#Perspektif Seri Epistemologi Qurani
Ada sebuah pertanyaan yang diulang oleh Allah sebanyak 31 kali dalam Surat Ar-Rahman. Bukan sekali, bukan dua kali, tetapi berkali-kali seolah mengetuk pintu kesadaran manusia yang tertidur. Pertanyaan itu sederhana namun mengguncang: “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Jika Allah mengulanginya sampai 31 kali, tentu bukan karena kekurangan kosakata atau karena sekadar pengulangan retoris. Ada sesuatu yang sangat mendasar tentang manusia yang sedang disingkap oleh Al-Qur’an. Sesuatu yang menjadi akar dari kegelisahan, kekacauan, bahkan keruwetan hidup yang sering dikeluhkan manusia sepanjang zaman.
Dalam perspektif Epistemologi Qurani, masalah terbesar manusia bukanlah kurangnya nikmat, melainkan ketidakmampuannya mengenali nikmat. Bukan karena Allah kurang memberi, tetapi karena manusia kurang menyadari. Al-Qur’an menggambarkan kehidupan sebagai hamparan tanda-tanda, ayat-ayat, dan karunia yang tak terhitung jumlahnya. Udara yang dihirup, air yang diminum, jantung yang berdetak, mata yang melihat, bumi yang dipijak, matahari yang menyinari, bahkan kesempatan untuk hidup hari ini adalah nikmat yang tidak pernah mampu dibayar oleh manusia. Namun anehnya, manusia sering merasa hidupnya sempit, berat, dan penuh masalah. Bukan karena nikmat itu tidak ada, tetapi karena perhatiannya telah bergeser dari apa yang ada kepada apa yang belum ada.
Manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk memperbesar kekurangan dan mengecilkan karunia. Ia dapat melupakan seribu nikmat hanya karena satu kesulitan. Ia dapat mengabaikan kesehatan yang masih dimiliki hanya karena satu penyakit kecil. Ia dapat melupakan keluarga yang mencintainya hanya karena satu orang yang mengecewakannya. Ia dapat mengabaikan puluhan keberhasilan hanya karena satu kegagalan. Akibatnya, cara pandangnya terhadap realitas menjadi tidak proporsional. Dunia yang sesungguhnya penuh nikmat terlihat seperti tempat yang penuh penderitaan. Kehidupan yang sejatinya dipenuhi karunia terasa seperti beban yang harus ditanggung setiap hari.
Di sinilah keruwetan hidup mulai lahir. Keruwetan tidak selalu berasal dari keadaan, tetapi sering kali berasal dari cara membaca keadaan. Dua orang dapat menghadapi masalah yang sama, tetapi menghasilkan pengalaman batin yang berbeda. Yang satu tetap tenang karena melihat begitu banyak nikmat yang masih tersisa. Yang lain tenggelam dalam kegelisahan karena hanya fokus pada apa yang hilang. Realitasnya sama, tetapi kesimpulan yang dihasilkan berbeda. Dalam bahasa Epistemologi Qurani, masalahnya bukan pada realitas objektif, melainkan pada cara manusia memahami realitas tersebut.
Karena itu Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang apa yang harus dilihat manusia, tetapi juga bagaimana manusia melihat. Surat Ar-Rahman adalah pelajaran tentang cara membaca kehidupan. Setelah menyebut penciptaan manusia, keteraturan alam semesta, lautan, tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, hingga nikmat dunia dan akhirat, Allah terus mengulang pertanyaan yang sama: “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Seolah-olah Allah sedang mengoreksi cara pandang manusia yang keliru. Seolah-olah Allah sedang berkata, “Aku telah menunjukkan begitu banyak nikmat. Mengapa engkau masih merasa hidupmu hanya berisi masalah?”
Banyak orang mengira bahwa sumber kebahagiaan adalah bertambahnya nikmat. Padahal Al-Qur’an mengajarkan bahwa sumber kebahagiaan yang lebih dalam adalah kesadaran terhadap nikmat. Sebab orang yang tidak mampu melihat nikmat yang dimilikinya hari ini tidak akan mampu melihat nikmat yang lebih besar esok hari. Ketidakpuasan bukan lahir dari sedikitnya karunia, tetapi dari hilangnya kemampuan untuk mensyukuri karunia. Karena itu, sering kali yang perlu ditambah bukanlah harta, jabatan, atau fasilitas hidup, melainkan kesadaran.
Kerusakan yang disebut Al-Qur’an sebagai fasad juga berawal dari titik yang sama. Ketika manusia tidak lagi melihat nikmat sebagai amanah, ia berubah menjadi tamak. Ketika ia tidak lagi melihat kecukupan yang Allah berikan, ia berubah menjadi rakus. Ketika ia tidak lagi melihat karunia yang ada di tangannya, ia mulai merebut yang ada di tangan orang lain. Dari sinilah lahir ketidakadilan, konflik, eksploitasi, dan berbagai bentuk kerusakan di muka bumi. Fasad yang tampak di luar sesungguhnya sering kali merupakan pantulan dari fasad yang lebih dahulu tumbuh di dalam cara berpikir manusia.
Maka mungkin selama ini kita salah mendiagnosis sumber keruwetan hidup. Kita menyalahkan keadaan, ekonomi, lingkungan, orang lain, bahkan takdir. Padahal bisa jadi akar masalahnya lebih dekat daripada yang kita kira, yaitu cara pandang kita sendiri. Kita terlalu sibuk menghitung apa yang belum diberikan Allah, sehingga lupa menghitung apa yang sudah diberikan-Nya. Kita terlalu sibuk mengeluhkan satu pintu yang tertutup, sehingga gagal melihat sepuluh pintu lain yang masih terbuka. Kita terlalu fokus pada kekurangan, hingga kehilangan kemampuan melihat kelimpahan.
Itulah sebabnya Allah mengulang pertanyaan yang sama sebanyak 31 kali. Karena penyakit manusia bukan sekadar kebodohan, melainkan kelalaian. Bukan kekurangan informasi, melainkan kekurangan kesadaran. Bukan kurang nikmat, melainkan kurang mampu mengenali nikmat. Dan selama penyakit itu masih ada, manusia akan terus meruwetkan hidupnya sendiri. Ia akan tetap merasa miskin di tengah kelimpahan, merasa sempit di tengah keluasan, dan merasa sengsara di tengah limpahan rahmat Allah.
Barangkali hidup ini sebenarnya tidak seruwet yang kita bayangkan. Barangkali yang ruwet adalah keinginan-keinginan kita yang tak pernah selesai. Barangkali yang ruwet adalah ego yang selalu ingin lebih. Barangkali yang ruwet adalah cara kita membaca kehidupan. Karena itu, sebelum mengeluh tentang hidup, sebelum menyalahkan keadaan, dan sebelum menyalahkan takdir, ada baiknya kita menjawab terlebih dahulu pertanyaan yang Allah ulangi 31 kali dalam Surat Ar-Rahman. Sebab boleh jadi seluruh keruwetan hidup manusia berawal dari satu hal yang sederhana: ia berhenti melihat nikmat Allah yang sesungguhnya sedang mengelilinginya dari segala arah. (*)
