Organisasi perempuan Muhammadiyah, Aisyiyah, telah membuktikan peran strategisnya dalam panggung sejarah bangsa jauh sebelum Indonesia merdeka. Mulai dari merintis pendidikan perempuan, ruang pengajian, tempat ibadah khusus, hingga layanan kesehatan, seluruhnya menjadi bukti nyata kontribusi Aisyiyah dalam mendorong martabat dan kemajuan kaum hawa.
Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Al-Islam Kemuhammadiyahan (LPPAIK) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Dr. Dikdik Dahlan Lukman, M.Hum. Ia hadir sebagai narasumber dalam Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat pada Selasa (09/06/2026).
Dalam kajian bertajuk “109 Tahun Kepeloporan Aisyiyah”, Dikdik memaparkan bahwa organisasi ini lahir pada 27 Rajab 1335 Hijriah atau bertepatan dengan 19 Mei 1917. Kehadirannya digagas oleh KH Ahmad Dahlan bersama sejumlah tokoh Muhammadiyah, serta didukung penuh oleh Nyai Ahmad Dahlan sebagai motor penggerak perempuan berkemajuan.
“Aisyiyah sejak awal didirikan bukan sekadar organisasi wanita biasa, melainkan sebuah gerakan pembaruan. Organisasi ini memberikan ruang bagi perempuan untuk belajar, berdakwah, berorganisasi, dan berkontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat,” ujar Dikdik.
Salah satu bukti awal pergerakan ini adalah Sopo Tresno, yang dinobatkan sebagai kajian rutin perempuan pertama di Indonesia. Dirintis sejak 1914 di Kampung Kauman, Yogyakarta, forum ini menjadi wadah bagi perempuan dan buruh batik untuk memperdalam ilmu agama, belajar membaca-menulis, serta memahami hak-hak perempuan dalam Islam.
“Aisyiyah hadir ketika akses perempuan terhadap pendidikan dan pengajian masih sangat diskriminatif. Oleh karena itu, gerakan ini mendobrak zaman dengan melahirkan ruang-ruang belajar yang emansipatif,” tambahnya.
Tak berhenti di bidang dakwah, Aisyiyah juga menginisiasi pendirian musala khusus perempuan pertama di Indonesia pada tahun 1922 di Kauman. Langkah berani ini lahir dari visi KH Ahmad Dahlan dan Nyai Walidah agar kaum perempuan memiliki ruang ibadah serta pusat pembelajaran agama yang mandiri, di tengah budaya yang kala itu membatasi ruang gerak perempuan di ranah publik.
Di sektor pendidikan anak usia dini, Aisyiyah menorehkan tinta emas dengan mendirikan Froebel Kindergarten Aisyiyah pada 21 Agustus 1919. Lembaga yang kelak bertransformasi menjadi Taman Kanak-Kanak Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA) ini tercatat sebagai taman kanak-kanak pertama yang didirikan oleh organisasi pribumi di masa Hindia Belanda.
Seiring berjalannya waktu, kiprah Aisyiyah merambah sektor kesehatan dan pendidikan tinggi. Pada 1963, mereka mendirikan Sekolah Bidan Aisyiyah demi mencetak tenaga kesehatan perempuan yang profesional. Perjalanan panjang tersebut terus berkembang pesat hingga berhasil mendirikan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA) pada tahun 2016.
Di akhir paparannya, Dikdik menegaskan bahwa seluruh capaian ini menjadi bukti konkret konsistensi Aisyiyah selama lebih dari satu abad dalam mengawal kemajuan bangsa. (*/tim)
