Artificial intelligence: Nabi Muhammad Jadi Sosok Paling Berpengaruh di Dunia

*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Jika kita menanyakan pada Gemini.ai, siapakah orang yang paling berpengaruh yang pernah hidup di dunia? Ia akan menjawab Nabi Muhammad di urutan pertama, disusul Nabi Isa (Yesus) dan Isaac Newton.

Demikian juga tanyakan dengan pertanyaan yang sama pada chatgpt, jawaban nomor satu adalah Nabi Muhammad, kemudian Sir Isaac Newton, dan Nabi Isa (Yesus)

Juga saat pertanyaan yang sama kita tanyakan pada Cloude.ai, jawabannya juga menempatkan Nabi Muhammad yang paling utama, kemudian Nabi Isa (Yesus) dan Isaac Newton. Dilanjutkan dengan Konfusius, Buddha, dan Nabi Musa.

Ternyata kecerdasan buatan pun, memberikan pengakuan tertinggi pada Nabi Muhammad sebagai orang yang paling berpengaruh yang pernah hidup di dunia. Bahkan sejak dulu hingga kini, kisah beliau 14 abad lalu, terus menjadi teladan bagi umat Islam, dan menjadi rujukan dunia.

***

Bayangkan seorang pemimpin militer dan kepala negara yang sedang dalam perjalanan penting, tiba-tiba menghentikan pasukannya hanya karena melihat seekor unta yang menangis. Air mata mengalir dari mata hewan itu, dan ia seolah “mengadu” kepada sang Nabi karena ia dipaksa terus bekerja oleh tuannya.

Nabi Muhammad tidak langsung memarahi pemiliknya; ia memanggilnya, menegur dengan lembut, dan memerintahkan agar unta itu diistirahatkan.

Kisah ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Ini adalah potret nyata dari sosok yang mengubah dunia bukan dengan pedang, melainkan dengan empati yang tak bertepi.

Bukan tanpa alasan jika pada tahun 1978, sejarawan Amerika Serikat, Michael H. Hart, menempatkan Nabi Muhammad di peringkat pertama dalam bukunya yang fenomenal, The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History.

Hart menegaskan bahwa Nabi Muhammad adalah satu-satunya manusia dalam sejarah yang meraih keberhasilan luar biasa, baik dalam tataran agama dan kehidupan. Data modern semakin mengukuhkan posisi ini. Hingga pertengahan 2020-an, umat Islam telah mencapai hampir 2 miliar jiwa, menjadikannya agama dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Bayangkan, seperempat populasi bumi hari ini meneladani cara berjalan, cara makan, hingga cara tersenyum dari seorang Nabi yang hidup 14 abad silam di gurun pasir.

Pengaruhnya melampaui batas teologis. Piagam Madinah yang digagasnya pada abad ke-7 adalah tonggak awal konstitusi tertulis yang menjamin kebebasan beragama dan hak asasi manusia bagi berbagai suku dan agama, jauh sebelum Deklarasi Universal HAM PBB lahir.

Berkat ajarannya yang mendorong pencarian ilmu, perpustakaan-perpustakaan di Cordoba dan Baghdad menjadi pusat intelektual dunia saat Eropa masih dalam masa kegelapan, meletakkan batu bata bagi Renaisans Eropa.

Namun, mengapa ia begitu dicintai dan diteladani hingga detik ini? Jawabannya terletak pada kemanusiaannya yang paripurna. Di tengah masyarakat Jahiliyah yang merendahkan perempuan, Nabi Muhammad bersabda, “Surga berada di bawah telapak kaki ibu.”

Ketika dilempari batu di Thaif hingga berdarah, ia justru mendoakan keselamatan bagi mereka yang menyakitinya. Ia adalah seorang jenderal yang memaafkan musuh-musuhnya saat Fathu Makkah dengan ucapan “Pergilah, kalian bebas”, dan seorang suami yang tetap menambal pakaiannya sendiri serta memeras susu untuk keluarganya.

Nabi Muhammad tidak meninggalkan istana megah atau harta karun. Warisannya adalah Akhlaq (karakter) dan kasih sayang bagi seluruh alam (Rahmatan lil ‘Alamin). Dalam dunia yang sering kali terbelah oleh kebencian dan ego, relevansi sosoknya justru semakin terasa.

Ia membuktikan bahwa pengaruh sejati tidak diukur dari seberapa banyak orang yang kita taklukkan, melainkan dari seberapa banyak hati yang kita sentuh dan kita bebaskan. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search