Abdul Mu’ti: Pengamalan Al-Qur’an Harus Diperbarui secara Berkelanjutan

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti.
www.majelistabligh.id -

Al-Qur’an yang diturunkan pada 17 Ramadan bukan sekadar teks sejarah, melainkan petunjuk hidup yang dinamis (guidance for living). Namun, jika dibedah lebih mendalam, sisi paling substansial dari kitab suci ini adalah perannya sebagai petunjuk hidup yang senantiasa relevan dengan perkembangan zaman.

Hal tersebut ditegaskan oleh Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, dalam Pengajian Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang yang digelar di Griya Harmoni Amposari Timur, Kedungmundu, Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (14/6/2026).

“Dengan mengikuti Al-Qur’an, insyaallah hidup kita akan selamat,” ujar Mu’ti, yang juga menjabat sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.

Dalam konteks ini, Mu’ti mengingatkan bahwa keimanan harus dibuktikan melalui aksi konkret. Beliau mengkritik kecenderungan sebagian umat yang terjebak dalam “verbalisme”—hanya berhenti pada tataran kata-kata tanpa tindakan nyata.

“Sudahkah kita mengamalkannya? Kalau berupa perintah, sudahkah kita tunaikan? Kalau berupa larangan, sudahkah kita tinggalkan?” tantang Mu’ti di hadapan para jemaah.

Menurutnya, Al-Qur’an baru akan menjadi living guidance (petunjuk yang hidup) jika setiap ayat yang dibaca mampu diserap sarinya hingga ke jantung substansi paling dalam.

“Al-Qur’an menjadi petunjuk yang hidup kalau ajarannya kita baca dan pahami secara mendalam, serta pengamalannya terus kita perbarui,” terangnya.

Mu’ti memberikan contoh konkret mengenai implementasi Al-Qur’an melalui pendekatan mutakhir yang berkelindan dengan kehidupan modern, salah satunya lewat amal usaha Muhammadiyah di bidang kesehatan.

“Apakah rumah sakit yang didirikan Muhammadiyah sudah mencerminkan Islam berkemajuan?” tanyanya memantik refleksi.

Ia menekankan bahwa representasi utama dari sebuah rumah sakit Islam adalah kemudahan dalam melayani masyarakat yang membutuhkan pertolongan. Nilai pelayanan ini merupakan pantulan langsung dari ajaran interaksi sosial (muamalah) dalam Islam.

Yassiruu wa laa tu’assiruu, permudahlah dan jangan dipersulit. Wujud nyatanya ada pada pelayanan yang tidak berbelit-belit. Sudahkah kita begitu atau belum?” sentil Mu’ti.

Tantangan Mengelola Kesadaran Nilai

Lebih lanjut, Mu’ti mencontohkan perintah Al-Qur’an untuk berperilaku jujur. Menurutnya, tantangan terbesar umat saat ini adalah merumuskan indikator yang jelas dalam kehidupan sehari-hari.

“Bagaimana kita mengkonkretkan jujur itu? Ukuran-ukurannya apa?” tambahnya.

Ia mengakui bahwa di kalangan umat Islam masih ada kekurangan dalam menumbuhkan dan mengelola kesadaran nilai-nilai tersebut secara sistematis. Oleh karena itu, upaya membumikan seluruh nilai Al-Qur’an harus dinilai sebagai proses dinamis yang berjalan terus-menerus.

“Harus ada aksi nyata yang adaptif dan berbeda dalam mengamalkan Al-Qur’an sesuai tantangan zaman. Ini yang harus kita upayakan bersama,” pungkasnya. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search