Krisis Umat dan Jauhnya Pertolongan Allah

Krisis Umat dan Jauhnya Pertolongan Allah
*) Oleh : Dr. Slamet Muliono Redjosari
Wakil Ketua Majelis Tabligh PW Muhammadiyah Jatim
www.majelistabligh.id -

Al-Qur’an memastikan bahwa hamba yang melakukan ketaatan pada aturan Tuhan-nya secara totalitas, maka Allah datang menyelesaikan persoalannya. Kesabaran dalam menjalankan perintah Allah merupakan pra-syarat melakukan ketaatan. Oleh karenanya, Allah mengganjar dengan pahala yang amat besar ketika hamba-Nya menjalankan ketaatan. Ketaatan dalam menjalankan amal kebaikan seperti menegakkan sholat, mengeluarkan sedekah, atau sabar jelas mendatangkan simpati Allah. Sebaliknya ketika seorang hamba berani pelanggar perintah-Nya hingga berani menyia-nyiakan amanah, sibuk menumpuk memperkaya diri,  hingga lalai terhadap tugas menegakkan keadilan dan menunaikan amanah, maka Allah tidak akan mendatangkan pertolongan, dan membiarkan negeri ini dalam  berbagai krisis.

Ketundukan Beragama

Ketaatan kepada Sang Pencipta dalam menjalankan perintah agama menunjukkan hatinya tunduk dan tahu diri pada kebaikan Tuhannya. Hal ini jelas sebagai respon atas ketaatan pada Allah dan rasulnya. Kondisi yang taat, ringan bagi seorang hamba untuk melakukan kebaikan yang ringan, seperti berdzikir, maupun kebaikan yang besar, seperti berjihad di jalan Allah. Ketaatan yang demikian akan membuat hati tenang, bersatu dan kokoh dalam menerima perintah Tuhannya.

Sebaliknya, ketidaktaatan kepada perintah-Nya hanya akan melahirkan kerasnya hati hingga mudah berselisih dengan yang lain. Ketika hati sudah keras, maka sulit menjalankan kesabaran. Ketika hati keras maka ketika mendapat nasehat agama, maka melumpuhkan kekuatan dan gentar menghadapi musuh saat perang. Hal ini dinarasikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

Artinya :

وَاَ طِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَا تَنَا زَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَا صْبِرُوْا ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar.” (QS. Al-Anfal :  46)

Bukankah kuantitas umat Islam era sahabat sangat sedikit dan minoritas namun mereka bergairah dalam menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya. Mereka bersabar dalam menjalankan ketaatan meski menghadap cacian dan makian serta penghinaan orang-orang kafir yang jumlahnya mayoritas. Kesabaran dalam menjalankan ketaatan itulah yang mendatangkan pertolongan Allah hingga menang dalam peperangan menghadapi orang kafir Quraisy.

Sebaliknya, kondisi umat Islam saat ini tergolong mayoritas. Namun mereka dalam keadaan terhimpit dalam kesulitan besar. Kesulitan bukan hanya dalam bidang ekonomi, berupa kemiskinan dan marginalisasi, kesulitan dalam aspek politik dimana dipimpin para elite politik yang sangat korup dan serampangan dalam mengelola negara. Dalam bidang budaya, umat Islam menghadapi serangan budaya masif yang merusak generasi mudah, seperti bebasnya kelompok LGBT, pergaulan bebas, dan tersebarnya kemaksiatan yang suli terbendung.

Fitnah paling besar yang dialami umat berupa diamnya para ulama atas kemaksiatan sosial. Seolah mereka diam dan tak melakukan gerakan “Amar Ma’ruf Nahi Munkar.” Bahkan yang menyedikan elite agama justru asyik menikmati jabatan politik hingga buta terhadap negara yang dikuasai para penikmat dunia secara totalitas.

