Aksi Percaya Diri Kreator Konten Cilik dari Mojokerto

Rafandra, Kikan, dan Cinta didampingi oleh Ibu Maria, Ibu Ririn, dan Ibu Solihah. (nun)
www.majelistabligh.id -

Suasana Aula Mas Mansyur di Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Surabaya, penuh semangat, pada Rabu (29/7/2026). Di tengah riuk pikuk Acara Konsolidasi Pendidikan Muhammadiyah Jawa Timur, perhatian pengunjung ada yang tertuju pada tiga murid Sekolah Dasar (SD) Plus Muhammadiyah Brawijaya, Kota Mojokerto.

Dengan dibalut seragam batik berpadu rompi biru yang gagah, Rafandra, Kikan, dan Cinta tampak begitu anggun dan berwibawa. Kehadiran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, pada acara tersebut menjadi momen berharga yang tak ingin mereka siakan begitu saja. Ketiganya merupakan content creator cilik perwakilan sekolah yang siap beraksi meliput jalannya acara sekaligus memburu wawancara eksklusif.

Meski masih duduk di bangku sekolah dasar, ketangkasan dan mental bertatap muka dengan pejabat publik yang dimiliki Rafandra dan kawan-kawan tak bisa dipandang sebelah mata. Pengalaman mengasah keberanian di depan kamera sudah menjadi makanan sehari-hari bagi mereka. Tak main-main, sederet tokoh ternama dari Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah hingga PWM Jawa Timur sudah pernah mereka wawancarai.

“Saya sudah pernah mewawancarai Bapak Haedar Nashir. Saya senang sekali bisa bertemu beliau,” ujar Rafandra dengan nada polos penuh kebanggaan saat ditemui di lokasi acara.

Muka berseri dan senyum sumringah terpancar dari wajahnya. Keyakinan senada juga terpancar saat ia menatap riuh panggung utama. “Hari ini kami akan mewawancarai Bapak Menteri Abdul Mu’ti,” tambahnya mantap tanpa keraguan.

Keberanian dan performa apik ketiga murid ini tentu tidak tumbuh begitu saja secara instan. Meski baru mengecap pelatihan intensif selama satu tahun dari para gurunya, kemajuan pesat dan daya saing mental mereka di depan publik patut diacungi jempol. Di balik aksi percaya diri mereka, terdapat sinergi hebat dari tiga guru pendamping setia yang tak lepas memantau, yakni Ibu Maria, Ibu Ririn, dan Ibu Solihah.

Ibu Maria menjelaskan bahwa pembentukan tim content creator di sekolah bukan sekadar ajang bergaya di media sosial, melainkan bagian dari metode pembelajaran holistik modern. Lewat wadah ini, anak-anak diajak melatih keberanian berbicara dan interaksi sosial.

“Melalui tim content creator sekolah, kami memfasilitasi murid agar lebih percaya diri tampil di depan umum, sekaligus melatih jiwa kepemimpinan mereka sejak usia dini,” tuturnya penuh optimisme.

Langkah berani Rafandra, Kikan, dan Cinta menjadi bukti nyata bagaimana pendidikan dasar masa kini mampu mencetak generasi muda yang kritis, percaya diri, dan siap menjawab tantangan zaman sejak dini.|| chusnun

 

Tinggalkan Balasan

Search