Di antara hadis yang sering dijadikan dalil oleh para ulama dalam pembahasan larangan menyentuh wanita non-mahram adalah sabda Nabi ﷺ:
> لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ
“Sungguh jika kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya.”¹
Hadis ini memiliki kedudukan penting dalam pembahasan fikih pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Meskipun tidak diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, para muhaddits telah memberikan perhatian khusus terhadap sanad dan kualitas periwayatannya.
Takhrij dan Jalur Periwayatan
Hadis ini diriwayatkan dari sahabat Ma’qil bin Yasar al-Muzani رضي الله عنه. Di antara kitab-kitab hadis yang meriwayatkannya adalah al-Mu’jam al-Kabir karya Ath-Thabarani, Musnad ar-Ruyani, dan Syu’ab al-Iman karya al-Baihaqi.²
Sanad yang paling masyhur adalah:
> معقل بن يسار
← أبو العلاء يزيد بن عبد الله بن الشخير
← شداد أبو طلحة الراسبي
← قتادة
← شعبة بن الحجاج
← عبد الله بن رجاء
← الطبراني
Para ahli hadis menjelaskan bahwa seluruh jalur yang dikenal kembali kepada seorang tabi’i bernama:
> شداد بن سعيد أبو طلحة الراسبي
Karena itu mereka menyebut:
> مدار الحديث على شداد أبي طلحة الراسبي عن أبي العلاء عن معقل بن يسار
“Poros sanad hadis ini berputar pada Syaddad Abu Thalhah ar-Rasibi dari Abu al-‘Ala’ dari Ma’qil bin Yasar.”³
Dalam ilmu hadis, mengetahui madār sanad sangat penting karena kekuatan atau kelemahan suatu riwayat sering kali bergantung kepada perawi yang menjadi titik sentral periwayatan.
Kajian Para Perawi
1. Ma’qil bin Yasar رضي الله عنه
Beliau adalah sahabat Nabi ﷺ yang terkenal dan seluruh sahabat dihukumi adil (‘udul) menurut kesepakatan Ahlus Sunnah. Oleh karena itu tidak terdapat pembahasan jarh wa ta’dil terhadap beliau.
2. Abu al-‘Ala’ Yazid bin ‘Abdullah bin asy-Syikhkhir
Beliau merupakan tabi’i senior dari Bashrah dan termasuk perawi yang digunakan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya. Yahya bin Ma’in, Abu Hatim, an-Nasa’i, dan Ibn Hibban menilainya sebagai perawi yang tsiqah.⁴
3. Syaddad bin Sa’id Abu Thalhah ar-Rasibi
Inilah tokoh yang menjadi poros sanad hadits ini. Para ulama memberikan penilaian yang cukup baik terhadapnya.
Yahya bin Ma’in berkata:
> ثقة
“Dia tsiqah.”⁵
Abu Hatim berkata:
> صالح الحديث
“Haditsnya layak dijadikan hujjah.”⁶
Ibn Hibban juga memasukkannya dalam kitab ats-Tsiqat.⁷
Sebagian kritikus hadis memang menyebut bahwa hafalannya tidak setingkat para imam besar seperti Syu’bah atau Sufyan ats-Tsauri, namun mereka tidak menilainya sebagai perawi yang lemah. Karena itu sanad hadis ini minimal berada pada derajat hasan.
Penilaian Para Muhaddits
Banyak ulama hadis yang menerima hadis ini dan menguatkannya.
Al-Mundziri berkata:
> رواه الطبراني ورجاله ثقات
“Diriwayatkan Ath-Thabarani dan para perawinya adalah orang-orang yang tsiqah.”⁸
Al-Haitsami berkata:
> رجاله رجال الصحيح
“Para perawinya merupakan perawi-perawi yang dipakai dalam kitab-kitab shahih.”⁹
Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani setelah meneliti seluruh jalurnya menyimpulkan:
> إسناده جيد
“Sanadnya baik.”¹⁰
Beliau bahkan memasukkannya ke dalam as-Silsilah ash-Shahihah dan menilai hadits tersebut shahih.
