kualitas di lingkungan Muhammadiyah. Hal ini selaras dengan pandangan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengenai pentingnya budaya ihsan dalam pengelolaan amal usaha pendidikan.
“Orientasi kita harus kualitas. Dalam tradisi Muhammadiyah, itu adalah budaya ihsan, yaitu menghadirkan yang terbaik dan terus melakukan perbaikan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Selain mengejar prestasi akademik, Fajar menegaskan bahwa pendidikan juga harus berperan dalam membangun kecerdasan sosial dan emosional peserta didik. Pendidikan tidak cukup hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga harus mampu menumbuhkan karakter, empati, daya tahan diri, serta kemampuan hidup berdampingan dalam keberagaman.
Pandangan tersebut sejalan dengan Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses yang menempatkan pembelajaran sebagai proses menyeluruh untuk mengembangkan kompetensi peserta didik secara optimal, mencakup aspek pengetahuan, karakter, kepekaan sosial, dan kematangan pribadi.
Karena itu, ia menilai peran guru Bimbingan dan Konseling (BK) semakin penting. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, perubahan pola interaksi sosial, serta meningkatnya tantangan kesehatan mental pada remaja, sekolah memerlukan sistem pendampingan yang lebih kuat agar peserta didik dapat berkembang secara sehat, aman, dan optimal.
Meski demikian, Fajar mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Keluarga tetap memegang peran utama dalam pembentukan karakter dan perkembangan anak. Dalam tradisi Islam dikenal ungkapan al-ummu madrasatul ula yang berarti ibu merupakan sekolah pertama bagi anak.
Ia juga mengutip temuan World Bank dalam buku Building Human Capital Where It Matters: Homes, Neighborhoods, and Workplaces yang menyebutkan bahwa kualitas sumber daya manusia tidak hanya dibentuk melalui pendidikan formal di sekolah, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, komunitas, dan tempat anak tumbuh.
“Pendidikan tidak bisa dibebankan kepada sekolah semata. Rumah harus menjadi pusat pendidikan karakter, sementara sekolah dan masyarakat menjadi mitra yang saling menguatkan,” pungkasnya.(*/tim)