Pertolongan Allah

Al-Qur’an memastikan bahwa ketaatan agama secara totalitas akan mengundang pertolongan Allah. Al-Qur’an memaparkan pengalaman para nabi dan rasul yang sibuk dalam menjalankan perintah-Nya. Mereka menjadi hamba yang tenang, sekaligus berani. Tenang dalam menjalankan perintah, dan berani dalam menghadap berbagai ujian dan tantangan musuh. Nabi Musa begitu berani mendatangi Fir’aun yang terkenal bengis terhadap pihak manapun yang berbeda dengan pikirannya. Nabi Muhammad begitu tegar menghadap para pemuka Quraisy yang bersatu melawan dakwahnya.

Allah telah membantu dan menanamkan keberanian Rasul-Nya ketika menghadapi keriki-kerikil dakwah. Atas kesabaran itu, Allah mengirim bala bantuan yang menghentikan api perlawanan para musuhnya. Bahkan Allah memasukkan rasa takut kepada musuhnya ke dalam dadanya. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

اِذْ يُوْحِيْ رَبُّكَ اِلَى الْمَلٰٓئِكَةِ اَنِّيْ مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ۗ سَاُ لْقِيْ فِيْ قُلُوْبِ الَّذِيْنَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَا ضْرِبُوْا فَوْقَ الْاَ عْنَا قِ وَا ضْرِبُوْا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَا نٍ

Artinya :

(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.” Kelak akan Aku berikan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka pukullah di atas leher mereka dan pukullah tiap-tiap ujung jari mereka.” (QS. Al-Anfal : 12)

Bukankah Nabi Musa dan kaumnya diselamatkan Allah. Laut bisa terbelah dan menenggelamkan manusia paling kejam di muka bumi ini. Fir’aun dan tentaranya dihancurkan begitu mudah. Apa yang dialami Nabi Muhamamad dalam perang Badar menjadi saksi sejarah, dimana jumlah pasukan kaum muslimin hanya 313 namun bisa mengalahkan lebih dari 100 pasukan kafir Quraisy. Tentara malaikat dikirim Allah untuk menghinakan musuh hingga kaum muslimin memenangkan peperangan.

Allah bukan hanya mengirimkan tentara malaikat guna meneguhkan hati kaum mukminin tetapi juga menghilangkan rasa takut. Bahkan Allah menanamkan rasa gentar kepada musuh. Sehingga kaum Muslimin menang telak dalam perang Badar itu.

Pertolongan Allah tidak pernah diduga, dan datang di saat para hamba berada pada titik paling lemah dan pasrah pada kehendak-Nya. Pada saat kepasrahan total itulah Allah menolong dan mengirim bantuan-Nya sehingga kaum mukminn bisa terbebas dari kesulitan dan himpitan paling dahsyat.

Sementara pada saat ini, umat Islam diuji dengan berbagai krisis, baik krisis ekonomi maupun krisis politik. Krisis ekonomi karena perilaku elite politik yang sibuk menumpuk harta kekayaan dan mengeksploitasi sumberdaya alam. Krisi politik karena elite politik melepaskan amanah sebagai penguasa, dan hilang tanggung jawab sosialnya sebagai pemimpin. Empati dan simpatinya hilang terhadap nasib rakyatnya.

Rakyatnya yang menderita dalam kesusahan ekomoni mengalami pembiaran. Elite poltik sibuk merampok kekayaan property yang seharusnya diperuntukkan rakyatnya. Mereka melakukan pelanggaran hukum berupa korupsi dan berupa menghilangkan jejaknya, serta terbebas dari jeratan hukum. Mungkinkan pertolongan Allah datang di tengah situasi yang menginjak-injak harkat dan martabat serta nilai-nilai keadilan ?

Elite negeri ini seolah seolah-olah saling main mata membiarkan berbagai kemaksiatan ekonomi dan politik berlangsung. Mereka seolah menikmati orkestrasi carut marutnya negeri ini. Dengan kondisi ini, mungkinkah Allah akan membebaskan dan menurunkan pertolongan-Nya sehingga tegak keadilan dan tercipta kemakmuran? (*)

Surabaya, 28 Juli 2026

Tinggalkan Balasan

Search