Istidlal dan Pemahaman Ulama
Para ulama menjadikan hadis ini sebagai salah satu dalil kuat tentang haramnya menyentuh wanita yang bukan mahram tanpa kebutuhan syar’i.
Hal ini diperkuat oleh hadits dari ‘Aisyah رضي الله عنها:
> وَاللَّهِ مَا مَسَّتْ يَدُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يَدَ امْرَأَةٍ قَطُّ
“Demi Allah, tangan Rasulullah ﷺ tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali (dalam baiat).”¹¹
Imam an-Nawawi ketika menjelaskan hadits-hadits semakna menegaskan bahwa larangan tersebut menunjukkan kewajiban menjaga diri dari sebab-sebab yang dapat mengantarkan kepada fitnah.¹²
Demikian pula Ibn Hajar al-‘Asqalani menjelaskan bahwa Nabi ﷺ meninggalkan sentuhan langsung terhadap wanita asing padahal beliau adalah manusia yang paling terjaga dari fitnah. Hal itu menunjukkan kesempurnaan kehati-hatian syariat dalam menjaga kehormatan dan kesucian masyarakat.¹³
Kesimpulan
Hadits:
> لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ
memiliki sanad yang berpusat pada Syaddad bin Sa’id Abu Thalhah ar-Rasibi dari Abu al-‘Ala’ Yazid bin ‘Abdullah bin asy-Syikhkhir dari Ma’qil bin Yasar رضي الله عنه. Mayoritas ahli hadits menerima riwayat ini dan menilainya hasan atau shahih. Oleh sebab itu, hadits tersebut menjadi salah satu landasan penting dalam pembahasan larangan menyentuh wanita non-mahram dan kewajiban menjaga batas-batas pergaulan yang telah ditetapkan syariat. (*)
Catatan Kaki:
1. Abu al-Qasim Sulaiman ibn Ahmad al-Tabarani, al-Mu’jam al-Kabir, ed. Hamdi ‘Abd al-Majid al-Salafi (Kairo: Maktabah Ibn Taymiyyah, 1994), 20:212, no. 486.
2. Al-Tabarani, al-Mu’jam al-Kabir, 20:211–212; Abu Bakr al-Ruyani, Musnad al-Ruyani (Beirut: Mu’assasat Qurthubah, 1995), 2:323, no. 1283; Ahmad ibn al-Husayn al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman (Riyadh: Maktabat al-Rushd, 2003), 6:585.
3. Abu al-Fadl Ahmad ibn ‘Ali Ibn Hajar al-‘Asqalani, al-Nukat ‘ala Ibn al-Shalah (Riyadh: ‘Imadat al-Bahth al-‘Ilmi, 1984), 2:713.
4. Yusuf ibn ‘Abd al-Rahman al-Mizzi, Tahdzib al-Kamal fi Asma’ al-Rijal (Beirut: Mu’assasat al-Risalah, 1980), 32:279–282.
5. Shams al-Din al-Dzahabi, Mizan al-I’tidal fi Naqd al-Rijal (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1963), 2:283.
6. ‘Abd al-Rahman ibn Abi Hatim, al-Jarh wa al-Ta’dil (Hyderabad: Majlis Da’irat al-Ma’arif, 1952), 4:370.
7. Muhammad ibn Hibban, Kitab al-Tsiqat (Hyderabad: Da’irat al-Ma’arif al-‘Utsmaniyyah, 1973), 4:362.
8. ‘Abd al-‘Azim al-Mundziri, al-Targhib wa al-Tarhib (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1996), 3:26.
9. Nur al-Din al-Haitsami, Majma’ al-Zawa’id wa Manba’ al-Fawa’id (Beirut: Dar al-Fikr, 1994), 4:326.
10. Muhammad Nashir al-Din al-Albani, al-Silsilah al-Shahihah (Riyadh: Maktabah al-Ma’arif, 1995), 1:448–449, no. 226.
11. Aisyah binti Abu Bakar, riwayat Muhammad bin Ismail al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, no. 7214.
12. Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Syarh Shahih Muslim (Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, 1972), 13:10.
13. Ahmad bin Ali Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari (Beirut: Dar al-Ma’rifah, n.d.), 13:204.
