Sudah entah berapa kali Yuk Jan membeli racun tikus. Berbagai merek telah dicoba. Ada yang berbentuk biskuit, bubuk yang dicampur umpan, hingga cairan yang katanya paling ampuh. Iklan-iklan di kemasan menjanjikan hasil yang sama, tikus akan mati dalam waktu singkat.
Namun kenyataannya berbeda.
Tikus-tikus itu tetap berkeliaran. Masih mencuri beras di dapur, menggerogoti kabel, dan meninggalkan jejak di setiap sudut rumah. Seolah-olah racun yang diberikan tidak pernah menyentuh tubuh mereka.
Yuk Jan mulai dipenuhi pertanyaan.
Apakah sekarang racun tikus sudah tidak mempan? Ataukah tikus-tikus zaman sekarang memang memiliki daya tahan tubuh yang luar biasa terhadap racun? Mungkin juga racun yang dibelinya palsu, atau kadar racunnya sudah tidak seperti dulu lagi.
Berbagai spekulasi memenuhi pikirannya. Setiap kali melihat seekor tikus melintas, keyakinannya justru semakin kuat bahwa suatu hari nanti racun itu pasti akan berhasil. Ia terus membeli, terus mencoba, dan terus berharap bahwa kematian tikus ada di dalam bungkus racun yang dibawanya pulang.
Semuanya hanyalah sebab. Dan sebab tidak pernah memiliki kekuatan sendiri. Ia hanya bekerja ketika Allah mengizinkannya.
Nabi Ibrahim tidak terbakar oleh api, padahal secara logika api pasti membakar. Allah hanya berfirman,
“Wahai api! Jadilah engkau dingin dan penyelamat bagi Ibrahim.” (QS. Al-Anbiya, 69)
Jika api saja dapat kehilangan sifat membakarnya karena kehendak Allah, mengapa kita begitu yakin bahwa racun pasti mampu membunuh seekor tikus?
Ironisnya, manusia modern sering kali lebih percaya kepada kandungan kimia daripada kepada takdir Rabb-nya. Seolah-olah angka persentase keberhasilan pada kemasan lebih meyakinkan daripada kalimat “Kun fayakun”.
Padahal, tanpa disadari, ia sedang memusatkan seluruh pikirannya pada alat, bukan pada kepastian.
Di balik semua dugaan manusia, ada satu kenyataan yang tidak pernah berubah, bukan racun yang menentukan hidup dan mati. Racun hanyalah sebab yang tampak di mata manusia. Adapun keputusan akhir tetap berada dalam ketetapan Sang Pencipta.
isa saja seekor tikus mati tanpa pernah menyentuh racun. Bisa pula ia memakan racun berkali-kali namun masih diberi kesempatan hidup. Sebab setiap makhluk telah memiliki ajal yang telah ditentukan.
Di ujung setiap kehidupan, bukan racun yang menunggu.
Di sana, Izrail hanya tersenyum manis.
Senyum yang mengingatkan bahwa manusia sering kali meyakini kekuatan sebab, sementara lupa kepada Zat yang menciptakan sebab itu sendiri. Kita terlalu sibuk mencari alat yang dianggap paling ampuh, hingga terkadang melupakan bahwa segala sesuatu hanya terjadi apabila Allah menghendakinya.
Begitulah hidup. Racun bukanlah penentu kematian, sebagaimana obat bukanlah penjamin kesembuhan. Semua hanyalah ikhtiar. Adapun hasil akhirnya tetap berada dalam kuasa Allah, Tuhan yang menggenggam kehidupan dan kematian setiap makhluk.
Maka, pelajaran terbesar dari kisah Yuk Janbukanlah tentang tikus yang kebal racun. Melainkan tentang hati manusia yang diam-diam menjadi bergantung kepada sebab.
Saat hati lebih percaya pada racun daripada kepada Allah, di situlah tauhid mulai retak—bukan karena racunnya terlalu lemah, tetapi karena keyakinan kita kepada Musabbibul Asbab lebih lemah daripada keyakinan kita kepada benda.
Dan di ujung sana, Izrail tetap tersenyum. Ia tidak pernah membawa racun, tidak pernah membawa obat, tidak pernah membawa senjata. Sebab ia tahu, ketika Allah berfirman, “Saatnya,” maka seluruh sebab di dunia menjadi tidak lagi penting.
https://lynk.id/faridfi
