Muktamar Muhammadiyah: Seni Suksesi Berwibawa, Bebas Drama, Penuh Hikmah

*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Muktamar Muhammadiyah masih sekira setahun lagi, yang akan digelar di Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (UMSU), Medan. Tetapi semaraknya sudah terasa sejak saat ini. Tidak ada konflik, yang ada berupa suasana yang menggembirakan, berkemajuan, siap menyambut siapapun yang akan memegang tongkat estafet kepemimpinan persyarikatan.

Seringkali publik hanya menyaksikan hasil akhir dari sebuah Muktamar Muhammadiyah. Namun, sedikit yang benar-benar memahami kedalaman dan keindahan proses di baliknya. Banyak yang mengenal hasil Muktamar Muhammadiyah, tetapi belum banyak yang mengetahui bagaimana proses memilih Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Fakta ini membuka tabir tentang sebuah sistem suksesi yang dirancang bukan untuk ajang popularitas, melainkan sebagai manifestasi dari kedewasaan berorganisasi yang berwibawa dan berkemajuan.

Mekanisme pemilihan berjenjang yang transparan dan akuntabel. Mulai dari penjaringan puluhan hingga ratusan nama. Melalui sidang tanwir disaring menjadi 39 nama. Akhirnya 39 nama itu dipiih oleh muktamirin yang memiliki hak suara dalam pleno untuk menentukan 13 anggota Pimpinan Pusat melalui sistem e-voting yang transparan. Proses yang berlangsung selalu mengedepankan rasionalitas dan musyawarah mufakat.

Anggota 13 terpilih inilah yang kemudian bermusyawarah untuk menetapkan Ketua Umum. Sistem ini secara alamiah mengikis ambisi pribadi, karena tidak ada tempat bagi siapapun untuk “merebut” atau “meminta” jabatan. Dalam budaya Muhammadiyah, jabatan adalah amanah berat, bukan hadiah yang harus dikejar.

Mekanisme ini secara cerdas menghilangkan ruang untuk “politik uang”, kampanye hitam, atau pembentukan “tim sukses” yang sering kali memicu perpecahan.

Muktamar yang Menggembirakan

Berbeda dengan narasi umum dinamika organisasi besar yang kerap diwarnai ketegangan, Muktamar Muhammadiyah konsisten menghadirkan suasana yang teduh dan menggembirakan. Dalam setiap gelarnya, nyaris tidak ada kisruh yang berarti. Tidak ada perebutan kekuasaan yang vulgar, tidak ada konflik tajam antar-kubu, dan tidak ada drama yang mengalihkan substansi perjuangan.

Yang ada hanyalah pesta demokrasi yang sehat, penuh dengan silaturahmi, dan fokus pada perumusan langkah-langkah strategis untuk kemajuan umat dan bangsa. Muhammadiyah secara konsisten mendorong adanya dinamika internal yang positif dan konstruktif.

Konsistensi Muhammadiyah dalam menjaga kemurnian proses suksesi ini menjadikannya sebagai contoh teladan (role model) yang nyata bagi organisasi masyarakat (ormas) lain di Indonesia. Sebuah organisasi yang besar tidak diukur dari seberapa ramai kampanye atau riuhnya perdebatan di dalamnya, tetapi dari seberapa berhikmah proses pergantian kepemimpinannya.

Bukti nyata dari keberhasilan budaya organisasi ini adalah warisan yang ditinggalkan. Muktamar Muhammadiyah selalu meninggalkan gedung megah yang bermanfaat untuk umat, bukan meninggalkan hutang, apalagi konflik yang berkepanjangan. Inilah yang disebut sebagai “Islam Berkemajuan” dalam tindakan nyata: sebuah sistem yang mampu mengelola ambisi individu demi kepentingan kolektif yang lebih besar.

Pada akhirnya, Muktamar Muhammadiyah bukan sekadar ajang seremonial pergantian jabatan. Ia adalah manifestasi dari visi “Beragama yang Mencerahkan” yang diusung secara konsisten. Proses suksesi yang berwibawa, tanpa konflik, dan penuh dengan kegembiraan, adalah bukti bahwa Muhammadiyah telah berhasil menjadikan dinamika organisasi sebagai bagian dari ibadah.

Pelajaran dari Muhammadiyah sangat jelas: bahwa kewibawaan organisasi tidak lahir dari suara yang paling keras atau dukungan yang paling vokal, melainkan dari proses yang paling jujur, transparan, dan penuh dengan spirit musyawarah. Di situlah letak kekuatan sejati sebuah peradaban yang terus bergerak maju. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search