Wasiat Nabi Kepada Mu’adz Bin Jabal

*) Oleh : Dr. Ajang Kusmana
Pengajar Mata Kuliah AIK UMM
www.majelistabligh.id -

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رضي الله عنه قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ, أَوْصِنِي. قَالَ : اعْبُدِ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، وَاعْدُدْ نَفْسَكَ فِي الْمَوْتَى، وَإِنْ شِئْتَ أَنْبَأْتُكَ بِمَا هُوَ أَمْلَكُ بِكَ مِنْ هَذَا كُلِّهِ. قَالَ: هَذَا، وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى لِسَانِهِ

Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu anhu ia berkata, “Wahai Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam berikanlah wasiat kepadaku !” Nabi Shalallahu alaihi wa sallam menjawab, “Beribadahlah kepada Allah Shalallahu alaihi wa sallam seolah-olah engkau melihat-Nya. Dan persiapkanlah dirimu menghadapi kematian. Dan jika engkau mau, aku akan memberitahukan kepadamu suatu perkara yang mengendalikan semua itu.” Beliau bersabda, “Ini.” Beliau berisyarat dengan tangannya menunjuk kepada lidah beliau.”

Hadis ini hasan, diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman dan Imam Thabrani dalam Mu’jamul Kabie. (Lihat Silsilah al-Ahadis as-Shahihah, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Tahun 1415 H/1995 M, Maktabah al-Ma’arif li an-Nasyr wa at-Tauzi’, Riyadh, III/462).

Syarah Hadis

Nabi Shalallahu alaihi wa sallam memberikan wasiat kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu anhu dengan tiga perkara. Berikut ini penjelasan singkat dari tiga wasiat Nabi radhiyallahu anhu tersebut.

  1. Ihsan dalam Beribadah Kepada Allah Ta’ala.

Ini adalah wasiat pertama yang disampaikan Nabi kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu anhu. Yaitu wasiat untuk beribadah kepada Allah Ta’ala seolah-olah melihat kepada-Nya. Inilah yang disebut dengan ihsan dalam beribadah. Sebagimana disebutkan dalam hadis Jibril, dimana Nabi Shalallahu alaihi wa sallam ditanya tentang ihsan maka beliau menjawab:

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah Ta’ala seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim no. 1, 8 dari ‘Umar bin Khathab).

Makna Ihsan

Berkaitan dengan makna ihsan, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin mengatakan, “Ihsan (إِحْسَانٌ) adalah masdar dari fi’il (kata kerja) أَحْسَنَ  يُحْسِنُ yang bermakna memberikan kebaikan. Dan makna ihsan jika berkaitan dengan hak Allah Ta’ala adalah engkau membangun ibadahmu kepada Allah Ta’ala dengan keikhlasan dan mengikuti contoh Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam. Semakin engkau ikhlas dalam beribadah dan semakin meneladani Nabi-Nya maka engkau semakin berbuat ihsan. Adapun makna ihsan jika berkaitan dengan hak sesama hamba adalah engkau memberikan kebaikan untuk mereka, baik berupa harta, kedudukan, atau selainnya.

  1. Mempersiapkan diri untuk Menghadapi Kematian

Ini adalah wasiat Nabi Shalallahu alaihi wa sallam yang kedua kepada shahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu dalam hadis di atas. Yaitu wasiat untuk mengingat kematian dan mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Kematian adalah termasuk ketentuan dan takdir Allah Ta’ala yang pasti akan menghampiri setiap jiwa. Bagaimanapun seseorang menghindar darinya, kematian tetap akan mendatanginya.

Allah Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati”. (QS. Al baqarah : 185).

Dan Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ

“Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).” (QS. Az Zumar : 30).

Dan Allah Ta’ala berfirman:

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu diam dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisaa’ : 78).

Sebagai seorang yang beriman sudah selayaknya kita memperbanyak mengingat kematian dan menyiapkan bekal untuk menghadapinya. Nabi Shalallahu alaihi wa sallam bersabda dalam hadis Abu Hurairah:

أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هادم اللَّذَّاتِ

“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan (yaitu kematian).” HR. at-Tirmidzi no. 2307 dan Ibnu Hibban no. 2992.

Manfaat Mengingat Kematian

Banyak manfaat yang akan didapatkan seseorang jika ia memperbanyak mengingat kematian, diantaranya adalah:

  • Mendorong untuk lebih mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia. Demikian pula hal itu akan mengantarkannya untuk bersikap qana’ah (merasa cukup) terhadap perbendaharaan dunia. Karena ia memahami bahwa kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal abadi, sedangkan kehidupan dunia adalah kehidupan yang fana. Allah Shalallahu alaihi wa sallam berfirman: Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS. Al A’laa : 17).
  • Menjadikan seseorang merasa ringan dalam menghadapi musibah yang menimpanya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Shalallahu alaihi wa sallam dalam hadis Abu Hurairah :

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ : الْمَوْتَ , فَإِنَّهُ لَمْ يَذْكُرْهُ أَحَدٌ فِيْ ضِيْقٍ مِنَ الْعَيْشِ إِلاَّ وَسَّعَهُ عَلَيْهِ, وَلاَ ذَكَرَهُ فِيْ سَعَةٍ إِلاَّ ضَيَّقَهَا عَلَيْهِ

“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. Karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya di waktu sempit kehidupannya, kecuali (mengingat kematian) itu melonggarkan kesempitan hidup atasnya. Dan tidaklah seseorang mengingatnya di waktu lapang (kehidupannya), kecuali (mengingat kematian) itu menyempitkan keluasan hidup atasnya”. HR. ath-Thabarani dan al-Hakim. Lihat Shahih al-Jami’ as-Shaghir no. 1222, dan  Shohih at-Targhib, no. 3333.

  1. Menjaga Lisan

Allah Ta’ala telah menyebutkan dalam Al Qur’an bahwa ucapan manusia, yang baik maupun yang buruk semuanya dicatat. Dan manusia akan mempertanggngjawabkan apa yang ia ucapkan tersebut. Allah Ta’ala berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf : 18).

Adakalanya seseorang mengucapkan suatu perkataan yang dianggapnya sesuatu yang remeh tapi ternyata itu adalah suatu hal yang besar di sisi Allah Ta’ala. Dan adakalanya ia mengucapakan suatu perkatan yang dianggap tidak berbahaya tapi ternyata menyebabkanya terjerumus ke dalam api neraka.

Demikian pula Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda dalam hadis Abu Hurairah:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِى بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya masuk ke dalam  neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.” HR. Muslim no. 2988 dari Abu Hurairah.

Maka wajib bagi setiap muslim untuk menjaga lisannya supaya senantiasa berbicara dalam kebaikan, dan menjauhi perkataan-perkataaan keji, dusta, dan perkataan maksiat lainnya karena sadar atau tidak hal itu akan  mengantarkannya pada kecelakaan dan kebinasaannya. Demikian pula di antara konsekuensi keimanan seseorang adalah ia mengucapkan perkataan yang baik atau jika tidak maka diam. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search