Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Mulyorejo sukses menggelar perayaan Milad ke-109 ‘Aisyiyah di Aula SMP Muhammadiyah 10. Acara yang mengusung tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian” ini dihadiri oleh sekitar 150 pimpinan se-Cabang Mulyorejo.
Dalam sambutannya, Ketua PCA Mulyorejo, Dra. Hj. Zaenab Nailiyah, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) yang telah menyemarakkan milad di wilayah masing-masing.
“Sebagai wujud nyata kepedulian sosial, PCA Mulyorejo juga telah menggelar pemeriksaan kesehatan gratis serta membagikan 75 paket sembako dari Lazismu untuk warga yang membutuhkan,” ujar Zaenab dalam laporan kegiatannya.
Apresiasi senada juga datang dari Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Mulyorejo, Najib Sulhan. Ia menekankan bahwa di usia yang ke-109, ‘Aisyiyah harus terus bergerak dan menebar manfaat. Menurutnya, tantangan ke depan memang tidak mudah, namun dengan keyakinan kuat dan hati yang tulus, semua pengabdian bisa dijalankan dengan bahagia.
7 Karakter Perempuan Berkemajuan
Hadir sebagai narasumber utama, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Jawa Timur, Dra. Hj. Siti Dalilah Candrawati, M.Ag., mengupas tuntas mengenai profil perempuan berkemajuan. Ia memaparkan tujuh karakter utama yang harus dimiliki warga ‘Aisyiyah:
- Keimanan dan ketaakwaan yang kuat.
- Ketaatan dalam beribadah.
- Keluhuran akhlak (akhlaqul karimah).
- Berpikir tajdid (selalu melakukan pembaruan).
- Dakwah wasathiyah (moderat; tidak radikal dan tidak liberal).
- Gemar menjalankan amalan saleh.
- Bersikap inklusif (terbuka).
10 Komitmen Dakwah Nyata
Tidak hanya karakter, Siti Dalilah juga mengajak kader ‘Aisyiyah Mulyorejo untuk memegang teguh 10 komitmen perempuan berkemajuan dalam berdakwah, yang meliputi:
- Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
- Pelestarian lingkungan hidup.
- Penguatan keluarga sakinah.
- Pemberdayaan masyarakat.
- Filantropi berkemajuan.
- Menjadi aktor perdamaian.
- Partisipasi aktif di ruang publik.
- Kemandirian ekonomi.
- Peran aktif dalam kehidupan kebangsaan.
- Penegakan kemanusiaan universal.
Di akhir paparannya, Siti Dalilah mengingatkan bahwa dakwah ‘Aisyiyah tidak boleh hanya berhenti di atas mimbar, melainkan harus menyentuh realitas kehidupan sosial melalui aksi nyata.
“Khusus dalam hal perdamaian, ‘Aisyiyah harus menjadi pelopor kedamaian yang dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga. Dari keluarga yang sakinah, akan tercipta masyarakat yang baik (qoryah thoyyibah),” pungkasnya. (*/tim)
